by

Ir. Novianti, M.Pd*: Stimulasi Sensorik Motorik vs Alat Gadget

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Orang tua banyak yang pusing mencari mainan untuk anak balitanya. Mainan yang dibeli kadang tidak bertahan lama karena digunakan tidak sesuai fungsi. Mirisnya adalah saat orang tua kehabisan akal, alat gadget menjadi pilihan.

Bukan hal yang aneh di manapun, kapanpun, terlihat anak balita asyik dengan alat gadgetnya. Berbagai aplikasi berhasil menyedot perhatian dan membuat anak bisa duduk lama menikmati seperti games, youtube. Keantengan anak membuat orang tua merasa aman anak berteman dengan alat gadget.

Padahal banyak informasi terkait bahaya alat gadget bagi anak. Namun informasi ini sering diabaikan dikarenakan bisa jadi dampak alat gadget tidak terlihat dalam waktu dekat, terutama pada bagian otak yang tidak bisa diindra langsung. Atau mereka tidak tahu kegiatan apa yang harus diberikan pada anak.

Apalagi persinggungan dengan teknologi adalah sesuatu yang sulit untuk dihindari saat ini.

Saat lahir ke dunia, sel-sel otak anak yang berjumlah kurang lebih 100 milyar dalam kedaaan yang belum tersambungkan. Kecerdasan anak ditentukan oleh jumlah sambungan sel otak.

Sambungan sel otak terjadi ketika ada stimulasi. Stimulasi yang dibutuhkan berupa ransangan melalui seluruh alat indra.

Semakin banyak alat indra yang digunakan akan semakin banyak sambungan sel otaknya dan semakin besar potensi kecerdasan anak.

Karenanya di masa balita, kegiatan main yang pertama kali dikenalkan adalah kegiatan main sensorik motorik. Kegiatan yang mengaktifkan syaraf sensorik motorik.

Syaraf sensorik adalah syaraf yang menyampaikan informasi dari luar ke otak. Sedang syaraf motorik adalah menyampaikan informasi dari otak ke seluruh tubuh.

Kegiatan main sensorik motorik memberikan ransangan pada indra pengecap, indra peraba, indra pendengaran, indra penglihatan, indra penciuman, ransangan pada persendian dan keseimbangan tubuh. Dan kegiatan main sensorik motorik tidak menyaratkan alat main yang mahal.

Justru alat main yang mudah diperoleh dan ada di sekitar seperti air, pasir, daun, aneka tanaman, aneka biji bijian, batu dan semacamnya.

Perhatikan bagaimana anak bisa asyik bermain air, pasir, mengulek tanaman, mengayak terigu. Mereka mengamati bentuk dan proses, mencium warna, merasakan tekstur, melatih ototnya, membedakan bunyi yang ada dan melatih keseimbangan tubuhnya saat melakukan berbagai gerakan.

Dengan permainan ini, anak tidak ada bosan-bosannya bereksplorasi. Mereka memperoleh fakta dengan cara menemukan.

Tanpa perlu banyak intruksi, anak kreatif melakukan berbagai cara untuk mengetahui fakta lebih banyak tentang benda.

Namun, agar kegiatan mainnya berkualitas, dibutuhkan pendampingan agar tahapan main sensorik motoriknya meningkat dan anak memperoleh informasi yang kaya sebagai maklumat tsabiqoh (pengetahuan awal) untuk memaknai setiap proses.

Pendamping mengenalkan warna air, sifat air, tekstur terigu, nama biji dan ciri-cirinya. Penyimpanan informasi ke dalam otak anak menjadi lebih mudah karena anak dalam keadaan senang.

Otak limbik yang berkaitan dengan emosi ibarat menjadi jalan tol bagi penyimpanan informasi ke bagian korteks, otak pusat berpikir.

Dengan kegiatan main sensorik motorik, anak diajak berfikir mendalam (at tafkir al ‘amiq) bahkan hingga mencapai berpikir cemerlang (at tafkir al mustanir).

Berpikir mendalam adalah mengindra fakta dengan melakukan eksperimen, mencari informasi lebih banyak, mengamati berulang-ulang dan mengaitkan berbagai informasi sehingga menemukan sebuah konsep.

Sedangkan berfikir cemerlang adalah selain mendalam dalam berpikir juga memikirkan segala sesuatu di sekitar fakta hingga mencapai kesimpulan yang benar.

Informasi akurat menjadi maklumat tsabiqoh (pengetahuan awal) menentukan untuk sampai pada taraf kecemerlangan berpikir. Informasi yang akurat dan pasti adalah informasi dari Al Quran.

Dengan kata lain kegiatan sensorik motorik tidak hanya menstimulasi seluruh panca indra tapi juga membangun iman. Aspek-aspek perkembangan lainnya seperti bahasa, sosial emosional, afeksi, motorik dan intelektualnya terbangun. Semuanya diarahkan pada pada satu tujuan bahwa semuanya pasti ada penciptanya yaitu Allah dan Allah sudah memberikan informasi berbagai fakta dalam Al Quran.

Meski banyak manfaat kegiatan sensorik motorik bagi perkembangan anak namun banyak orang tua yang masih enggan memfasilitasinya.

Karena kegiatan sensorik motorik ini menimbukan “kekacauan” seperti basah, kotor sehingga terkesan berantakan. Padahal ini bisa disiasati dengan cara membuat prosedur main yang dikenalkan pada anak.

Seperti fokus saat bermain, bertanggung jawab untuk beres beres dan mengklasifikasi alat main. Anak hanya perlu contoh dan pendampingan yang konsisten bagaimana cara melakukannya.

Mendampingi kegiatan sensorik motorik ini memang membutuhkan perhatian serta kerja lebih keras. Berbeda saat anak bermain alat gadget. Anak asyik sendiri, tidak banyak bertanya, dan tempat dalam keadaan bersih dan rapih. Pendamping tidak terlalu direpotkan.

Tapi jika membandingkan efeknya pada otak, maka orang tua yang bertanggung jawab akan rela bermain kotor-kotoran, basah-basahan dengan anak. Hubungan orang tua-anak pun kian dekat karena selama bermain, terjalin komunikasi dan keterlibatan orang tua.

Tidak hanya anak yang berkembang tapi orang tua pun dipaksa belajar. Kreatif merancang kegiatan main agar anak tetap memiliki daya tarik bermain sensorik motorik dan harus siap menjawab berbagai pertanyaan kritis yang anak ajukan.

Anak yang diajak main sensorik motorik akan kaya pengalaman sehingga tidak lagi terlalu tertarik bermain alat gadget. Bermain di dunia nyata lebih mengasyikkan daripada bermain di dunia maya.

Hanya orang tua yang rela meluangkan waktu dan kerja keras yang bisa melahirkan anak-anak yang mampu berpikir mendalam dan cemerlang.

Jadi, sangat disayangkan jika orang tua melewatkan kesempatan main sensorik motorik ini hanya karena tidak mau lelah dan berantakan lalu menjadikan alat gadget sebagai subtisusinya. Padahal ini akan melemahkan daya kreativitas dan semangat belajar anak.

Hasil biasanya sepadan dengan kerja keras. Sejatinya seperti apa anak tergantung seberapa besar usaha orang tua untuk membekali anak agar bisa mencapai potensi optimalnya. Bermain sensorik motorik adalah pilihan yang bisa dilakukan bersama anak. Dan akan terlihat, anak belum membutuhkan alat gadet ketika dunia nyata memberikan pengalaman yang menarik serta menantang.

*Pengelola TK Anak Sholeh Makassar dan Bekasi, Mudirah Sekolah Tahfizh Iqro Bekasi

Comment

Rekomendasi Berita