by

Indah Rizky Aulia*: Sekuler Tidak Akan Membawa Kebaikan Kepada Umat Manusia

-Opini-134 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sejak zaman para nabi diutus, Islam dan ajarannya mendapat perlakuan buruk dari berbagai pihak. Tanggapan, perlakuan kasar dan tidak beradab dari kafir Quraish hingga membunuh para nabi pembawa risalah pun terjadi.

Seakan sejarah berulang, di abad modern sekarang ini juga terjadi hal yang sama. Islam dengan kemuliannya mulai diawasi dan dicurigai. Stigma-stigma negatif diciptakan dan dilontarkan untuk menghapus misi kebaikan yang terkandung di dalam ajarannya. Tidak cukup sampai di sini, simbol simbol islam seperti  para ulama pun terus dicemooh dengan predikat buruk yang sama sekali berlawanan dengan realita.

Dikutip dari mediaindonesia.com 17/02/20, setelah wacana polisi masjid,  para penceramah atau khatib jum’at juga harus bersertifikat laiknya makanan halal dengan alasan agar tidak menimbulkan masalah kebangsaan. Padahal islam juga mengajarkan hubbul wathon minal iman.

Ma’ruf Amin mengatakan khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan karena posisinya sebagai penceramah akan berpengaruh pada cara berfikir, bersikap, dan bertindak dari umat Islam.

Dakwah, menurut mantan Ketua MUI ini seperti dikutip Media Indonesia, harus dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan. Pancasila dan NKRI adalah kesepakatan. Oleh karena itu, kita tidak boleh membawa sistem selain NKRI.

Dari fakta di atas dapat ditarik benang merah bahwa kebebasan beragama yang diatur di dalam UUD’45  pasal 29 itu belum secara sempurna diaplikasikan di dalam negeri kita yang mayoritas umat islam ini.

Begitupun dengan UUD’45 terkait pasal 28  yang menjamin kebebasan berpendapat masih berjalan semu. Dalam pelaksanaan demokrasi di negeri ini masyarakat muslim justru termarginalkan untuk menyampaikan kebenaran.

Padahal dalam konteks demokrasi, siapa pun berhak untuk bersuara dan menyampaikan kebenaran apalagi melalui mekanisme konstitusional.

Terkait pernyataan yang mengatakan bahwa tidak boleh membawa sistem selain NKRI, ini mengarah pada sistem Islam secara tidak langsung.

Persoalan mendasar yang menyebabkan munculnya problem di dalam negeri ini bukan Islam tetapi oleh penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Sekuler ini ingin meniadakan dan menghapus peran Allah dalam berkehidupan sosial dan negara. Maka sangat wajar jika kemudian muncul berbagai konflik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan ketahan negara. Karena kita telah lupa dan jauh dari nilai nilai ketuhanan  itu sendiri. Kita mencampakkan yang seharusnya kita aplikasikan.

Sekularisme berawal dari perbedaan pandangan kaum gereja dan ilmuwan. Masih ingat bagaimana kaum gereja mendukung dan sejalan dengan pemikiran filsuf seperti Amaximandaros, Aristoteles, Hipparchus  yang meyakini bahwa bumi itu datar dan sekaligus sebagai pusat tata surya?

Kemudian pada tahun 1616, filsuf, astromor dan ilmuwan Galileo berpendapat bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang dipahami gereja pada waktu itu.

Galileo Galilei berpendapat bahwa Matahari terletak di pusat dan tidak mengubah tempat, dan bahwa Bumi berputar pada dirinya sendiri (evolusi) dan bergerak di sekelilingnya (ber rotasi). Galileo Galilei tetap dengan teori Heliosentris sebagai pendiriannya bahwa matahari adalah pusat tata surya.

Karena pandangannya yang berseberangan dengan pihak gereja, filsuf, astronom dan pakar matematika asal Italia, Galileo Galilei ini pada 13 Februari 1633 diadili karena dianggap bidah.

Galileo akhirnya dijatuhi hukuman tahanan rumah oleh Paus Urban VIII. Dia kemudian menghabiskan sisa hidupnya di vila miliknya di Arcetri dekat Florence sebelum meninggal dunia pada 8 Januari 1642.

Sejak itulah terjadi pemisahan antara agama dan ilmu yang berkembang menjadi pemikiran sekularisme dan diikuti oleh bangsa bangsa di dunia termasuk Indonesia.

Paham ini terus dihembus dan hidupkan oleh para pembenci Islam, yakni para kafir barat dan segenap antek-anteknya. Mereka  terus berupaya memberi stigma buruk Islam dan ajarannya sebagai bagian dari program untuk menjauhkan Islam sebenarnya dari  kaum muslim.

Salah satu contoh upaya menjauhkan islam adalah isu radikalisme yang diarahkan kepada kaum muslim yang bersungguh-sungguh ingin melaksanakan syariat secara sempurna. Ini merupakan upaya menyerang dan menuduh Islam sebagai penyebab permasalahan dan anehnya, kaum muslim larut oleh propaganda Islamophobia ini.

Rezim sekuler selalu menempatkan Islam sebagai musuh yang  selalu mencari cari kesalahan ajaran islam dan penganutnya.

Padahal musuh sesungguhnya adalah para kafir barat beserta antek-anteknya yang ingin menguasai dan memuaskan kepentingannya. Dengan demikian, sangat jelas bahwa sistem sekuler akan selalu menempatkan Islam sebagai musuh.

Manakala kaum muslim menerima Islam menjadi rujukan baik dalam skala politik dan ekonomi sebagai upaya mencari solusi atas permasalahan di negeri ini, maka perlawanan kafir barat kian bertambah besar terhadap Islam.

Ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin tidak selayaknya dijadikan ancaman bagi negeri ini. Justru dengan Islam dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi. Fitnah oleh para pembenci Islam tidak akan berhenti untuk menjatuhkan Islam.

Seperti dalam Q.S Ali- Imram 3: 118 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Dalam ayat ini Allah dengan gamblang mengingatkan kepada umat Islam bahwa musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti untuk menyerang Islam dan kaum muslim.

Hidup dan bertahan dalam naungan sistem sekular buatan kafir barat hanya akan mendatangkan berbagai macam musibah dan malapetaka. Sekulerisme tidak bisa hidup berdampingan dan berkompromi dengan Islam.

Sudah saatnya kita tengok Islam sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi baik di level nasional maupun internasonal.

Sejatinya, Islam bukan hanya agama ritual melainkan lebih dari itu – sebagai sebuah ideologi yang mengatur seluruh lini kehidupan termasuk ekonomi, politik dan kehidupan.

Tidak ada lagi pemisahan ala sekular yang menyatakan bahwa negara untuk raja dan agama untuk Tuhan.

Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin bagi segenap makhluk di muka bumi tanpa membedakan golongan, ras, suku bangsa dan agama. wallahu’alam bisshawab.[]

 

*Penulis adalah mahasiswi Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Samarinda

Comment

Rekomendasi Berita