by

Watini Alfadiyah, S.Pd*:  Sistem Kapitalis Sekuler Membuat Masyarakat Stres Dan Frustrasi

-Opini-115 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di tengah semrawutnya permasalahan negeri terkait politik, ekonomi, sosial dan budaya membuat masyarakat stres dan frustrasi sosial.

Masyarakat berusaha mencari jalan keluar untuk kebutuhan zaman.

Dalam ranah mencari solusi, dilansir muncul beberapa kelompok kerajaan dan organisasi di Indonesia dan menggegerkan masyarakat:

1. Kerajaan Ubur-ubur muncul di Kota Serang, Banten pada 2018 lalu.
Kerajaan ini didirikan oleh sepasang suami istri berinisial AS dan RC.
Pasangan tersebut mengaku mendapat wangsit untuk mendirikan kerajaan dan membuka kunci kekayaan dunia.

Menurut keterangan Kapolresta Serang AKBP Komarudin sebagaimana dikutip tribun, Rabu (15/1/2020),  hasil pemeriksaan terhadap apa yang dilakukan oleh yang bersangkutan, dia didatangi oleh gaib, ditunjuk oleh pembuka pintu kekayaan dunia.

Untuk membuka pintu kekayaan, mereka harus melakukan ritual ala kerajaan ubur-ubur.

Ritual dilakukan dengan membaca doa dan dzikir setiap Kamis malam hingga Jumat dini hari sekitar pukul 04.00 WIB.
Kelompok itu juga memercayai nabi perempuan. Sang istri AS mengaku dirinya adalah ratu kidul.

Oleh MUI Kota Serang, kelompok yang memiliki belasan anggota tersebut dianggap sesat.

2. Gafatar
Persidangan ke -23 kasus dugaan makar dan penistaan agama terhadap mantan petinggi Gafatar dengan agenda persidangan yakni pembacaan pledoi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (16/2/2017).

Sekitar 2016 lalu, beberapa orang dikabarkan hilang secara serentak.
Orang-orang yang diketahui tergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), memutuskan meninggalkan kampung dan eksodus ke Kalimantan.

Menurut keterangan Kasubdit I Keamanan Negara Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri AKBP Satria Adhy Permana, para pengikut Gafatar berangkat dari rasa kebingungan.

Kebingungan tersebut lalu dimanfaatkan oleh para pengurus. Pengurus melakukan pendampingan terus-menerus kepada mereka.

Mereka wajib mengucapkan syahadat dengan mengakui Ahmad Musaddeq sebagai nabi menurut versi Millah Abraham. Bikin syahadat sendiri.

Kelompok itu juga memiliki buku bacaan wajib yang harus dibaca oleh setiap pengikutnya. Ada pula kaset CD deklarasi negara di daerah, akta aqiqah, akta pengorbanan hingga Tabloid Gafatar.

MUI mengeluarkan fatwa sesat bagi organisasi Gafatar. Gafatar dinilai mencampuradukkan atau sinkretisme tiga agama, yakni Islam, Kristen dan Yahudi.

3. Keraton Agung Sejagad
Kerajaan Agung Sejagat. Publik juga dihebohkan oleh keberadaan Keraton Agung Sejagad di Purworejo.

Dua orang mengaku sebagai raja dan ratu. Mereka adalah Toto Santoso yang menyebut diri Sinuhun dan ratunya, Fanni Aminadia.

Dari pemeriksaan polisi, Toto mengaku menerima wangsit dari leluhur dan Raja Sanjaya keturunan raja Mataram untuk meneruskan pendirian Kerajaan Mataram di Kecamatan Bayan, Purworejo.

Ia pun meyakinkan pengikutnya, jika ingin bernasib lebih baik maka harus bergabung dengan Keraton Agung Sejagat.

Hingga saat ini diketahui jumlah pengikut KAS mencapai 450.000 orang.
Tak hanya di Purworejo, pengikut tersebar di sejumlah daerah seperti Klaten dan Sumatera.

Para pengikut diiming-imingi jabatan ‘menteri’ namun harus menyetor iuran dalam jumlah beragam, hingga ratusan juta rupiah.

Polisi menangkap Toto dan Fanni. Keduanya dijerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

4. Sunda Empire
Warga di Bandung, Jawa Barat digegerkan dengan keberadaan Sunda Empire-Empire Earth.

Kelompok tersebut viral setelah salah satu akun Facebook membagikan foto-foto kegiatan Sunda Empire. Mereka tampak mengenakan seragam militer.
Sunda empire ini tidak tercantum sebagai organisasi legal dalam Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangol) Kota Bandung.

Jikalau ditelisik fenomena ini berangkat dari kisah peristiwa Ratu Adil, yang pada dasarnya bukanlah fenomena baru dan bahkan di dunia ini akan selalu muncul setiap waktu gerakan milenarianisme.

Milenarianisme adalah suatu keyakinan yang dianut oleh sekelompok orang ataupun gerakan dalam keagamaan, politik, atau sosial yang mempercayai adanya perubahan besar di masyarakat yang berlangsung dramatis di mana setelahnya  akan terbentuk kondisi yang positif, negatif atau bahkan malah tidak jelas.

Hal ini terjadi diawali oleh himpitan permasalahan dan masyarakat jadi stres dan berusaha untuk mencari alternatif gerakan-gerakan dengan membangun kerajaan sendiri. Di mana mereka menganggap bahwa gerakan-gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebutuhan zaman.

Dengan  munculnya  peristiwa-peristiwa tersebut sebenarnya menjadi sebuah pertanda bahwa kapitalis sekuler terbukti gagal mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.

Bagaimana kesejahteraan akan terwujud sementara rakyat justru berhadapan dengan naiknya tarif harga layanan publik yang membumbung tinggi, dicabutnya subsidi hingga nyaman tak dapat dirasa, malang tak dapat ditolak.

Keadilanpun hanya menjadi sebuah angan dan tidak bisa dirasakan oleh sebagian besar rakyat karena hukum tumpul keatas dan tajam ke bawah.

Begitulah gambaran nasib rakyat di negara korporatokrasi. Negara yang lahir akibat perselingkuhan antara birokrasi dan korporasi.

Seiring dengan itu kebijakan yang dibuat oleh birokrasi dikendalikan atau bahkan berpihak pada korporasi.

Akhirnya tak heran kalau terjadi banyak orang lebih tertarik dan bergabung dengan kelompok atau gerakan yang nyeleneh tersebut karena memang sedang mengalami kebuntuan mencari jalan keluar akan rumitnya persoalan yang dihadapi.

Hingga dengan mudahnya mereka tergiur tawaran yang sebenarnya sama sekali tidak rasional. Bahkan di satu sisi dimanfaatkan oleh kalangan tertentu dalam rangka mencari berbagai keuntungan materi.

Disisi lain pemerintah tidak juga mengambil tindakan tegas dan antisipatif meskipun kasusnya berulang hingga terjadi keresahan di masyarakat bahkan sudah menelan banyak korban dan kerugian harta.

Ternyata fenomena sejenis juga terjadi di berbagai negara yang dengan begitu semakin menunjukkan adanya kebobrokan dan kecacatan bawaan dari penerapan sistem kapitalis sekuler.

Karena tatanan masyarakat dibangun atas dasar pemisahan agama dari kehidupan. Jadi agama tidak dijadikan tuntunan dalam ranah kehidupan.

Dalam kondisi carut marut ini, masyarakat jadi stres itu menjadi persoalan yang wajar karena hidup mereka  tidak dituntun dengan aturan dari sang Mahapencipta.

Maka wajar muncul gerakan semacam ini dalam sistem kapitalis sekuler.

Berbeda dengan khilafah yang kini menjadi diskursus publik, hadir dan dibangun berdasarkan keimanan, dimana keberadaannya  untuk menegakkan islam secara kaffah.

Model pemerintahan islam dengan sebutan khilafah telah terbukti memberikan kesejahteraan dan keadilan kepada seluruh lapisan masyarakat dunia tanpa membedakan suku dan agama.

Model pemerintahan ini pernah diterapkan dalam kancah kehidupan manusia kurang lebih 1300 tahun/ 13 abad lamanya dengan menguasai 2/3 wilayah dunia dan kelak akan hadir kembali sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

“Di tengah kalian terdapat masa Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya.

Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.” Setelah itu Beliau diam. (HR Ahmad).

Itulah bisharah Rasulullah Saw bahwasannya kemudian khilafah akan tegak kembali untuk kedua kalinya. Wallahu A’lam Bi showab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita