by

Siti Rahmah: Cinta Sesaat dari Sebatang Cokelat

-Opini-280 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hai dear, bagaimana kabarnya. Semoga tetap Istiqomah ya. Dan semoga kalian tidak termasuk kedalam golongan remaja pemuja syahwat yang sering diungkapkan di hari besar yang baru saja usai.

Yups 14 February memang sudah lewat, tapi kemeriahan dan serentetan seremonial nya masih menghiasi. 14 February yang dinobatkan oleh masyarakat dunia sebagai hari kasih sayang, tidak terkecuali oleh masyarakat Indonesia. Bahkan 14 February dianggap sebagai tanggal keramat untuk muda-mudi yang sedang menjajakan rasa atas nama cinta.

Bagaimana tidak, berbagai ritual yang mengatasnamakan cinta mereka persiapkan. Mulai dari menyiapkan bingkisan berupa bunga, boneka, cokelat. Membuat pesta, dinner atau ajang untuk menyatakan cinta.

Walaupun untuk tahun ini banyak sekali para ulama, asatidz dan asatidzah yang mengingatkan terkait larangan merayakan valentine namun nyatanya hal itu tidak mengurungkan semangat remaja untuk menyemarakkan kemaksiatan.

Bahkan salah satu ustadz kondang menyatakan bahwa hari valentine adalah hari zina sedunia.

Kasih Sayang yang Menyimpang

Tidak salah tentunya ketika banyak yang mulai khawatir dengan maraknya perayaan valentine ini. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa perayaan valentine memang identik dengan free sex. Sebagaimana dalam salah satu dongeng kisah awal mulainya perayaan valentine ini.

Sebenarnya banyak sekali versi terkait sejarah Valentin ini hanya saja semua bermuara pada kisah di masyarakat Romawi yang tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan nya pada dewa-dewa.

Seperti dikisahkan di masyarakat Yunani dikenal dengan adanya festival Lupercalia yang dilaksanakan pada pertengahan Februari sekitar tanggal 13 sampai 18 February.

Festival Lupercalia sendiri ditujukan atau sebagai bentuk pemujaan pada dewa lupercus (dewa kesuburan) yang mereka gambarkan dengan wujud setengah kambing berwajah manusia.

Bentuk dari persembahan sendiri dilakukan dengan berkumpulnya muda-mudi kemudian mengundi nama-nama wanita. Dengan cara nama tersebut ditulis di secarik kertas kemudian dimasukan kedalam bejana.

Dari bejana tersebut maka para pemuda mengambil satu kertas yang sudah bertulisakn nama wanita yang akan jadi pasangannya. Yang namanya muncul maka wanita tersebut harus bersedia menemani pemuda tersebut selama semalam. Festival ini juga dinamakan love lotre.

Menemani semalam tentu saja bukan sekedar untuk minum teh dan ngopi-ngopi ya dear. Tapi mereka melakukan yang lebih dari itu yang mereka sebut sebagai cinta satu malam.

Budaya ini muncul sebelum agama Kristen masuk ke wilayah Romawi, bahkan pada awal persebarannya Kristen sendiri menolak budaya tersebut. Hanya saja budaya tersebut sudah kadung tersebar di seluruh daratan Eropa, sehingga mau tidak mau untuk menarik jemaat gereja akhirnya kristenpun mengadopsi budaya tersebut.

Dan tentu saja sampai saat ini budaya tersebut semakin tersebar luas, sampai-sampai Valentin di nobatkan sebagai hari kasih sayang internasional. Bagaimana bentuk perayaannya? Masih sama seperti awal mulanya muncul.

Seperti yang terjadi di Amerika serikat saat ini, pada pertengah February mereka sebut sebagai the internasional kondom week. Karena pada pertengahan Februari tersebut sudah jadi tabiat mereka merayakan pesta seks tanpa mau terjebak dengan kehamilan sehingga dikenakan sebagai pekan penggunaan kondom.

Tidak jauh berbeda di Inggris pun pada tanggal 14 February dikenal dengan istilah the internasional impoten day. Karena pada tanggal itu penjualan kondom begitu melonjak drastis.

Di Korea ritual nya masih sama seperti yang terjadi di masa Romawi, disana pada 14 February marak pemesanan wanita untuk dijadikan pasangan pada malam valentine.

Disini jelas menunjukkan bahwasanya Valentin day bukan lah ajang untuk berkasih sayang tapi jelas ajang untuk menjajakan syahwat atau free sex.

Cinta Sebatang Cokelat

Bagaimana dengan di Indonesia? Tidak jauh berbeda alias sama. Di Indonesia pun penjualan kondom pada malam valentine terus meningkat.

Pada tahun 2017 mengalami peningkatan 25 persen, sedangkan pada tahun 2018 penjualan melonjak drastis sampai naik 50 persen dari penjualan biasanya.

Untuk tahun ini sebenarnya banyak upaya yang dilakukan oleh Pemkot dalam menahan laju free sex dengan cara pembatasan penjualan kondom seperti yang dilakukan oleh Pemkot Bekasi, Kediri dan Makasar. Namun tentu saja hal itu belum efektif.

Contohnya seperti yang terjadi di Bali penjualan kondom menjelang Valentin melonjak drastis dengan pembeli anak remaja dan dewasa dari kaum Adam. Beda hal dengan kaum hawa menjelang Valentin mereka lebih senang berburu cokelat.

Karena bagi kaum hawa apalagi yang masih cupu, menganggap Valentin adalah momen mengungkapkan dan mempersembahkan rasa cinta yang diwakili oleh sebatang cokelat.

Tapi tidak bagi para laki-laki valentine adalah kesempatan untuk mereguk kenikmatan sesaat dengan jalan maksiat yang tentu saja akan berbuah penyesalan yang selalu datang terlambat.

Itulah sekelumit kisah dibalik valentine. Kesalahpahaman dalam memahami valentine sebagai hari kasih sayang ternyata tidak relevan dengan ritual perayaan yang senantiasa diperingati setiap tahunnya.

Yang lebih mirisnya lagi remaja muslim tidak lepas dari cengkraman budaya sesat ini. Tidak sedikit dari remaja muslim yang terjebak mengikuti kebiasaan orang-orang kafir ini.

Padahal sejatinya Rasulullah jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita melalui sabdanya.

“Barang siapa mengikuti kebiasaan suatu kaum maka dia termasuk kedalam golongan kaum tersebut.”

Rasulullah juga pernah bersabda: “Kalian senantiasa akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah dan sehasta demi sehasta, sampai akhirnya mereka masuk kedalam lobang biawak pun kalian mengikutinya.

Kemudahan para sahabat bertanya, apakah mereka Nasrani dan Yahudi ya rasulallah? Kalau bukan mereka siapa lagi.”

Apa yang terjadi pada umat Islam nampak sekali sesuai dengan apa yang digambarkan Rasulullah. Sedikit demi sedikit umat Islam mengikuti budaya orang-orang kafir. Awalnya ikut-ikutan mengucapkan valentine, trus ngasih hadiah, lama-lama ikut budaya free sex. Nauzubillah.

Lantas bagaimana dong kalau mau menyalurkan kasih sayangnya. Hello dear, Islam ini agama kasih sayang bahkan Allah sendiri mensifati dirinya dengan sifat Rahman dan rahim.

So kalau mau mengungkapkan kasih sayang Islam punya cara pengaturan nya tanpa penyimpangan dan tanpa penyesalan, sehingga tidak perlu ikut-ikutan budaya luar. Mau tau? Sini tak bisikin lewat kajian.[]

Comment

Rekomendasi Berita