by

Sherly Agustina M.Ag: Habits Menulis, Bisa Karena Biasa

-Opini-147 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Bagi profesional melakukan hal istimewa adalah hal biasa” (Ust Felix Siauw, buku Habits)

Habits adalah segala sesuatu yang dilakukan secara otomatis bahkan melakukannya tanpa berpikir. Dan Habits adalah suatu aktivitas yang dilakukan terus-menerus, sehingga menjadi bagian daripada seorang manusia, dia adalah kebiasaan. Kebiasaan manusia dalam keseharian banyak sekali. Dari mulai yang baik, biasa atau yang tidak biasa.

Habits ibarat autopilot pada diri manusia, yang menentukan bagaimana dia merespons terhadap satu kondisi tertentu atau pembiasaan response terhadap kondisi tertentu.

Dalam suatu penelitian, disampaikan bahwa dari 11.000 sinyal yang diterima otak manusia hanya 40 yang diproses secara sadar, sedangkan sisanya diproses secara otomatis.

Hasil penelitian lain juga menyampaikan setidaknya 95% daripada respons manusia terhadap satu kondisi tertentu terjadi secara otomatis. Wah, memang luar biasa makhluk ciptaan Allah ini.

Artinya respon kita terhadap satu kondisi tertentu, baik respon itu berupa pemikiran, perasaan ataupun perbuatan sesungguhnya berasal dari kebiasaan atau habits, yang secara otomatis terjadi pada diri manusia. Nah, bayangkan jika salah satu habits yang manusia miliki adalah menulis.

Maka akan menjadi energi bagi umat Islam terutama para pejuang literasi. Terlebih, saat ini era millenial, digital dan revolusi 4.0. Mengupayakan sarana ini dengan sebaik- baiknya agar risalah Islam bisa sampai tanpa dibatasi ruang dan waktu bahkan lintas dunia.

Bagi penulis pemula, karena belum terbiasa maka malu-malu dan kurang percaya diri. Jika sudah biasa, insya Allah akan percaya diri. Karena sambil menulis sambil menimba ilmu di mana-mana.

Learning by doing. Perbedaan antara bisa dengan tidak bisa itu sangat sederhana yaitu habits. Bisa karena biasa tak bisa karena tak biasa, sederhana. Maka jika ingin menjadi penulis yang produktif, mulai sekarang biasakan menulis.

Harus difahami, bahwa keahlian bukan sesuatu yang diwariskan sebagaimana klaim Darwin. Keahlian, adalah hasil pilihan, latihan dan pengulangan pilihan-pilihan yang telah dibuat. Dan bukan bakat yang lebih berpengaruh dalam keahlian /ketidakahlian seseorang, melainkan sesuatu yang lain yaitu Habits!

Seseorang yang sukses dalam mengemban dakwah memiliki ‘habits sukses pengemban dakwah’. Begitupun penulis ‘habits sukses penulis’. Habits bertanggung jawab terhadap kebaikan-kebaikan yang muncul.

Sebaliknya habits buruk juga bertanggung jawab atas buruknya kehidupan seseorang. Dalam prosesnya jika perlu seorang inspirator, maka boleh menjadikan seseorang sebagai inspirator yang membawa energi positif dan menjadi contoh di dalam dunia literasi salah satunya.

Menulis adalah bagian dari aktifitas dakwah. Lebih tepatnya, dakwah di dunia maya. Rasulullah Saw semasa hidupnya menghabiskan waktu untuk berdakwah.

Rasulullah Saw adalah suri tauladan bagi kita semua.

Teringat akan sebuah riwayat, Ibnu Qudamah pernah ditanya, “Siapakah sebenarnya orang yang paling berbahagia itu?” Ia menjawab, “orang yang bahagia sebenarnya adalah orang yang apabila nafasnya berhenti, pahalanya tetap mengalir..”

Aktifitas dakwah ini pahalanya mengalir menjadi amal jariyah, begitupun dengan menulis. Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang paling bahagia seperti riwayat di atas? Sebagai hambaNya dan umat Rasulullah Saw tentu sangat berharap.

Zaman now lebih tepatnya akhir zaman, dimana zaman serba fitnah, umat Islam ketika konsisten memegang Islam seperti memegang bara api. Apa yang harus dilakukan? Tetap Istiqomah di jalan Allah Swt, karena balasannya surga dari Allah Swt bagi yang istiqomah.

Saat ini umat Islam diserang dengan berbagai pemikiran yang rusak, yang tidak sesuai dengan Islam. Maka umat Islam harus mampu mengcover dan mengcounternya lewat media.

Media sosial menjadi salah satu sarana untuk meluruskan pemahaman dan opini yang rusak di tengah-tengah masyarakat. Jika dikatakan perang opini, bisa saja karena faktanya itu yang terjadi.

Namun, perang opini sesungguhnya bukan hanya perang data tapi juga perang mental.

“Siapa yang mentalnya lebih kuat dia akan menang, kekuatan mental harus dibangun dengan keyakinan. Keyakinan pada kebenaran, yakin pada Allah. Kalau penjahat ngotot, orang baik harus lebih ngotot. (KH Hafidz Abdurrahman)

Semakin hari umat Islam semakin semangat dalam membela agamaNya. Semakin ngotot di jalan kebenaran hingga Allah Swt menangkan agama ini.

FirmanNya:

“…Dialah Allah Swt yang mengutus utusan (Rasulullah Saw) dengan membawa petunjuk dan agama yang Haq, agar dimenangkan di atas semua agama. Dan cukuplah Allah Swt menjadi saksi.” (TQS. Al Fath: 28)

Allahu A’lam bi Ash Shawab.

Comment

Rekomendasi Berita