by

Nelliya Azzahra*: Perempuan Dalam Lingkar Pendidikan

-Opini-43 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di Indonesia, ekonomi kerap menjadi alasan hambatan bagi perempuan untuk melanjutkan studi.

Sanita, belia asal Jawa Tengah yang pada Mei 2017 lalu menjadi wakil Indonesia dalam ajang Asian Development Bank’s 5th Annual Asian Youth Forum, bercerita kepada Huffingtonpost tentang pengalamannya hampir dinikahkan dini dulu.

Pada usia 13, atas dasar kesulitan finansial, Sanita sempat ingin dinikahkan orangtuanya. Ia menolak.

Perempuan meskipun nantinya akan mengurusi anak, rumah tangga, namun tidak harus menutup peluang mereka untuk mengeyam pendidikan. Apa lagi mengingat mereka adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya, maka pendidikan tinggi itu perlu.

Karena ketika menginginkan generasi yang cerdas, maka anak-anak layak pula mendapatkan ibu yang cerdas dengan ilmu yang mumpuni. Ibu yang kurang dalam hal pendidikan akan berefek pada pendidikan anak-anak kelak.

Alasan ekonomi juga membuat perempuan terpasung akan dunia pendidikan. Mereka diharuskan mengurusi ranah domestik saja. Biaya yang tinggi membuat mereka berpikir ulang untuk terus melanjutkan pendidikan.

Kemendikbud memandang, adanya persepsi bahwa perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan domestik membuat mereka kurang termotivasi untuk mengambil gelar S2 atau S3 sebagai syarat pengajar perguruan tinggi.

Mereka akhirnya mencukupkan diri pada batasan tadi, bahwa perempuan tidak perlu pendidikan tinggi.

menurut psikolog Pendidikan Reky Martha, banyak perempuan di beberapa daerah di pelosok Indonesia masih kurang mendapatkan pendidikan. Hal itu biasanya karena kurangnya fasilitas sekolah dan kebutuhan keluarga yang mewajibkan mereka menjadi tulang punggung.(CNN Indonesia, 10/3/2017)

Tidak menutup mata memang, banyak perempuan yang mengambil alih tugas mencari nafkah dalam keluarganya. Seperti misalnya menjadi TKW ke negara tetangga. Mereka akhirnya tidak terlalu mementingkan dunia pendidikan.

Adanya kesetaraan gender pada perempuan, nyatanya tidak bisa menuntaskan masalah serta melepaskan mereka dari jerat ekonomi.

Dilansir Satuan Harapan, (5/3/2020), menurut sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (4/3) dari UNICEF, Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Plan International. Laporan yang dirilis jelang sesi ke-64 Komisi Status Perempuan pekan depan itu, memaparkan jumlah anak perempuan yang putus sekolah turun 79 juta orang dalam dua dekade terakhir, dan dalam satu dekade terakhir anak perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melanjutkan ke sekolah menengah dibanding anak laki-laki.

Namun, pada kenyataannya hal ini tidaklah mengurangi angka kekerasan pada perempuan. Sehingga kasus kekerasan, serta pelecehan pada perempuan masih saja terjadi.

Pada 2016, 70 persen korban perdagangan orang yang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu, 1 dari setiap 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun, atau sekitar 13 juta anak perempuan, mengalami pemerkosaan dalam kehidupan mereka, salah satu bentuk pelecehan seksual paling kejam yang dapat dialami wanita dan anak perempuan, papar laporan itu.

Solusi yang yang ditawarkan sistem saat ini hanyalah tambal sulam serta tidak menuntaskan masalah pada akarnya.
Berbeda sekali dengan solusi yang Islam berikan.

Pendidikan Islam yang secara sederhana dapat diartikan sebagai
pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunah Nabi saw.

Ciri otentisitas ajaran Islam adalah bersifat menyeluruh (holistik), adil, dan seimbang.

Masa Rasulullah saw. merupakan masa yang paling ideal bagi kehidupan perempuan, di mana mereka dapat berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan publik tanpa dibedakan dengan kaum laki-laki.

Konsep pendidikan islami mengandung makna konsep nilai yang bersifat universal seperti adil, manusiawi, terbuka, dinamis, dan seterusnya sesuai dengan sifat dan tujuan ajaran Islam yang otentik sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Dalam pandangan Islam, semua orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama serta seimbang termasuk hak dan kesempatan dalam memperoleh dan dalam urusan pendidikan.

Rasulullah saw., bersabda :

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Islam tidak melarang perempuan menuntut ilmu asal tidak meninggalkan kedudukan mulianya yang telah diberikan Allah kepadanya sebagai ummun warobbatul bait.

Penekanan Islam terhadap pendidikan perempuan dapat dilihat, pertama pada masa periode Nabi saw. perempuan mendapatkan kedudukan yang terhormat dan setara dengan laki-laki, karena sebelumnya kaum perempuan mendapatkan kedudukan yang sangat rendah dan hina. Hina, hingga kelahiran seorang anak perempuan dianggap suatu aib dan harus membunuh anak itu semasa bayi.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan agar isterinya diajarkan menulis, untuk itu beliau berkata kepada Asy-Syifa (seorang penulis di masa Jahiliyah) tidak maukah anda mengajarkan mantera kepada Hafsah sebagaimana engkau telah mengajarkannya menulis.

Kemudian yang kedua adalah pada periode sahabat, pada masa ini telah banyak bermunculan ahli ilmu agama dan pengetahuan. seperti, Hafsah isteri Rasul yang pandai menulis, Aisyah binti Sa’ad yang juga pandai menulis, serta istri Rasul Siti Aisyah yang pandai membaca Al-Qur’an dan beliau adalah seorang ahli fiqh yang telah diakui oleh ahli fiqh lainnya.

Dilihat dari sejarah pendidikan yang telah dipaparkan di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan untuk perempuan sangatlah penting, mengingat kedudukan yang diberikan kepda perempuan juga penting

Oleh karena itu perempuan seharusnya aktif mencari ilmu apa saja, agar berwawasan luas karena kewajiban sebagai seorang isteri dan ibu ke depan memerlukan ilmu dan skil

Kehidupan yang akan datang mengharuskan seorang perempuan memiliki ilmu dan  mengurus keluarga mulai dari menyiapkan makanan dan mengajarkan anaknya ilmu agama serta ilmu duniawi.

Oleh karena itu pendidikan penting bagi perempuan agar tercipta generasi yang cerdas.Wallahu a’lam bishshawab.[]

*Novelis

Comment

Rekomendasi Berita