by

Desi Wulan Sari, S.E, M.Si: Lemahnya Ketahanan Keluarga, Jalan Mudah Mematikan Hati Seorang Anak

-Opini-79 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Miris mendengar kabar memilukan saat seoramg anak mampu melakukan tindakan diluar nalar pikiran seorang manusia.

Betapa tidak, peristiwa menggemparkan jagad tanah air ini, telah melukai hati orang tua manapun yang melihatnya. Bayangan seorang anak sebagai mutiara yang bersinar dapat pupus karena peristiwa ini.

Seorang remaja NF (16) diketahui telah membunuh bocah usia 6 tahun, hanya karena terinspirasi dari tontonan film horor yang sering dilihatnya.

Namun Banyak pihak yang meragukan latar belakang NF saat melaksanakan aksinya. Maka Tim Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur masih mengobservasi kejiwaan remaja bunuh bocah 6 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat ini.

Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyampaikan, perlunya kita melihat tanda-tanda secara dini, ketika anak mengalami gangguan jiwa dan berperilaku menyimpang, bukan hanya melihat dari keseharian di rumah saja tetapi di luar lingkungan rumah pun perlu di perhatikan.

“Yang namanya anak kan kehidupannya enggak hanya di sekitar rumah saja. Dia punya kehidupan di sekolah dan di media sosial,” tutur Reza dalam sebuah siaran Live, ditulis Senin (9/3/2020) (liputan6.com, 9/3/2020).

Walau dengan helaan napas yang panjang pun, penangkapan NF tidak akan mampu menebus kekecewaan dan kesedihan para orang tua. Seakan tidak percaya perbuatan keji dan sadis mampu dilakukannya. Entah kepribadian apa yang telah membentuk remaja ini hingga mati rasa dan hari nurani manusianya.

Beberapa latar belakang kepribadian psikopat yang dimilikinya ternyata memiliki daftar panjang dalam kehidupannya. Seperti hilangnya pengasuhan yang tepat dari orang tua, perceraian yang dialami orang tua nya meninggalkan luka begitu dalam, rasa kesepian dan kekosongan jiwa berakibat tak memiliki tujuan hidup.

Sang remaja hidup dalam angan-angan dan role model lain yang mampu mengisi relung hatinya. Pada akhirya pilihan yang dibuat telah menjerumuskannya dalam lubang gelap setan dan hawa nafsu belaka.

Hal tersebut merupakan dampak diterapkannya sistem sekuleris sebagai sistem pengatur hidup. Sekulerisme adalah sistem ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan.

Dengan sistem ini seseorang dituntut untuk menjalankan fungsi ibadah sebagai urusan agama semata. Sedangkan urusan Kehidupan manusia bukanlah urusan agama, tetapi hal itu merupakan pilihan dan kehendak manusia itu sendiri dalam menjalankannya, seperti urusan-urusan individual, masyarakat, dan negara.

Efek pemisahan Kehidupan ini terbukti telah menciptakan kehancuran sebuah generasi. Lihatlah NF yang dengan mudahnya melakukan segala kekejamannya tanpa ada penyesalan dalam dirinya. Tentulah seorang NF tidak memahami syariat agama dengan benar.

Seorang anak yang sudah baligh semestinya memiliki pengetahuan agama dan mengetahui mana perbuatan yang benar dan mana yang salah. Pendidikan akidah semestinya menumbuhkan rasa takut akan dosa atas perbuatannya.

Tetapi kekosongan jiwa telah menarik setan masuk dalam relung hati dan pikirannya sehingga mengendalikan kepribadian yang penuh kesia-siaan. Siapakah yang mesti disalahkan dalam peristiwa ini, apakah sang anak yang sesat ataukah orang tua dengan pola asuhnya?

Cara Islam Mendidik Anak

Peristiwa memilukan yang dialami NF tidak akan terjadi jika setiap orang tua mempersiapkan diri dengan bekal ilmu sebagai madrasatul ula di rumah. Allah swt dan Rasulnya telah memberikan tuntunan bagi kita untuk mengikutinya.

Perlunya menanamkan pendidikan Islam kepada anak adalah satu kewajiban dalam Islam. Orang tua lah yang harus menorehkan pendidikan tersebut kepada anak-anaknya.

Madrasatul ula harus berfungsi dengan baik dalam sebuah keluarga. Ayah dan Ibu menjalankan fungsi pendidiknya sesuai dengan kapasitas yang telah diatur dalam syariat. Allah pun telah mengingatkan kita dalam firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[at-Tahrîm/66:6]

Menjaga keluarga dari siksa api neraka tentu perlu ilmu dalam menjalankannya. Maka satu keharusan bagi umat muslim, khususnya seorang Ayah sebagai kepala keluarga untuk mempelajari, kemudian mendidik istri dan anak-anaknya agar selamat dunia akhirat.

Inilah tata cara mendidik anak sesuai dengan sabda Rasullullah saw, diantaranya:

A. Mengenalkan dan mendidik anak dengan tauhid.

Rasullullah saw bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”.

Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman, juz 6, hal. 398 dari Ibn abbas)
Berdasarkan Hadist Nabi di atas, maka, dalam kitab Al Amali hal.475, Imam Al Baqir dan Imam ash Shadiq ra berkata; tahapan untuk mengenalkan Allah kepada anak adalah:

1. Pada usia 3 tahun, ajarkan kepadanya kalimah Tauhid, “Laila ha illallah” sebanyak tujuh kali.

2. Pada usia 3 tahun 7 bulan, ajarkan kepadanya kalimah “Muhammad Rasullullah.”

B. Mendidik anak tentang sholat
Masih dalam kitab yang sama, Imam al Baqir dan Imam ash Shadiq ra menerangkan bagaimana seharusnya kita mengenalkan dan mendidik anak tentang salat.

1. Setelah anak usia 5 tahun dan telah memahami arah, maka coba tanyakan mana bagian kanan dan kirinya. Lalu ajarkan padanya arah kiblat dan mulailah mengajaknya salat.

2. Pada usia tujuh tahun ajaklah ia untuk membasuh muka dan kedua telapak tangannya dan minta padanya untuk melakukan salat.

3. Tata cara berwudhu secara penuh boleh diajarkan pada usia 9 tahun. Kewajiban untuk melakukan salat serta pemberian hukuman bila meninggalkannya sudah dapat diterapkan pada usia ini. Pada usia ini anak biasanya sudah pandai memahami akan urutan, aturan dan tata tertib.

C. Hak anak dalam pendidikan
Berkaitan dengan pendidikan agama, ada beberapa hal yang harus orang tua lakukan antara lain:

1. Memberikan nama yang baik.

2. Diakikahkan dan dipotong rambutnya (akan lebih baik dilakukan pada hari ketujuh).

3. Ada hak anak yang tertambat pada ayahnya yaitu mendapat pengajaran budi pekerti yang luhur, menulis, dan latihan fisik yang menyehatkan badannya serta diwarisi harta yang halal.

D. Tentang Ibadah dan amalan lainnya
Saat anak mendekati usia baligh, maka wajib bagi orang tua untuk mengenalkannya dengan puasa serta mewajibkan salat.

Selain itu juga memerintahkan padanya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an, dan jika tidak mampu maka perintahkan padanya untuk mencatat.

“Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk niscaya ia akan memperoleh hukuan.” (Al Khislal, hal.568)

Namun yang tidak boleh dilupakan, kesuksesan menciptakan karakter seorang anak berakhlak mulia tidak akan mungkin dapat terwujud jika lingkungan sekitar tidak memiliki visi yang sama.

Masyarakat harus menjadi bagian pendidikan sang anak di dalamnya dengan visi yang sama pula. Diikuti peran institusi (negara) yang mampu menjamin pendidikan berakarakter Islami diterapkan pada anak-anak.

Maka lengkaplah sudah proses pembentukan karakter seorang anak sebagai pemuda generasi rabbani dambaan umat, penerus bangsa, dan calon pemimpin yang amanah di masa depan.

Saat Islam Kaffah hadir di tengah-tengah umat dan mengembalikan kehidupan Islam adalah langkah tepat yang harus dilakukan umat muslim dalam rangka menyelamatkan anak-anak penerus bangsa dari kerusakan dan bahaya sekulerisme di dunia.

Diperlukan pemimpin negeri yang mampu membawa visi kepada generasi muda bahwa mereka harus dijaga dan dididik dengan akhlak sesuai syariat.

Pendidikan yang berada dalam lingkungan masyarakat yang bersih, sehat dan penuh keimanan.

Juga keluarga sebagai lini terkecil pendidik anak dapat dengan bebas melepas sang buah hati dengan penuh ketenangan tanpa ada rasa was-was di dalamnya.

Maka dengan kondisi demikian, dipastikan tidak akan ada lagi remaja NF lain yang kosong jiwanya, sesat jalannya dan sia-sia hidupnya. Adapun bentuk kegagalan pola asuh dan pendidikan sistem sekuler menjadi bukti nyata kerusakan yang tidak dapat dipungkiri. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita