by

Sherly Agustina, M.Ag*: Gus Sholah, Ulama Sholih Yang Dicintai Umat, Kini Telah Pergi

-Opini-195 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap yang bernyawa pasti mati sebagaimana Firman Alah Swt:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Kabar duka menyelimuti keluarga besar NU, negeri ini telah kehilangan satu sosok ulama besar dambaan umat. Dia adalah Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

Pria kelahiran Jombang, 11 September 1942 ini wafat di usia 77 tahun. Beliau meninggal karena sakit yang dideritanya. Ia sempat menjalani bedah jantung pada Sabtu (1/2/2020) dan menjalani perawatan, namun sayang Allah SWT berkehendak lain.

Selain dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Gus Sholah juga adalah satu di antara tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi panutan. Seperti yang diketahui, Gus Sholah juga merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Adik dari Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia adalah adik kandung dari Gus Dur, lulusan arsitektur ITB.

Kini lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Sholah memiliki latar belakang sebagai lulusan jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB).

Segudang pengalaman organisasi Gus Sholah aktif berorganisasi sejak di bangku kuliah, beberapa di antaranya adalah PMII Komisariat ITB (1964-1966), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), dan Ketua Departemen Konsultansi Manajemen Kadin (1994-1998).

Ia juga turut mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia (1995), Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat (PKU) (1998-Oktober 1999).

Gus Sholah juga pernah menjadi Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU (1999), pendiri Yayasan Baitussalam (1982), Ketua Badan Pengurus Yayasan Baitussalam (1982-1985, 1988-1991).

Pernah menjadi anggota Badan Pengawas Yayasan Baitussalam (1991-1994), pendiri Yayasan Wahid Hasyim (1985), dan Sekretaris Badan Pendiri Yayasan Wahid Hasyim (1999).

Jabatan sebagai ketua PBNU juga pernah ia jabat pada tahun 1999-2004, dan Ketua Badan Pendiri Yayasan Forum Indonesia Satu (sejak 2000) serta Ketua ICMI tahub 2001-2003.

Gus Sholah begitu semangat mengembangkan NU sebagai organisasi yang perlu ditingkatkan kinerjanya untuk bisa memanfaatkan potensi yang ada, agar bisa berperan sehebat ketika sekian puluh tahun yang lalu.

Sejak lama organisasi NU sudah memberikan sumbangsih yang sangat besar kepada bangsa Indonesia. Inilah fitrah organisasi NU. Menurut saya, organisasi NU saat ini sudah mulai melenceng dari jalur fitrahnya.

Organisasi NU harus dikembalikan kepada fitrahnya untuk menghadapi tantangan-tantangan ke depan bangsa dan umat agar bisa memberikan sumbangsih yang sebesar sumbangsih pada masa-masa sekian puluh tahun yang lalu. (TribunCirebon.com, 03/02/20).

Selama beliau hidup, aktifitas yang dilakukan sangat luar biasa. Berdakwah semata-mata untuk kebaikan umat tak ada yang lain. Begitulah kehidupan para ulama, maka wajar Rasulullah Saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاء

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Dakwah sebagaimana aktifitas para Nabi Saw, aktifitas yang mulia. Karena dakwah adalah kewajiban dan perintah dari Allah Swt. Jika tak ada dakwah, maka risalah Islam tidak akan sampai kepada kita sampai saat ini.

Maka para ulama sebagai pewaris para Nabi melanjutkan estafet perjuangan dakwah ini agar terjaga sampai Hari Akhir. Ulama sebagaimana disampaikan dalam Al Qur’an:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28)

Dunia ini penuh dengan tipuan dan fatamorgana, siapa saja bisa terlena. Maka para ulama lah orang yang takut kepada Allah Swt, tidak terlena dengan dunia fana ini. Umat butuh ulama agar ada yang menuntun umat ke jalan ta’at, yaitu kepada Allah Swt.

Pada ayat ini, yang disebut ulama adalah hamba-hamba Allah yang keilmuan yang dimilikinya membuatnya ‘khasyah’ (takut) kepada Allah. Takut di sini berbeda dengan kata ‘khauf’ yang biasa diterjemahkan dengan takut.

Syeikh Mannā’ al-Qaurān dalam buku “Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur`ān” (2000: 207) menerangkan perbedaannya. Takut (khasyah) lebih tinggi tingkatannya daripada takut (khauf). Khasyah, rasa takut yang timbul akibat keagungan yang ditakuti, meski yang takut adalah orang kuat. Dengan kata lain, rasa takut yang disertai pengagungan.

Sementara rasa takut khauf, timbul karena lemahnya orang yang takut. Meski yang ditakuti sebenarnya adalah perkara remeh. Di sisi lain, huruf dari kata ‘khasyah’ (kha, syin, ya) berdasarkan timbangan ilmu Sharaf menunjukkan keagungan.

Karena itu, tidak mengherankan jika kata ini pada galibnya (umumnya) terkait dengan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang terdapat dalam surah Fathir ayat 28 dan Al-Ahzab ayat 39.

Dengan demikian, ulama seperti ini adalah ulama yang keilmuannya mengantarkannya pada rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala disertai pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Takutnya mereka kepada Allah, membuat semakin mendekat dan mengagungkan-Nya. Bukan seperti takutnya orang yang dikejar singa, misalnya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam “Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn” (I/77) mengkategorikan ulama semacam ini sebagai “Ulamā al-Ākhirah” (ulama akhirat) yang kata beliau, selain ‘khasyah’ (rasa takut) juga diikuti ciri lain berupa: khusyuk, tawaduk (rendah hati), berkahlak mulia serta memprioritaskan akhirat daripada dunia (zuhud). (Hidayatullah.com)

Semoga Gus Sholah adalah bagian dari ulama yang disebutkan di dalam hadis dan firman Allah Swt, karena aktifitas dakwahnya yang mulia selama hidup, beliau dicintai umat dan sangat mencintai umat.

Di sisi lain, dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ (H.R. Bukhari).

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Hadits ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut.

Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.

Para ulama pasti akan Allah wafatkan karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Hendaknya kita terus semangat mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu berkata,

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya/ulama.

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama.

Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar .” (Muslim.or.id). Allahu A’lam bi Ash Shawab.[]

*Owner @tilah Bakery dan Member Revowriter Cilegon
َ

Comment

Rekomendasi Berita