by

Watini Alfadiyah, S.Pd*: Resolusi Umat 2020, Saatnya Dinar Jadi Pilihan

-Opini-148 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Setelah menyadari 2019 penuh dengan persoalan yang tidak bisa kunjung di selesaikan dengan sistem hari ini yaitu sistem kapitalis, tentu kesadaran umat mestinya mengarah pada penyelesaian persoalan dengan sistem Islam.

Wacana perekonomian dari rencana sejumlah negara Islam untuk menjadikan emas sebagai alat pembayaran pengganti Dollar AS yang disebut Pemrakarsa Modern Monetary Theory (MMT), oleh Mardigu Wowiek dinyatakan sebagai bagian dari upaya untuk melepas ketergantungan dolar, mengingat AS mencetak dolarnya tidak menggunakan jaminan emas.

Melalui dedolarisasi lewat penggunaan Dinar berbasis emas ini diharapkan bisa menjadi patokan mata uang sehingga nantinya inflasi akan bernilai 0 dan merubah tatanan ekonomi baru. Pengamat Pemrakarsa Modern Monetary Theory, Mardigu Wowiek menyatakan dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Kamis, 26/12/2019)

Adapun faktor penyebab terjadinya inflasi yaitu :
Pertama : bertambahnya uang yang beredar. Apabila barang yang dijual jumlahnya tetap, sedangkan uang yang beredar jumlahnya bertambah, maka harga barang akan naik.

Kedua : kenaikan biaya produksi. Naiknya bahan baku dalam produksi akan memaksa produsen meningkatkan biaya produksi, dan tentunya harga barang yang dijual akan naik.

Ketiga : tingkat suku bunga. Jikalau suku bunga naik, efektif mengurangi money supply tetapi meningkatkan suku bunga kredit di sektor riel sehingga menyebabkan inflasi.

Ke empat : kenaikan harga komoditi impor dan membengkaknya hutang luar negeri. Ini terjadi akibat terdepresinya nilai tukar terhadap dollar dan mata uang asing.

Dari adanya inflasi ekonomi yang kian terjadi hingga ketidakseimbangan dalam arti kesejahteraanpun belum bisa dinikmati oleh sebagian besar masyarakat kini ada wacana untuk memahami krisis ekonomi melalui pendekatan moneter. Dengan melalui dedolarisasi dengan melihat penggunaan dinar berbasis emas.

Krisis ekonomi merupakan kekacauan yang hebat dalam pengelolaan segala urusan kekayaan negara yang memerlukan pengerahan segala daya upaya untuk menghilangkannya dan mengembalikan kondisinya ke kondisi yang stabil dan seimbang.

Berkaitan dengan krisis ekonomi ini, tentu diperlukan pengkajian atas aspek-aspek yang penting serta berpengaruh secara signifikan terhadap perekonomian suatu negara. Aspek penting tersebut ada dua yaitu satuan alat tukar yakni uang dan anggaran belanja.

Satuan alat tukar yakni uang pada masa lalu berjalan menurut asas logam tertentu. Logam berharga yang terkenal sebagai uang pada masa itu emas dan perak. Transaksi keuangan dengan sistem mata uang emas ini terus berlangsung sampai sebelum perang dunia pertama, ketika negara saling berperang maka sistem transaksi emaspun ditangguhkan. Setelah berakhirnya Perang Dunia pertama, sejumlah negara mengadakan pertemuan di Jenewa tahun 1922, dan sepakat kembali pada sistem emas dengan beberapa penyesuaian dan pengurangan.

Namun, seruan untuk kembali pada sistem emas tidak berlangsung lama karena terjadi depresi global tahun 1929. Sehingga akhirnya transaksi keuangan dunia berlangsung secara semrawut sampai pecah Perang Dunia kedua.

Setelah Perang Dunia Kedua usai, pada 22 Juli 1944 sejumlah negara melakukan pertemuan di Bretton Woods, AS, dan bersepakat untuk kembali mengaitkan mata uang mereka dengan emas. Ketika interaksi keuangan (moneter) dunia berjalan berdasar sistem mata uang emas, dunia hidup dalam tahapan yang mapan, segala bentuk perdagangan dan sektor-sektor ekonomi bersifat riel dan menghapus sektor non riel, meninggalkan segala bentuk ribawi dalam segala transaksi, sehingga perekonomian dan keuangan berjalan stabil. Ketika sistem pertukaran berbasis emas lenyap, mulailah kekacauan keuangan terjadi hingga meredup dan terabaikannya kesepakatan Bretton Woods.

Akibatnya, kondisi keuangan bertambah buruk. Akhirnya, krisis semakin cepat terjadi dan menyatu dengan krisis yang lain.

Krisis multidimensi kini telah merenggut kehidupan, penyelesaian dengan solusi islam tentu jadi tuntutan zaman, namun bukan hanya berharap pada aspek maslahat dan di ambil secara parsial di satu aspek. Misalnya di bidang ekonomi dengan meninggalkan praktek Bancassurance agar tidak terulang kasus Jiwasraya, atau melakukan dedolarisasi dan menggunakan dinar agar nilai tukar uang kita stabil dan seterusnya.

Tentu solusi islam harus di ambil secara total mulai akar hingga daun, dari asas dan seluruh sistemnya, baik dalam sistem pergaulan, pendidikan, perekonomian, hukum, pemerintahan dan sebagainya. Hingga tampak mengadopsi sistem Islam secara keseluruhan/kaffah dalam kancah kehidupan. Dimana secara imani, kita harus yakin dengan diterapkannya syari’at Allah akan mendatangkan kemaslahatan.

Sebagaimana Allah berfirman : “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan”(TQS : Al- A’raf (7 : 96).

Dan secara empiris maupun historis, sistem Islam adalah sistem yang telah terbukti mengatasi beragam krisis yang memang kenyataannya hari ini tidak mampu di atasi. Demikian pula untuk menyelesaikan krisis keuangan maka tidak akan terwujud kestabilan ekonomi, perdagangan dan moneter kecuali dengan dinar berbasis emas.

Sementara sejarah membuktikan dengan diberlakukannya sistem Islam telah membawa kesejahteraan, kemuliaan dan kejayaan selama 14 abad lamanya. Wallahu a’lam bi as-showab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita