by

Evi Widianti, S.Pd*: Problem Sistemik Penyebab Rapuhnya Institusi Keluarga

-Berita-64 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nyaris setengah juta pasangan suami istri di Indonesia telah bercerai sepanjang tahun 2019 lalu. Dari jumlah tersebut, mayoritas terjadi di Pengadilan Agama yaitu 347.234 kasus atas gugatan istri, sementara 121.042 perceraian dilakukan atas permohonan talak suami.

Jika dijumlahkan dengan data dari Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia yaitu 16.947 kasus, maka total perceraian di seluruh Indonesia adalah sebanyak 485.223. (news.detik.com, 28/02/2020).

Angka-angka tersebut tentu sangat memprihatinkan. Apalagi jika perceraian ini menimpa teman, kerabat, atau keluarga dekat kita, yang secara kasat mata pernikahannya nampak baik-baik saja.

Sungguh disayangkan, jika perceraian ini begitu mudah dijadikan sebagai solusi satu-satunya ketika ada perselisihan di dalam keluarga.

Memang, tidak ada satu pasangan pun yang memiliki cita-cita untuk bercerai saat mereka menikah dulu. Akan tetapi, seiring dengan berjalanannya waktu, adakalanya perceraian dianggap menjadi jalan keluar terbaik yang bisa diambil.

Terlebih, saat ini banyak sekali faktor yang melatarbelakangi terjadinya perceraian, misalnya masalah finansial. Dari 408.202 perceraian pada tahun 2018, faktor ekonomi menempati urutan kedua sebanyak 110.909 kasus. (databoks.katadata.co.id, 20/2/2020).

Saat ini, mendapatkan pekerjaan bukanlah sesuatu yang mudah. Persaingan di era Revolusi Industri 4.0 terasa semakin ketat, apalagi jika tidak didukung oleh latar belakang pendidikan yang layak. Padahal, memberi nafkah adalah kewajiban utama bagi para suami. Allah SWT berfirman:

لرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (QS. An-Nisa (4): 34)

Ketika para suami kesulitan dalam mencari nafkah, mau tidak mau, istri pun turun tangan untuk membantu jalannya perekonomian keluarga. Atas nama pemberdayaan perempuan, para istri pun ramai-ramai keluar rumah untuk bekerja.

Meskipun hukumnya boleh, namun ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian, yaitu terabaikannya hak asuh dan pendidikan anak di rumah.

Ketika ibu tidak lagi banyak berperan dalam penanaman nilai kehidupan, maka besar kemungkinan, anak-anak ini akan mencari panutan dari luar rumah atau bahkan dari gadget yang mereka punya.

Dari satu permasalahan ini saja, kita bisa melihat bahwa problem perceraian tidak bisa diselesaikan kecuali dengan solusi yang bersifat sistemik, sesuai syariat Islam.

Permasalahan finansial tidak seharusnya terjadi, jika negara benar-benar menjamin terlaksananya kewajiban memberi nafkah sebagai tanggung jawab suami.

Mekanismenya bisa melalui penyediaan lapangan kerja, penetapan standar upah yang mencukupi kebutuhan keluarga; pengaturan data kependudukan (data mahram) yang rapi; sampai dengan pemberian sanksi bagi kepala keluarga yang lalai dalam menjalankan kewajiban ini. Wallahu ‘alam bishawwab. []

*Guru di SMAN 1 Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi

Comment

Rekomendasi Berita