by

Sharley Irawati Tambunan Kuak Kebenaran Terpendam Dalam Kasus Arpah

RADARINDONESIANEWS.COM, DEPOK – Dalam kesaksiannya, Sharley Irawati Tambunan selaku Notaris dalam kasus perkara dengan terdakwa Abdul kodir Jaelani (AKJ) No.38/Pid.B/2020/PN.DPK menjelaskan di depan Majelis Hakim, bahwa pada tanggal 16 September 2015, Abdul Kodir Jaelani (terdakwa) bersama Arpah dan suaminya, Yusuf mendatangi kantornya di daerah sekitar Cibinong untuk melakukan proses jual beli tanah yang saat itu sertifikat masih atas nama Arpah.

Lebih lanjut Sharley mengatakan, dirinya selaku notaris sudah membacakan dan menjelaskannya secara detail, dan Arpah bersama suaminyapun sudah memahaminya.

“Saya sampai menanyakan sebanyak 3 kali kepada Arpah dan suaminya, apakah sudah menerima uang uang sebesar Rp 120 juta untuk pembayaran tanah seluas 103 meter dari AKJ, dan dijawab sudah oleh Arpah, “Ujar Sharley, Kamis (20/2/2020).

Menjawab pertanyaan Majelis hakim, soal uang sebesar Rp 300 rb, Sharley menjawab tidak mengetahuinya.

Sementara itu, saksi Habib Idrus, kakak tiri AKJ dalam kesaksiannya mengatakan, bahwa dirinya mengetahui semua persoalan tersebut melalui H. Harun (adik Arpah-red). Dan hanya mengetahui tanah yang di beli Habib Hasan Al-Badry hanya seluas 196 M saja, bukan 299 M.

Habib Idrus pun melanjutkan, bahwa dirinya sama sekali tidak melakukan pengejaan kepada AKJ dalam pembuatan surat pernyataan tersebut.

“Dalam pembuatan surat pernyataan itu, saya tidak melakukan pengejaan terhadap AKJ. Bahkan, AKJ sendiri yang mengambil kertasnya,” Ucapnya.

Ironisnya, di akhir persidangan, apa yang dikatakan Habib Idrus dibantah oleh terdakwa AKJ, dengan tegas AKJ mengatakan, dirinya hanya menulis namanya saja, sedangkan yang membuat konsep surat tersebut adalah Habib Idrus. Dan karena surat pernyataan tersebut lah terdakwa dilaporkan di Polres Metro Depok.

Tim kuasa hukum terdakwa, Prof Suhendra, S.H, M.H, Zainal Abidin Marassabessy, S.H, M Nasron, S.H. M.H, Panardan S.H, Anwar Kasim, S.H, Bambang Soekarno Sakti, S.H, San Salvator S.H seusai sidang mengatakan, apa yang dikatakan saksi Habib Idrus semua terbantahkan, dia (Habib Idrus-red) hanya mengatakan mengetahui permasalahan hanya dari katanya katanya saja.

“Kesaksian Habib Idrus tidak bisa di pertanggungjawabkan secara hukum,”ujar penasehat hukum terdakwa.

Pengacara yang tergabung dalam Organisasi Advokat Perhimpunan Pengacara Muslim Indonesia ini mengatakan, dari kesaksian Notaris Sharley hari ini saja sebenarnya sudah membantah semua keterangan dari Nenek Arpah.

Notaris Sharley pun dalam kesaksiannya mengatakan dengan jelas, bahwa sebelum nenek Arpah membubuhkan cap jarinya, isi dari Akta Notaris dibacakan dan di jelaskan dulu, baru Nenek Arpah mencap jarinya.

“Atas semua fakta yang terungkap di persidangan, Hakim pasti obyektif dalam memutuskan perkara ini. Karena semua fakta di persidangan sudah jelas, semua yang dituduhkan terhadap klien kami tidak bisa dipertanggung jawabkan,”ujar penasehat hukum terdakwa.

Sementara itu di tempat yang sama Jaksa Penuntut Umum, Hendrik Charles Panggabean mengatakan, kesaksian keduanya sangat mendukung. Bahkan saksi Idrus mempunyai inisiatif sendiri dalam menunjukan bukti, di mana bukti tersebut tidak ada di JPU.

Persidangan yang berjalan alot selama 5 jam tersebut akhirnya dilanjutkan kembali pada tanggal 26 Pebruari 2020, untuk kembali menghadirkan saksi dari JPU. (Moer/dimas)

Comment

Rekomendasi Berita