by

Siti Rahmah: Less waste, Remaja Milenial, Sayangi Lingkungan

-Opini-81 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Hai dear, apa kabarnya di tahun 2020 ini? Kalau lihat berita dibeberapa wilayah, Indonesia sekarang sedang berduka ya dear. Awal tahun ini ternyata disambut dengan berbagai musibah yang menimpa saudara-saudara kita. Bikin sedih, nyesek dan nggak tega ya lihatnya. Misalnya saja di ibukota yang bertepatan dengan malam pergantian tahun baru, Jakarta diguyur hujan deras yang mengakibatkan kota tersebut dan beberapa kota di sekitarnya direndam banjir.

Sebenarnya banjir ini bukan yang pertama terjadi tapi sudah jadi musibah tahunan yang terjadi saat musim penghujan datang. Untuk tahun ini ternyata tergolong besar dan parah lho. Dalam beberapa Vidio digambarkan banjir di Jabodetabek merendam kisaran 50cm sampai dengan 3 meter. Bahkan hingga Kamis (2/1/2020), dilaporkan jumlah korban yang meninggal karena banjir mencapai 29 orang. Innalilahi wa innailaihi rojiun.

Selain banjir yang melanda Jabodetabek, musibah awal tahun ini juga bermacam-macam. Seperti banjir bandang yang terjadi di Lebak banten, yang menewaskan 8 orang dan 1 orang masih belum ditemukan. Banjir ini terjadi di 6 kecamatan.

Akibat musibah ini sebanyak 635 unit rumah rusak berat dan 1431 rusak ringan. Banjir bandang yang disebut sebagai bencana terbesar yang pernah terjadi di Kabupaten Lebak juga merusak 18 jembatan, 16 masjid, dan menghanyutkan 9 mobil serta 55 motor.

Tidak jauh berbeda dengan masyarakat Banten. Di awal tahun ini, masyarakat Bogor juga menyambut pergantian tahun dengan musibah banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu (1/1/2020) lalu. Bencana alam ini telah meluluh lantakkan daerah yang berada di kawasan perbukitan itu.

Data sementara yang dihimpun pihak Kepolisian Sektor Cigudeg, banjir bandang dan longsor mengakibatkan 766 unit rumah rusak, enam orang meninggal dunia, tiga orang hilang, dan 34 orang terluka.

Kepedulian Kaum Millenial
Atas semua duka ini tentu kita bersedih ya dear. Tentu saja sebagai anak millenial kalian tidak bisa tutup mata dan abai dengan segala realita kerusakan yang diterjadi ditengah-tengah kita. Kita harus peka terhadap lingkungan sekitar, dan berusaha menemukan apa yang menyebabkan semua ini? Dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Apalagi bencana ini sudah terjadi turunan setiap tahun, perlu kiranya melakukan muhasabah dan perbaikan dalam segala bidang.

Tidak bisa kita menyalahkan alam, dengan datangnya musim hujan. Karena bukan itu pokok persoalannya. Hujan yang Allah curahkan justru adalah Rahmat yang akan mendatangkan keberkahan dan kelangsungan kehidupan alam semesta.

Tapi ternyata ketika manusia tidak bisa menjaga lingkungannya, Rahmat Allah ini berubah menjadi bencana yang tidak berkesudahan. Bahkan meluluhlantakan dan melenyapkan nyawa manusia-manusia yang tidak bersalah.

Bagaimana kaum milenial ini menunjukan kepedulian nya? Tentu saja banyak cara, dengan melakukan berbagai macam perubahan. Mulai dari yang terkecil sampai perubahan besar. Perubahan kecil itu seperti apa? Nah ini, nich program yang sedang dirintis oleh para guru kita tercinta, asatidz yang memiliki kepedulian besar terhadap lingkungan mulai membuat gebrakan dengan programnya less waste.

Less waste atau zero waste.

Dua istilah ini sering banget digunakan oleh pegiat dan pejuang pengurangan sampah dimana-mana. Konsep ini mengedepankan upaya pengurangan sampah sejak awal yaitu, menolak dan mengurangi hal yang tidak esensial, dan menggunakan kembali apa yang bisa digunakan.

Sebenarnya program ini bukan yang pertama, karena sebelumnya pemerintah juga sudah pernah mengusung program tersebut pada saat Asean games tahun 2018. Namun, sayang program ini masih belum berhasil.

Karena konsep Less Waste atau Pengelolaan Sampah adalah sebuah kegiatan bersama dimana seluruh stakeholder dan masyarakat harus memiliki kesadaran dan berkomitmen untuk melakukan pengelolaan sampah. Artinya tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya menjadi domain instansi pengelola sampah, tapi menjadi tanggung jawab bersama, termasuk kamu dear generasi milenial.

Walaupun peran mu kecil, tapi ketika dilakukan secara bersama-sama tentu saja ini akan memberikan dampak yang baik. Jika semua kaum milenial memiliki kesadaran menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dengan mengurangi penggunaan plastik. Misal membawa tumbler sendiri, tentu saja ini akan menyelamatkan kehidupan di masa depan.

Ulah Tangan Manusia
Lantas less waste ini apa hubungannya dengan musibah yang sedang marak terjadi di negeri kita? Tentu saja berhubungan. Tidak dipungkiri maraknya bencana disebabkan kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia. Manusia yang serakah, tidak mempedulikan keseimbangan lingkungan.

Seperti yang diakui oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menyebut, banjir yang terjadi di sejumlah wilayah akibat penggundulan hutan, penyempitan dan pendangkalan sungai hingga pembangunan yang jor-joran.

“Banjir terjadi di mana-mana, tidak usah saling menyalahkan karena ini kesalahan kolektif bersama,” kata Dedi melalui sambungan telepon, Kamis (2/1/2020).

Dedi menyebut, banjir juga disebabkan oleh pembangunan properti yang jor-joran, tanpa mengindahkan tanah rawa, sawah dan cekungan danau. Semuanya dibabat dan diembat.

Sehingga semakin membuktikan bahwa kerusakan alam ini terjadi akibat ulah tangan manusia. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dalam firmanNya

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Arrum 41)

Kemaksiatan besar itu berawal dari hal yang kecil, seperti abai terhadap lingkungan, tidak menjaga keseimbangan alam dan membiarkan sampah menjadi polemik. Hal itu ternyata akan berdampak besar ketika sudah menjadi kebiasaan bersama dan menggejala ditengah masyarakat.

Solusinya bagaimana? Tentu saja less waste hanya upaya kecil yang bisa dilakukan, upaya sesungguhnya yang bisa merubah dan menghindari bencana ini tentu dengan perubahan pola fikirnya dan perubahan sistem kehidupan.

Perlu adanya penyadaran yang menyeluruh ditengah masyarakat, bukan hanya sekedar penyadaran akan penting menjaga lingkungan tapi penyadaran akan pentingnya terikat dengan hukum Islam. Karena dengan itulah maka kerakusan dan kerusakan akan bisa dihentikan. WaAllahu alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita