by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd: Studi Kasus, Faktor Penyebab Dan Solusi Pemerintah Soal Perceraian

-Opini-119 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kehidupan berumahtangga tak akan lepas dari konflik. Akan tetapi setiap orang pastinya berbeda-beda menapaki solusi terhadap permasalahan tersebut.

Jika pasangan suami istri mampu melewati konflik, maka permasalahan yang kemudian berujung pada muara pertengkaran sekalipun tidak akan menjadi problem.

Namun akan berbeda hasil jika benteng keluarga lemah dan ini bisa dipastikan akan berujung di simpang perceraian.

Studi kasus terhadap angka perceraian di Indonesia, khususnya di Jatim selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mirisnya salah satu angka perceraian yang tinggi terjadi di dua kabupaten, Gresik dan Lamongan.

Belum genap sebulan, ratusan istri di Gresik melayangkan gugatan cerai kepada suaminya. Rata-rata, para istri yang melakukan gugatan cerai terhadap suami, masih berusia produktif

Berdasarkan data Pengadilan Agama Negeri Gresik per Jumat (17/1/2020), ada 419 perkara yang diterima.(Tribunnews.com, 17/1/20).

Dikutip laman jpnn.com (23/1/2020), pada Januari 2020 terdapat 300 lebih kasus perceraian yang sudah diproses di pengadilan Lamongan.

Berdasarkan data, tingginya angka perceraian disebabkan alasan ekonomi dan ketidakharmonisan yang berujung pada perselingkuhan.

Faktor penyebab perceraian secara individu di antaranya:

1. Minimnya ilmu
Ilmu agama ataupun ilmu yang berkaitan dengan berumahtangga pastinya sangat berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga. Setiap pasangan akan memahami peran masing-masing sebagai suami istri. Jika tak memiliki bekal ilmu, bisa dipastikan tak akan memahami tujuan dan peran ketika berumahtangga. Pasangan yang memiliki ilmu lebih mendahulukan kewajiban  daripada menuntut hak.

2. Masalah komunikasi
Ketidaklancaran dalam hal komunikasi suami istri juga dapat menjadi pemicu konflik rumah tangga. Hal ini sering kali melanda pasangan suami istri yang baru menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketidakmampuan salah satu pasangan dalam berkomunikasi dan atau  salah satu pasangan merasa tidak nyaman berkomunikasi  dengan pasangan sering kali berujung dan menimbulkan disharmoni hubungan.

3. Kejenuhan dalam rumah tangga
Kejenuhan dalam rumah tangga pastinya akan melanda setiap pasangan suami istri. Apalagi jika keduanya tak saling menyadari dan saling menuntut kesempurnaan. Sehingga salah satu pasangan ataupun keduanya mencari sesuatu yang baru, misalnya selingkuhan.

Namun faktor penyebab perceraian sebenarnya tak hanya disebabkan oleh faktor individu semata. Secara sistemik, saat ini – kasus perceraian sangat terkondisikan untuk terus terjadi dan menimpa keluarga.  Faktor sistemis tersebut lebih mengakar kepada persoalan sebagai berikut:

1. Faktor ekonomi
Penerapan ekonomi kapitalis di negeri ini, menjadikan angka kemiskinan kian meningkat, lapangan kerja minim, daya beli masyarakat menurun.

Seorang suami yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga begitu sulit mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak, sementara kebutuhan hidup keluarga semakin banyak  sehingga sang suami tak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

2. Faktor sosial
Kehidupan sosial saat ini mengadopsi paham liberal. Dalam liberalisme ini tidak ada aturan yang baku terkait hubungan sosial. Maraknya media sosial didukung teknologi informasi yang begitu pesat saat ini juga menjadi salah satu penyebab ketidakharmonisan pasangan suami istri yang berujung perceraian.

Pola interaksi yang sangat “bebas” di media sosial seakan menghilangkan sekat dalam kaitan hubungan dan interaksi sosial antara pria dan wanita. Tak jarang suami atau istri tak paham batasan bermedsos sehingga memicu perselingkuhan.

3. Faktor agama
Pemahaman tentang aturan dan agama pastinya turut andil terhadap langgengnya kehidupan rumah tangga. Meskipun tak menjamin seseorang yang banyak menguasai ilmu agama bebas dari perceraian.

Pemahaman ini menjadikan setiap orang untuk berlaku baik terhadap siapapun termasuk dengan pasangannya. Misalnya si suami memperlakukan istri secara baik, begitu juga si istri akan taat pada suaminya. Keduanya lebih mendahulukan dan mengimplementasikan kewajiban bukan menuntut hak.

4. Faktor budaya
Telah sekian lama negara bekerjasama dengan negara-negara Barat sehingga tak sedikit budaya mereka kemudian menjadi bagian dari budaya negeri ini.

Misalnya paham feminisme yang didengungkan Barat, ternyata sukses diadopsi sebagian kaum perempuan. Pemikiran-pemikiran gender telah menggerogoti pemahaman kaum perempuan tak terkecuali para muslimah.

Kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam ranah kehidupan diagung – agungkan. Konsep pemikiran ini  tentu berdampak pada kehidupan sosial dan atau kehidupan keluarga. Tak ada lagi aturan ketaatan kepada suami, sehingga amat mudah sang isteri menggugat cerai terhadap suami.

Islam agama yang mampu memelihara dan menjaga manusia agar tetap berada dalam kemuliaan. Sebagai sebuah solusi terhadap problematika keluarga yang mengalami konflik berat, Allah membolehkan umatnya menempuh jalur perceraian meskipun sebagai cara yang sangat dibenci.Nya.

Perceraian pasti berdampak terhadap kualitas generasi. Pasalnya ketahanan keluarga menjadi lemah ketika anggota keluarga tidak utuh. Tak ada lagi fungsi keluarga sebagai benteng pengokoh generasi.

Peran negara terhadap keluarga

Darurat perceraian seharusnya tak boleh terjadi. Butuh kerjasama yang solid antara individu, masyarakat dan negara mewujudkan keluarga  sakinah mawadah wa rahmah.

Semua itu mudah diwujudkan ketika syariat Islam diterapkan secara sempurna (kaffah) dalam kehidupan. Kehidupan berkeluarga, sosial, politik dan negara.

Negara harus hadir dan memberi jaminan terhadap kebutuhan rakyat dengan menyediakan lapangan kerja yang layak dan mengelola harta negara yang juga milik rakyat  dengan tepat sehingga rakyat mudah memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Individu muslim yang berhiaskan nilai ketakwaan tentu takut ketika melakukan kemaksiatan.

Masyarakat yang saling peduli yang mencintai dan membenci sesuatu karena pemahaman islam.

Inilah yang akan menjadi atmosfir ketentraman manusia di muka bumi dengan energi dan cahaya hukum Allah SWT. Wallahu alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita