by

Menolak Intoleransi Terhadap Gereja Shincheonji Setelah Insiden Virus Corona

RADARINDONESIANEWS.COM, KORSEL – Media di seluruh dunia memusatkan perhatian pada Gereja Shincheonji, gerakan keagamaan Kristen baru Korea Selatan, setelah anggota-anggota jemaat gereja Daegu terinfeksi oleh virus corona.

“Sebagai seorang cendekiawan yang telah mempelajari Schincheonji, kata Profesor Massimo Introvigne, seorang sosiolog agama Italia yang terkenal dan direktur pelaksana CESNUR (Center Studi-studi Agama-agama Baru), saya prihatin dengan fakta bahwa media internasional yang jelas-jelas tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut telah ‘mengetahui’ gereja ini dalam semalam karena insiden virus corona di Korea, dan telah mengulang-ulang informasi yang tidak akurat yang telahereka temukan pada sumber-sumber Internet tingkat rendahan,”

Bahkan yang lebih memprihatinkan, adalah, tambah Introvigne, faktanya bahwa anggota Shincheonji yang telah terkena virus, yang menjadi korban dalam cerita ini, diperlakukan secara tidak adil oleh media Korea dan digambarkan sebagai “pengikut-pengikut sekte”.

Lebih buruk lagi, beberapa anggota Shincheonji telah dihina, didiskriminasi dan dipaksa keluar dari pekerjaan mereka, sebagai kambing hitam untuk sesuatu hal yang telah menjadi gangguan nasional dan internasional sehubungan virus tersebut.

Artikel-artikel internasional yang memusuhi Shincheonji telah mengutip versi bahasa Inggris dari berita surat kabar bertanggal 19 Februari dari Center Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC), sebuah organisasi di bawah Kementerian Kesejahteraan dan Kesehatan Korea Selatan, yang telah menyebut gereja itu sebagai “sekte Korea”.

Kata “sekte” tidak ditemukan dalam versi bahasa Korea dari berita surat kabar tersebut, atau dalam komentar-komentar dari presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, yang terus-menerus menyebut Shincheonji sebagai sebuah “gereja.”
Shincheonji bekerja sama dengan KCDC untuk menahan virus corona, dan mematuhi semua petunjuk dari ootoritas yang berwenang.

Gereja Shincheonji telah menunjukkannya. Pada saat yang sama, hal tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang fakta bahwa, meskipun ada berbagai keprihatinan yang telah disuarakan oleh Asosiasi Medis Korea, Korea Selatan tidak melarang kunjungan masuk ke negara itu dari Tiongkok.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap News, telah menyebutkan kemungkinan hubungan antara kedatangan 1.000 siswa Tiongkok dalam trip-trip sekolah ke Daegu bulan lalu dan pecahnya wabah-wabah epidemi di sana.

Sebagai bagian dari kerjasamanya dengan KCDC, Shincheonji telah memberikan daftar semua anggota kongregasinya di Daegu kepada otoritas berwenang. Sayangnya daftar ini telah dibocorkan ke beberapa media, yang menyebabkan anggota Shincheonji didiskriminasi, dihina, dan dalam beberapa kasus diberhentikan dari pekerjaan-pekerjaan mereka.

Sentimen-sentimen anti-Shincheonji di Korea Selatan didorong oleh kelompok-kelompok Kristen konservatif dan fundamentalis, yag terganggu oleh pertumbuhan cepat Shincheonji.

“Kelompok-kelompok ini memiliki sejarah propaganda yang tajam dan bahkan kekerasan fisik terhadap Shincheonji, yang anggotanya secara rutin diculik dan dikurung untuk diserahkan kepada konversi paksaan (pemrograman ulang), dan sekarang telah melangkah lebih jauh dengan menuduh anggota-anggota Shincheonji sengaja menyebarkan virus. Propaganda ini adalah berbahaya dan tidak bertanggung jawab, ” Kata Introvigne dan Willy Fautré, kepala NGO Human Rights Without Frontiers yang berbasis di Brussels.

“Faktanya bahwa otoritas Korea Selatan telah menutup mata terhadap praktik ilegal konversi paksa dan pemrograman ulang terhadap anggota-anggota Shincheonji,” Kata Fautré.

Hal ini tambah Fautré mengakibatkan kekerasan lebih lanjut.

“Sekarang, orang-orang Protestan fundamentalis yang sama mengambil keuntungan dari virus untuk menyebarluaskan pidato kebencian dan praktik-praktik diskriminasi yang terang-terangan melanggar hak-hak asasi manusia.”[Alice]

Foto/Alice

Comment

Rekomendasi Berita