by

Dinar Khairunissa: Hijab Sebagai Tanda Cinta Sang Pencipta

-Opini-131 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia dengan keberagaman agama dan budayanya, kembali terusik oleh sekelompok orang berusaha mengadu domba.

Gerakan No Hijab Day yang dicetuskan oleh sekelompok orang yang menamakan diri mereka Hijrah Indonesia, mengajak agar kaum perempuan dalam satu hari itu membuka jilbabnya, dan memposting foto mereka tanpa hijab itu di sosial media. Juga menyuruh mereka untuk memakai pakaian “nusantara” agar lebih terasa “Indonesia”.

Dalam satu hari itu, para perempuan yang asalnya terbiasa memakai hijab, bisa menikmati vitamin D dengan leluasa karena pakaiannya lebih terbuka, katanya. Sehingga vitamin D dari cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa ke dalam tubuhnya.

Setelah narasi jilbab tidak wajib yang di ucapkan istri alm. Gus Dur, kini kampanye No Hijab Day seolah menjadi pelengkapnya.

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa ada agenda yang memang sedang digaungkan. Tidak lain dan tidak bukan, menjauhkan umat dari syari’at islam.

Kampanye dan narasi-narasi yang seolah benar ini diharapkan dapat meracuni pemikiran dan akidah umat islam. Membuat opini seolah syari’at yang dijalankan itu terlalu kuno, bahkan tidak sesuai dengan budaya nusantara.

Berhijab sama dengan budaya Arab.

Menurut mereka, bercadar itu budaya Arab, bahkan celana cingkrang pun bagian dari budaya Arab. Seluruhnya tidak sesuai dengan konteks perintah dari al-qur’an yang sebenarnya,

Perintah hijab bukanlah wilayah yang di dalamnya ada perbedaan. Seluruh ulama terdahulu sepakat bahwa menutup aurat hukumnya wajib. Tidak ada perdebatan dan khilafiah.

Hijab bukanlah budaya Arab tapi perintah menutup aurat kala itu, membuat banyak wanita Arab serempak menggunakannya hingga menjadi budaya mereka dalam kesehariannya.

Kampanye ini, adalah efek dari bebasnya paham yang bertebaran dengan liar. Liberalisme yang merusak, feminisme yang mengakar dan sekulerisme yang menancap di tengah umat, menimbulkan benturan keras dengan pemikiran islam yang khas.

Padahal sudah jelas, Allah telah memberi peringatan yang keras bagi siapa saja yang melanggar perintahNya. Karena pengumbar aurat menjadi sebab utama tersebarnya perbuatan keji zina. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. [an-Nûr/24:19]

Pengumbar aurat bahkan tidak masuk surga, juga tidak akan mencium wanginya surga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat, (yang pertama): Kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukuli orang-orang. Dan (yang kedua): Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menggoda dan jalannya berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Para wanita itu tidak masuk surga, bahkan tidak mencium wanginya surga padahal wanginya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.”

Mengumbar aurat termasuk perbuatan yang mendatangkan laknat, dan itu termasuk ciri dosa besar. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

سَيَكُونُ آخِرُ أُمَّتِي نِسَاءً كَاسِيَاتٍ عَارِيَاتٍ عَلَى رُؤُسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ، الْعَنُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ

Akan ada di akhir umatku, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, di kepala mereka ada seperti punuk unta, laknatlah mereka karena mereka itu terlaknat!

Mengumbar aurat juga merupakan tindakan pamer maksiat, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ

Seluruh umatku diampuni (dosanya), kecuali mereka yang pamer dalam melakukannya.

Dan bila maksiat itu tidak diingkari, ia akan mendatangkan adzab bagi seluruh masyarakatnya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوْهُ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابِهِ

Sungguh bila manusia melihat kemungkaran, tapi mereka tidak berusaha mengubahnya, maka Allâh akan menurunkan hukuman bagi mereka semuanya.

Tanda Cinta dari Allah pada HambaNya

Seluruh peringatan yang Allah berikan, tentu bermakna cinta yang dalam. Allah memberikan aturan, lengkap dengan hadiah dan konsekuensinya. Hadiah dari ketaatan yang dijalankan pun tidak main-main. Berbuah pahala juga kebaikan bahkan sejak di dunia. Terlindungi dan terjaga dari segala mara bahaya.

Bukankah itu cinta?

Hanya saja, perintah Allah dalam berhijab harus dijalankan dengan dorongan takwa. Juga karena keimanan yang dalam dan menghujam. Melaksanakannya adalah bukti rasa cinta yang nyata, yang dipersembahkan bagi Sang Pemelihara.

Atas segala yang telah Allah berikan pada kita sebagai manusia, pantaskah kita protes untuk satu aturan yang bahkan kebaikannya berbalik pada yang menjalankan? Wallahualam bishawab. []

Footnote :

Read more https://almanhaj.or.id/4137-bahaya-mengumbar-aurat.html

Comment

Rekomendasi Berita