by

Noor Hidayah*: Mimpi Smart City, Mungkinkah Terwujud?

-Opini-164 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kota Cerdas (Smart City) merupakan suatu konsep pembangunan sebagai salah satu kebijakan strategis memecahkan permasalahan perkotaan dalam mengelola berbagai sumber daya yang ada secara efisien dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Salah satu kota di area satelit ibukota yakni Tangerang Selatan (Tangsel), berusaha menerapkan konsep tersebut.

Sejak tahun 2017 lalu, Tangsel memperoleh penghargaan sebagai daerah menuju smart city dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kemudian pada awal tahun 2019, Kota Tangsel meraih penghargaan Indeks Kota Cerdas Indonesia 2018 yang diberikan oleh media Kompas. Penghargaan ini diberikan kepada kota-kota yang dinilai berhasil menerapkan konsep smart city.

Dalam penerapan Smart City tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi faktor penting.

Sosialisasi dan pelatihan-pelatihan baik bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) secara internal maupun masyarakat yang ada di Tangsel secara eksternalpun dilakukan.

Sosialisasi dan pembinaan terkait pengunaan internet sehat dan aman tak hanya diberikan kepada siswa, guru dan kepala sekolah, tapi juga kepada orang tua murid.

Industri kreatif pun didorong melalui berbagai pelatihan dan peningkatan ekonomi kemasyarakatan. Pemkot Tangsel memberikan pelatihan kepada UMKM dalam bentuk pelatihan digital marketing bekerja sama dengan dinas koperasi dan UKM, beberapa Perguruan Tinggi di Tangsel seperti Universitas Terbuka, Institut Teknologi Indonesia, UIN dan Google My bisnis guna meningkatkan pemasaran/omset UMKM dengan memanfaatkan media sosial.

Selain penguatan UMKM dari sisi pemanfaatan TIK, Pemkot dalam hal ini Diskominfo juga telah melakukan pembinaan internal terhadap aparatur kepada petugas operator jaringan di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti di UPT Puskesmas dan seluruh kelurahan di Kota Tangsel.

Hal ini bertujuan sebagai upaya pembekalan terkait operasional dan pemeliharaan jaringan dasar serta cara mengatasi apabila terjadi masalah pada jaringan.

Hasilnya, dari Bimtek MikroTik MTCNA (MikroTik Certified Network Associate) Tangsel memiliki belasan lulusan pelatihan jaringan dasar dan lanjutan bersertifikasi internasional Mikrotik.

Dari sisi penyediaan infrastruktur, sarana dan prasarana teknologi informasi, Kota Tangsel telah membangun infrastruktur jaringan berikut keamanan informasi yang sudah tersentralisasi di Diskominfo, sehingga dapat menghemat anggaran dan juga memperkuat kualitas jaringan internet di sejumlah OPD, kecamatan, kelurahan, UPT Puskesmas hingga ke sekolah-sekolah.

Tak kalah maju, dari sisi pelayanan – Kota Tangsel telah menerapkan pelayanan publik berbasis elektronik. Semua sistem pelayanan terpantau secara langsung dan transparan.

Berbagai aplikasi telah ditetapkan Pemkot seperti Sistem Surat Masuk dan Surat Keluar (SISUMAKER), Aplikasi Manajemen Perijinan Online (SIMPONIE), Aplikasi pengelola kegiatan dalam melakukan penjadwalan, monitoring dan evaluasi (TIMETABLE), Aplikasi Sistem Pelaporan dan Penugasan Kota Tangsel (SIARAN TANGSEL) yang berfungsi sebagai media komunikasi antar warga dan Pemkot Tangerang Selatan dalam pelaporan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, sampah, banjir, infrastruktur, fasilitas umum dan pelayanan publik lainnya. Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Tangsel ini tentunya patut diapresiasi.

Nampak bahwa Pemkot berusaha mengiringi kemajuan zaman yang serba digital ini dengan mengadopsi kemajuan teknologi informasi dalam pengelolaan pemerintahannya.

Namun perlu diperhatikan dan dikaji lebih dalam, bahwa smart city bukan hanya kumpulan banyaknya teknologi atau perangkat yang terpasang, bukan kumpulan banyaknya aplikas-aplikasi yang dibangun, melainkan sebuah kota cerdas yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakatnya dengan bantuan teknologi yang aplikatif.

Terdapat enam karakteristik smart city yang harus dimiliki oleh sebuah kota. Karateristik ini dijabarkan berdasarkan European Smart Cities.

Pertama, smart economy. Sebuah kota dapat dikatakan smart city apabila kota tersebut dapat menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Produktivitas dan semangat berinovasi yang tinggi untuk mewujudkan smart city.

Kedua, smart mobility. Smart city selalu berkaitan dengan kemajuan teknologi. Salah satu kriteria smart city adalah adanya ketersediaan infrastruktur ICT dan sistem transportasi yang aman serta inovatif.

Ketiga, smart environment. Smart city tidak hanya mengutamakan kemajuan teknologi. Sebuah kota yang pintar adalah kota yang dapat menyelaraskan kemajuan teknologi tanpa merusak lingkungan. Salah satu ciri dari smart city adalah tingkat polusi yang rendah.

Keempat, smart people. Smart city tidak hanya dapat diwujudkan secara fisik. Akan tetapi, masyarakat yang tinggal di dalam kota tersebut harus mendukung konsep ini.

Untuk mewujudkan konsep ini, masyarakat dituntut untuk ikut berpartisipasi dalam kepentingan publik, menjaga pluralitas etnik maupun sosial, serta memiliki pemikiran yang open minded.

Kelima, smart living. Kesehatan dan pendidikan menjadi salah satu faktor majunya sebuah kota. Oleh karena itu, ketersediaan fasilitas kesehatan dan pendidikan menjadi salah satu syarat untuk mewujudkan smart city.

Keenam, smart governance. Pemerintahan juga memegang peranan penting untuk mewujudkan konsep smart city. Transparansi dan keterbukaan menjadi kunci pemerintahan yang mengusung smart city.

Selain itu, akses pelayanan publik harus sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya dan tidak menyulitkan masyarakat.

Sekarang, mari kita lihat kondisi Kota Tangsel. Sudahkah Tangsel memiliki keenam karakteristik tersebut? Dari sisi ekonomi, berdasarkan data di atas kertas, Tangsel memang mengalami pertumbuhan yang pesat, bahkan sudah diangka 7,2 persen tertinggi di Indonesia dan di atas pertumbuhan ekonomi secara nasional di kisaran angka 5 persen.

Pembangunan perumahan, pusat bisnis, maupun pusat perbelanjaan marak dilakukan terutama di area Serpong. Tentu saja, ini melibatkan investor swasta bermodal besar. Bagaimana dengan rakyat bawah?

Masih ada warga miskin dan banyak pengangguran. Fakta bahwa ada warga Tangsel yang tinggal di rumah reot di Kelurahan Mekar Jaya, Serpong, yang berukuran 6×6 dan bagian atapnya hanya ditutupi plastik-plastik maupun triplek bekas.

Menurut Koordinator Divisi Advokasi dan Investigasi TRUTH Jupry Nugroho, seperti dikutip laman rolbanten.com, merupakan bukti kalau Pemkot Tangsel tidak memprioritaskan pembangunan masyarakat.

Lebih lanjut Jupry menerangkan bahwa masyarakat tidak memahami terkait pembangunan, yang dibangun oleh Pengembang bukan Pemkot.

Permasalahan lain yang masih ada di Tangsel yakni tingkat korupsi tinggi, pengelolaan sampah gagal, HIV dan Narkoba tertinggi di Banten, terdapat 100 titik banjir di awal tahun ini, serta terus tergerusnya cagar alam, situ (danau), maupun budaya.

Dari sini terlihat bahwa sebenarnya masih banyak yang harus diselesaikan Pemkot Tangsel agar dapat betul-betul menyandang predikat sebagai smart city.
Berbagai permasalahan masyarakat baik itu ekonomi, sosial maupun budaya bisa diselesaikan jika Pemerintah tidak hanya bergantung pada investasi swasta baik itu dalam negeri maupun asing.

Sudah sifatnya sebagai pihak swasta yang memiliki motif profit, apapun akan dilakukan jika itu mendatangkan keuntungan, bahkan tanpa mengindahkan tata aturan maupun dampaknya bagi masyarakat.

Sebagai contoh, pembangunan perumahan yang tidak memperhatikan lokasi, peruntukan maupun dampaknya terhadap lingkungan. Apakah lokasi itu terlalu dekat dengan aliran sungai, rawan longsor, diperuntukan bagi area hijau, dll.

Akibatnya pembangunan itu justru menimbulkan bencana seperti tanah longsor maupun banjir seperti yang terjadi di awal tahun ini.

Pemerintah hendaknya menjadi pelindung dan pengayom rakyatnya.

Seperti di dalam Islam, Pemerintah adalah junnah (tameng) yang melindungi masyarakat. Dari sini, Pemerintah berupaya semaksimal mungkin agar kebijakan-kebijakannya tidak merugikan rakyat yang dipimpinnya. Sehingga dalam mengelola kepemimpinannya, Pemerintah akan menerapkan aturan-aturan dari Sang Pencipta, bukan aturan buatan manusia. Sang Penciptalah yang paling tahu apa yang cocok dan dibutuhkan ciptaanNya.

Islam, memiliki aturan yang lengkap baik terkait individu, masyarakat maupun negara. Islam tidak hanya mengatur cara makan, bersuci, puasa, haji maupun sholat tapi juga mengatur sistem ekonomi, sosial, bahkan pemerintahan. Allah Sang Pencipta meminta manusia untuk melaksanakan seluruh aturan itu secara kaffah. Sehingga, Islam dengan jargon sebagai rahmatan lil ‘alamin nampak di tengah-tengah masyarakat.

Smart city yang terwujud adalah smart city yang menyeluruh, di mana Pemkot berhasil menyelesaikan permasalahan rakyat dan membawa mereka hidup sejahtera, tidak hanya berhasil dalam menerapkan teknologi informasi.

Smart city bukanlah kumpulan banyaknya teknologi atau perangkat yang terpasang, dan bukanlah kumpulan banyaknya aplikasi-aplikasi yang dibangun, melainkan sebuah kota cerdas yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat dengan teknologi aplikatif sebagai sarana bantunya. Wallahu a’lam bi ash shawwab.[]

*ASN, Tinggal di PUSPIPTEK, Tangsel

Comment

Rekomendasi Berita