by

Waspada Terhadap Kepentingan Asing Masuk Ke Indonesia, FKUB Kota Depok Gelar Diskusi Kebangsaan

RADARINDONESIANEWS.COM, DEPOK – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Depok gelar kegiatan diskusi di Rumah Makan Simpang Raya, Jalan Margonda, Sabtu (1/2/2020). Kegiatan diskusi FKUB Kota Depok kali ini mengangkat tema “Peran Mahasiswa dan Pemuda Kota Depok, Dalam Mengawal Keutuhan NKRI”.

Hadir dalam diskusi FKUB Kota Depok, Sekda Pemkot Depok Hardiono, ketua FKUB kota Depok, Al-Habib Muchsin Ahmad Al-Athas Lc, Wakasad Intel Polres Metro Depok, Sutarno, unsur Forkopimda, Pdt Maks Rumagit yang juga dosen di salah satu universitas nasional, unsur tokoh agama, budaya, mahasiwa dan organ pemuda kota Depok. Moderator acara diskusi dipandu oleh H. Kholid.

Dalam kesempatan itu, ketua FKUB kota Depok, Al-Habib Muchsin Ahmas Al-Athas, Lc mengatakan, bangsa kita ini sedang dilanda krisis kebangsaan katanya kepada wartawan.

Marak kepentingan politik luar negeri yang nyaris mendominasi di sektor perekonomian kita terangnya. Lebih lanjut dia katakan, globalisasi, diera digital elektronik saat ini, merupakan bukti sebuah tantangan kehidupan berbangsa, tetapi kenapa kita menggantungkan saham pemikiran kita ke asing imbuhnya.

Dalam pembukaan UUD 1945 menyatakan, “Sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” jelas Al-Habib Muchsin Ahmad Al-Athas Lc ketua FKUB Kota Depok. Dia juga menjelaskan, bahwa awal kemerdekaan Indonesia selalu diawasi oleh pihak asing. Artinya supaya kita tidak bisa mandiri di dalam kedaulatan, karena kepentingan asing itu.

Hal itu telah terjadi sejak dari dalam perang sampai kemerdekaan, sehingga ediologi asing selalu mengincar kemerdekaan Indonesia ini.

Pihak asing itu bisa punya pengaruh besar di negri ini, sampai sekarangpun Indonesia masih seperti terjajah. Dan mereka tetap berupaya terus pintu masuk hingga ke sendi – sendi perekonomian. Dulu penjajahannya berbentuk fisik (konvensional) tetapi, sekarang mereka gunakan agen – agen (Proxy war), bahkan konstitusi kita bisa diubah pihak asing melalui politik bileteral perdagangan dan sebagainya.

Euporia politik sejak runtuhnya orde baru 1998 anti Soeharto, memungkinkan, makanya ada golongan bergerak ingin menjajah Indonesia melalui orang Indonesia memiliki mental penghianat mengamandemenkan UU untuk memuluskan pintu masuk penjajah supaya dapat menguasai ekonomi politik dan sosial.

“Di jaman Alm, Soeharto dulu ada ninja selalu menggerakan intelijen supaya tidak ada situasi ketegangan, ada pengalihan isu yang macam -macam, saat itu semua adalah pekerjaan inteljen bukan untuk berpihak pada kedaulatan ketahanan NKRI.” turur dia.

Habib ungkapkan, di era Soeharto, intelijen kakinya dua, yang satu kakinya ke asing dan kaki satunya lagi ke Indonesia, itulah sebabnya kita tidak bisa maju berkembang karena kepentingan politik orang asing yang sangat berpengaruh saat itu, karena mentalnya masih berbau inlender

Dia menilai, lembaga Majelis Permusyawarahan Rakyat harus mengarahkan langsung kepada negeri ini untuk menuju kebaikan, termasuk para penguasa negri yang berambisi dengan pesan-pesannya, kerjasama dengan pihak asing, sehingga pihak asinglah yang akan kendalikan kita. Pemuda saat ini semakin jauh dari wawasan rasa kebangsaan yang sebenarnya, sehingga Pancasila UUD 45 itu hanya disebut saja, dalam praktiknya mereka masih lemah pengetahuan tentang wawasan kebangsaan. begitu juga budaya kita sudah mulai mengikuti situasi liberal sekuler, sehingga semangat pemuda cenderung tergerus oleh jaman, sedikit agak pesimis terhadap nilai nilai agama itu.

“Saya katakan Indonesia bangsa yang besar dengan penuh keragaman, suku, budaya dan agama, menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 45 yang merupakan mesin otak keragaman beragama, artinya kalu kita makin jauh dari kebangsaan, maka kita sendiri yang membuka peluang bagi bangsa asing untuk menjajah dengan Proxy War nya melalui anak muda ( milenial ) ini karena jalan keluarnya, doktrin anak muda kita dengan wawasan kebangsaan, dan kembalikan ke jalan yang benar, tanpa bersatu kita tidak bisa mempertahankan kedaulatan NKRI.

Maka dari itu lanjutnya, dengan perbedaan budaya perbedaan antar etnis perbedaan agama itu jangan menjadi pintu kita bersengketa, memecah belah persatuan, justru dengan keanekaragaman beragama itulah ada idiologi, tentu dengan nilai kepercayaan itu kita saling toleransi secara universal, asal kita bersatu. Untuk itu, Pemuda harus diberikan pembekalan secara instesif pemahaman spiritual keagamaan terhadap generasi pemuda agar tertanam rasa cinta, mempertahankan kedaulatan NKRI, mengenal sejarah yang sebenarnya seperti pungkasnya ketua FKUB Kota Depok.

Hardiono, Sekda Pemkot Depok menerangkan bahwa, kita membangun negri ini berdarah darah, sehingga kita harus bersyukur dapat merasakan hasil dari kemerfekaan tersebut

Sementara itu, Sutarno wakasad intel Polres Metro Depok turut menyampaikan ucapan terkait persoalan di tengah kehidupan masyarakat, dari pihak kepolisian selalu menemukan kejadian, seperti tawuran, Narkoba, prostitusi melalui online dan LGBT, dan sekarang muncul lagi kerajaan empire.

Namun, soal konflik umat beragama nyaris tidak ada, tetapi potensi konfik itu ada, kemungkinan bisa terjadi dampak dari luar Depok yang bisa memicu kerusuhan ujarnya.

“Depok ini sebenaranya adalah contoh kota yang aman dengan keragaman umat beragama, suku, budaya yang berbeda, namun mampu menjaga persatuan itu, radikalisme ditemukan ada sekitar 35 ekspaniter. Ini adalah tugas kita semua,” ucap Sutarno

Pdt, Max Rumagit berharap, agar forum seperti ini, seharusnya pihak Pememerintah kota Depok harus Pro Aktif upaya menyatukan sinergitas semua elemen yang ada, terutama golongan umat beragama pintanya.

Mangaranap Sinaga selaku sekretaris PGI kota Depok yang juga pengurus FKUB Kota Depok menuturkan, keberadaan anak muda zaman now ini harus diberikan pembekalan wawasan kebangsaan.

Hal itu kata Ranap, agar anak muda tidak terkena virus budaya luar yang sukanya membuat polirik adu domba ( de vide impera ) untuk memecah persatun dan keatuan NKRI.

Mangaranap berharap, pemuda harus menanamkan rasa cinta terhadap tanah air, dan patuh terhadap peraturan dan perundang – undangan, tidak radikal atau memahami paham tertentu yang tidak sesuai dengan norma kehidupan sosial di negri yang kita cintai ini tutupnya. ( Benny )

Comment

Rekomendasi Berita