by

Rantika Nur Asyifa*: Antara Bullying Remaja Dan Kehidupan Sekuler

-Opini-213 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Remaja tentu menyumbang populasi sangat besar di Indonesia. Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) tahun 2016, seperti dikutip lama. Okezone.com, 25/10/2017), penduduk remaja berusia 10 – 24 tahun berjumlah 66,3 juta jiwa dari total penduduk sebesar 258,7 juta.

Namun, bagaimana jika jumlah remaja yang fantastis tersebut terkontaminasi oleh sekularisasi yang semakin kuat menyerang para remaja?

Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Kota Malang, Jawa Timur, harus rela jari tengahnya diamputasi akibat terluka serius karena diduga dibully atau dirundung oleh teman sekolahnya.

Paman siswa yang berinisial MS tersebut, mengatakan bahwa dokter memutuskan untuk mengamputasi jari tengah tangan kanan MS karena sudah tidak bisa berfungsi lagi.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menindaklanjuti kasus bullying tersebut dan mejelaskan kronologis yang dialami korban. Ia mengatakan bahwa MS dianiaya dengan cara diangkat, dijatuhkan, diduduki, dan diinjak tangannya oleh 7 anak.

Retno menuturkan, terduga pelaku adalah teman korban di sekolah, ada teman sekelas, teman ekskul pramuka, dan ada juga teman badan dakwah islam di sekolah tersebut, jumlah pelaku adalah 7 anak. Korban sendiri dikenal sangat pendiam, sehingga berpotensi menjadi korban perundungan.

Dalam menangani kasus bullying tersebut, hanya dilakukan pengawasan secara intensif dan meminta kepada pemerintah kota untuk memfasilitasi rapat koordinasi membahas penanganan kasus dan pencegahan kasus serupa tidak terjadi di sekolah-sekolah lain.

Mengapa remaja yang masih di bawah umur mampu melakukan tindak kekerasan?

Jawabannya tak lain karena kurangnya pengawasan dan penanaman nilai-nilai agama. Hal paling mendasar adalah pengaruh dan dampak sekularisme di masyarakat sehingga menimbulkan sikap individualis yang menepikan kepedulian terhadap sesama.

Betapa sangat mengkhawatirkan dampak kerusakan temaja 10 atau 20 tahun ke depan akibat yang ditimbulkan oleh sistem sekuler ini.

Sekulerisme tidak hanya melahirkan penyimpangan perilaku sebagaimana kasus bullying tapi juga mencakup permasalahan banyaknya remaja yang menggunakan narkoba, seks bebas, dll.

Sekularisme telah terbukti menggerus identitas keislaman yang semestinya melekat pada pemuda dan remaja.

Semuanya mengekor budaya Barat yang sekularistik. Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi masa depan remaja.

Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah merasuki kalangan remaja dengan berbagai cara dan hampir setiap waktu. Misalnya, bermunculan film bergenre remaja yang penuh dengan nilai-nilai sekular.

Tema nya tak jauh dari percintaan dan selalu disisipkan kekerasan seksual ataupun kekerasan fisik, yang sudah jelas memberikan contoh yang tidak baik.

Sebagai warisan penjajah Barat, sekularisme merupakan paham yang rusak karena jelas-jelas menolak peran agama dalam kehidupan.

Sungguh tak mungkin Islam dapat berdampingan dengan sekularisme. Paham tersebut menciptakan kerusakan, menyuburkan kemaksiatan, dan pelanggaran terhadap aturan Allah SWT.

Sebaliknya, jika sistem islam diterapkan maka akan menebarkan rahmat bagi semesta alam dan mampu mengatasi permasalahan penyimpangan moral yang kini semakin merajalela, yang dilakukan oleh remaja.

Islam mampu menuntun individu menjaga dirinya dengan landasan takwa, mengarahkan pendidikan keluarga sesuai dengan fitrah manusia, menerapkan sistem pendidikan dan penataan informasi yang sejalan serta memberlakukan sanksi yang menjerakan.

Dengan begitu, tak akan ada lagi penyimpangan moral, kemaksiatan, dan kerusakan-kerusakan lainnya. Wallahu a’lam.[]

*Praktisi pendidikan di Bogor

Comment

Rekomendasi Berita