by

Sidang Kedua PN Cibinong, Dituding Buat Order Fiktif Dan Gelapkan Fee Lala Dimejahijaukan

-Hukum-207 views

RADARINDONESIANEWS.COM, CIBINONG – PN Cibinong menggelar sidang kedua terkait laporan polisi No. LP/B462/IX/JBR/RES tanggal 6 September 2019 pasal 378 Dan 372 KUHAP.

Lala 32 tahun warga Cteurep yang bekerja sebagai marketing sejak tahun 2013-2017 di perusahaan PT BNB akhirnya duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Cibinong Kab. Bogor, Jabar dalam tuduhan membuat order fiktif dan penggelapan fee (Rp.271.560.000) selama dia bekerja di perusahaan itu.

Menyoal kasus tersebut dan pada sidang keduanya dengan perkara nomor: Reg 70 /pid.B/2020/Pn.cbi dengan agenda SFC Majelis Hakim Nusi,SH.,MH Ni Luh Sukmarina,SH.,MH dan Firman Khadafi,SH agenda dari sidang Eksepsi, dari penasehat hukum terdakwa yang digelar di PN cbn, Rabu 12 Februari 2020.

pada sidang itu, Penasihat hukum terdakwa Fitriansjah Toisutta,S.H dan Heru Budi Sutrisno,S.H,M.H meminta Majelis Hakim yang mulia bersikap obyektif dan membebaskan terdakwa dari segala tuduhan.

Hal ini didasari pada materi dakwaan JPU Locus Delicti serta Tempos Delictinya tidak jelas, di situ diuraikan sejak tahun 2014 sampai tahun 2017 terdakwa menerima fee Rp. 271.560.000, – namun tidak dijelaskan tanggal, hari dan serta jamnya,”terang Fitriansjah.

Dia menambahkan, melihat dakwaan JPU pasal 374 kejahatan dalam jabatan, kalau terdakwa (Lala) melakukan kejahatan dalam jabatan, minimal barang itu ada dalam kuasa dia.

“Ini mana barangnya? Kalau yang menjadi persoalan fee, fee itu apa pengertiannya? Harus ada audit terhadap perusahaan itu dan yang mengaudit harus akuntan publik, tidak bisa mengaudit dari internal perusahaan itu sendiri.”Tegas kuasa hukum terdakwa.

Di tempat yang sama Tina kepada sejumlah awak media mengatakan bahwa adiknya, Lala adiknya itu sebagai marketing dengan paklaring di perusahaan tersebut.

“Adik saya sebelum mengundurkan diri sebagai marketing dengan paklaring 2017 sebagai marketing di BNB, dia tidak sendiri, dibentuk grup. Kalau memang ada fee yang dikeluarkan tentu yang menerima satu grup dan BNB tidak akan mengeluarkan fee sebelum ada pelunasan dari pembeli, itupun fee nya tidak langsung diterima, tunggu beberapa bulan kemudian kalaupun adik saya menerima uang dari BNB.” Tegasnya.

Tina menambahkan, dirinya yakin itu bukan bentuk fee, tapi kasbon yang kemudian akan dipotong dari fee yang diterima adiknya.

“Krenanya kami mohon kepada majlis Hakim yang mulia agar hendaknya adik saya dibebaskan dari segala tuduhan dan dipulihkan nama baiknya karena saya yakin dan percaya Hakim adalah sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang harus berbuat arif dan bijaksana. Bukankah lebih baik membebaskan 100 orang bersalah daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah.?” Ujar Tina.

Di tempat terpisah Rizal (pelapor) mengatakan tuduhan itu memang tidak semuanya salah tapi walau sedikit pasti ada.

“Dan itu saya serahkan kepada hakim. Terserah mau dibebaskan atau dihukum bukan hak kami. Memang kami (PT) tidak pakai pengacara karena surat kuasa itu atas nama saya,” terang Rizal.

Rizal menambahkan bahwa perusahaannya sangat baik twrkait dengan fee.

“Perusahaan kami sangat baik karena fee dikeluarkan walaupun hanya baru order. Kalau ternyata order itu ada yang fiktif kan ada penggelapannya walaupun sedikit.” terang Rizal kepada sejumlah wartawan. (D.Anggoro)

Comment

Rekomendasi Berita