by

Ammylia Rostikasari, S.S*: Mengambil Pelajaran Dan Kesigapan Khilafah Abbasiyah Menyikapi Ancaman Wabah

-Opini-26 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pandemi Corona makin merajalela. Wabahnya mendunia, mengancam nyawa manusia. Cina, Italia, Korea, Malaysia pun Indonesia telah jatuh korbannya.

Berbagai pencegahan telah dilakukan agar seseorang tidak terinveksi virus. Mulai menjaga kebersihan, meningkatkan imunitas tubuh, dan gerakan stay at home untuk memutus rantai penyebaran virus mematikan tersebut.

Seorang muslim seharusnya mengambil pembelajaran sekaligus solusi melalui telaah sejarah yang telah dilakoni Rasulullah ribuan tahun silam.

Begitupun dalam menghadapi prsoalan terkait wabah virus yang mengancam jiwa seperti pandemi covid-19 baru baru ini.

Muhammad Rasulullah berpesan, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah keluar darinya (HR al-Bukhari).

Misalnya, khilafah Abbasiyah yang memberikan angin segar dalam kemajuan kegiatan kesejahteraan masyarakat termasuk di dalamnya kesehatan.

Pada era khilafah Abbasiyah pembangunan rumah sakit menjadi satu di antara buktinya. Rumah sakit ini menempati akademi lama Jundeshapur dan diberi nama Bimaristan. Tepatnya pada awal abad ke-9 di Baghdad pada masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid.

Sejak itulah, nama Bimaristan menjadi sebutan bagi tempat untuk merawat dan menyembuhkan orang sakit. Hal demikian karena Bimaristan sendiri berasal dari bahasa Persia, yaitu Bimar yang berarti penyakit (desease) dan stan yang berarti lokasi atau tempat (Aydin Sayili, 2007: 1).

Bimaristan menjadi bangunan terpenting pada masa itu. Adanya tersebar ke seluruh wilayah kehilafahan. Mulai di Baghdad, Damaskus, melintas Benua ke Mesir daln lain-lain.

Bangunannya selesai pada tahun 978 s.d. 979 M dan menghabiskan dana 100. 000 dinar (baca 1 dinar setara dengan 4,25gr emas murni). Rumah sakit ini memiliki 24 dokter yang juga bertugas mengajar ilmu kedokteran.

Bimaristan menyediakan berbagai layanan tanpa pungutan biaya. Mengapa bisa demikian? Karena pendanaan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah dari pengelolaan kekayaan alam dan sumber pendapatan lainnya.

Bimaristan juga berfungsi sebagai tempat penelitian medis dan mengajar kedokteran.

Pada masa Harun al-Rasyid, Bimaristan telah memiliki ruang administrasi yang besar, ruang kuliah, masjid, kapel, perpustakaan yang lengkap, terdapat pula petugas pria juga wanita serta jaringan terpisah dengan bangsal untuk demam, opthalmia, operasi dan disentri, juga memiliki apotek, dan para divisi yang siaga memonitoring keliling daerah (John L. Esposito, 2003:43).

Harun al-Rasyid pun menciptakan sebuah departemen yang terpisah dari departemen lainnya, yaitu departemen kesehatan. Departemen ini menjalankan beberapa apotek pemerintah yang dikelola oleh dokter berbakat.

Keberadaan departemen tersebut diawasi oleh Inspektur Jenderal Kesehatan dan Bukht Yishu menjadi orang pertama yang diangkat untuk mengisi posisi tersebut.

Para tenaga medis begitu diperhatikan kesejehteraannya dan digaji lebih dari layak. Misalnya, Jabriel putra Bukht Yishu yang bekerja menggantikan ayahnya. Ia menerima pendapatan bulanan sebesar 10.000 dirham (1 dirham setara dengan 2,975 gr perak). Selain itu ia pun mendapatkan lima ribu sebagai tunjangan dari Baitul Mal.

Perkembangan Bimaristan pada masa Harun al-Rasyid berlanjut pada awal pemerintahan al-Makmun. Khalifah ini memperlakukan standar tinggi bagi setiap orang yang ingin berkecimpung dalam profesi medis. Bagi yang berminat menjadi apoteker, seseorang harus melewati uji kompetensi yang luar biasa. Hal demikian pun berlanjut pada masa al-Mu’tashim.

Pada masa kekhilafahan Abbasiyah yang lain pun, al-Muqtadir Billah, sebuah wabah epidemi berskala global menyerang umat yang berada di dalam wilayah ‘Abbasiyah. Situasi ini memaksa Khalifah membuka beberapa rumah sakit baru. Ia juga membuat rumah sakit di dalam penjara untuk untuk mengobati pasien yang berasal dari kalangan narapidana.

Dalam rangka mengatasi epidemi tersebut, khalifah menugaskan ratusan dokter untuk berkeliling ke desa-desa dengan apotek berjalan. Solusi demikian dijalankan agar memudahkan dalam pelayanan dan pengobatan orang-orang desa yang sakit.

Ketika ada orang yang tidak memiliki keahlian dalam bidang medis tersebut mencari kesempatan untuk meraup keuntungan pribadi, sampai mengakibatkan malpraktek yang membahayakan masyarakat, maka kasus tersebut sesegera mungkin oleh Sinan, yaitu kepala Departemen Kesehatan. Ia adalah orang yang ditugaskan oleh khalifah pada 931M untuk menguji semua dokter lalu memberikan semacam sertifikat atau tanda bukti lulus uji bagi mereka yang lulus.
Oleh karena itu, sistem tes kemahiran medis telah diperkenalkan oleh pemerintahan Islam.

Tercatat lebih dari 860 orang lulus tes di Baghdad dan barulah mereka membuka praktiknya. Fasilitas medis pun dikirim dan disebar ke daerah-daerah secara merata tanpa terjadi ketimpangan fasilitas.

Semua tersebar secara merata sesuai kebutuhan umat. Setidaknya, terdapat 34 rumah sakit sudah tersebar di seluruh dunia Islam selama Kekhilafahan Abbasiyah pada abad ke 11 (Hospitals in Medieval Islam,tt:4). Walhasil Khilafah ‘Abbasiyah dengan izin Allah Swt. mampu menyelesaikan dengan sempurna berbagai krisis kesehatan yang ada.

Semua tak lain tak bukan, karena sendi-sendi Islam dikuatkan dalam segala aspek kehidupan. Memahami bahwa wabah adalah sesuatu yang diciptakan Allah Swt.

Solusinya pun dikembalikan dengan menelaah dan mengamalkan Kalamullah dan Sunah Rasulullah Saw.

Tidakkah sebagai negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim terbesar di dunia untuk mengikuti kecemerlangan jejaknya? Wallahu’alam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita