by

Nia Kurniati Hasibuan, M.H*: Gagap Menjadi Guru Dadakan Di Tengah Wabah Virus Corona

-Opini-102 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Genap sepuluh (10) hari (20/03/2020) sejak penetapan status tanggap darurat di Jakarta terhadap penyebaran virus corona atau yang disebut dengan Covid-19 sebagaimana dikutip kompas dimana sebelumnya telah terdeteksi pada Desember 2019 di Wuhan, China.

Dalam laman kompas disebut bahwa pada awalnya ditemukan kasus pneumonia antara tanggal 12-29 Desember 2019 dan pada 7 Januari 2020 Pihak berwenang China mengonfirmasi bahwa mereka telah mengidentifikasi virus tersebut sebagai virus corona baru, yang oleh WHO disebut sebagai 2019-nCoV hingga jadi pendemi global.

Virus corona seperti dijelaskan alodokter merupakan virus baru dan bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan dan bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Menghadapi virus ini,  banyak pihak yang terkena dampak keganasan yang telah menjadi pandemi global.

Menghadapi wabah ini, negara menjadi garda terdepan untuk melahirkan kebijakan yang tepat untuk bisa mencegah terjadinya penyebaran yang lebih luas lagi.

Selain Negara, tentu saja tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien Covid-19 dan bertaruh nyawa untuk bisa menyelamatkan banyak pasien.

Dampak lain akibat merebaknya covid-19 ini seperti dikutip ayobandung  juga dirasakan seluruh masyarakat dengan berbagai macam profesi mereka seperti guru, dosen, pegawai pemerintahan yang di WFH-kan (work from home) dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Menteri PANRB Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah.

Bahkan dampak itu seperri dikutip laman cnni juga dirasakan pula oleh para pencari nafkah harian seperti ojol , grab, tukang sapu, tukang parkir, dan lain sebagainya.

Terjadi sebuah dilemma di tengah masyarakat untuk tetap bekerja di tengah instruksi social distancing oleh pemerintah.

Menyikapi tanggap darurat penyebaran Covid-19 di Indonesia ini maka demi menyelamatkan banyak masyarakat dari penyebaran yang begitu cepat ini, melalui menteri pendidikan, pemerintah seperti dikutip siedoo mengeluarkan SE No. 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 Pada Satuan Pendidikan, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID- 19).

Keluarnya keputusan untuk meliburkan aktivitas dan proses pembelajaran sekolah menjadi ke rumah, rupanya menyebabkan permasalahan baru bagi sebagian murid.

Sebagian murid merasakan bahwa dengan pemberian tugas tanpa penjelasan guru menjadikan mereka bingung dalam pengerjaan tugas-tugas sekolah, terlebih lagi apabila orangtua turut menjadi guru bagi anak-anak yang tanpa persiapan atau tidak memiliki kapasitas selayaknya guru bagi anak-anak mereka seperti di sekolah.

Hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi anak didik yang menjadi stress dengan tumpukan tugas, atau pembelajaran yang tidak dipahami karena tanpa penjelasan dari guru, di tambah lagi dengan sekolah yang kurang mempersiapkan para guru agar dapat memberikan pengajaran online.

Bahkan orangtua mendadak menjadi guru di rumah, yang pada akhirnya menyebabkan stress tidak menimpa anak saja, melainkan guru juga orangtua.

Retno Listyarti selaku Komisioner Bidang Pendidikan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengevaluasi pembelajaran di rumah setelah mendapatkan keluhan baik dari orangtua murid dengan bertumpuknya tugas dan tanpa penjelasan bahan ajar, juga guru yang kurang atau bahkan tidak dibekali dengan persiapan pembelajaran online.

Menurut Retno sebagaimana dijelaskan di laman kumparan,  hal ini yang sangat disayangkannya terhadap Kemendikbud dan dinas-dinas pendidikan lainnya atas kebijakannya tersebut.

Menyoroti peran pendidik,  tidak semestinya dibebankan pada guru di sekolah saja karena pada hakekatnya pendidikan utama dan pertama bagi anak adalah dalam keluarga yang dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Melihat kondisi gagapnya sebagian orangtua dalam mengajarkan anak-anak mereka di tengah merebaknya wabah virus Covid-19 ini menjadi catatan bagi para orangtua bahwa peran guru sangat berharga demi mengajarkan anak-anak bangsa untuk paham pembelajaran terutama di sekolah.

Lebih dari itu, sesungguhnya peran orangtua jauh lebih besar sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya. Selain ahli dalam bidang yang diajarkan di sekolah, pembelajaran agama berupa akhlak, adab, syari’at dan lain sebagainya penting untuk didapatkan anak dari kedua orangtuanya.

Miris melihat sebagian orangtua yang selain gagap juga bingung untuk bisa mendidik anak-anak mereka di rumah.

Gagapnya orangtua ini disebabkan banyak faktor misalnya; orangtua memang tidak paham pembelajaran di sekolah, mereka tidak dididik untuk memahami itu, atau sebelumnya merasakan bahwa sekolah adalah pendidik utama bagi anak-anak mereka tanpa memahami bahwa pendidikan utama anak adalah di rumah masing-masing, di mana anak mendapatkan pengajaran utama tentang kehidupan selain pembelajaran sekolah.

Berdasarkan hal itulah, maka penting untuk mengetahui bagaimanakah pendidikan yang baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Penulis mengajak untuk merujuk pada pandangan Islam mempersiapkan para ibu mencetak generasi pembangun peradaban gemilang.

Islam memiliki aturan yang sempurna sebagai landasan kebaikan bagi siapapun dalam segala bidang.

Islam mempersiapkan peran ibu mendidik anak-anak dalam rumah, sehingga para perempuan dibekali dengan ilmu agama yang baik, mengerti tentang tumbuh kembang anak, dan tentu saja paham akan syariat Islam sehingga dia bisa mengajarkan pada anak-anaknya tentang hak Allah SWT untuk ditaati, dan kewajibannya (anak) untuk taat pada Tuhannya.

Maka hal ini, bagi para ibu (perempuan), dia tidak saja akan mendidik anak-anak sebatas memahami pelajaran sekolah, namun jauh dari itu, seorang ibu harus hadir sepenuhnya (bersama suami tentunya) untuk membentuk kepribadian anak dengan pendidikan berkarakter Islam.

Menelaah sejarah Islam tentang Imam As-Syafi’i yang sangat luar biasa keilmuan dalam agama, maka siapakah ibu yang mendidiknya?

Kemudian Al-Khansa, seorang ibu dari 4 pemuda syuhada. Keempat anaknya dididik dan dibina dengan Aqidah Islam sehingga bisa menjadi pembela agama Islam dan syahid mulia di medan Perang Qadisiyah.

Ibu mana yang dengan ridho menjadikan buah hatinya sebagai pejuang dan penjaga Islam terpercaya, kalau bukan karena pemahaman Islam yang dimilikinya untuk membekali anak-anaknya dengan amal-amal mulia.

Banyak lagi kisah ibu-ibu mulia dalam Islam yang dapat dijadikan panutan dalam mendidik anak-anak agar berguna tidak saja bagi orangtuanya namun bagi agamanya juga.

Pada masa itu pula ditemukan guru-guru terbaik yang dapat mengajarkan aqidah Islam pada setiap anak Muslim, dimana kepatuhan dan penghormatan murid pada gurunya berdasar pada keimanannya pada Allah SWT.

Negara memberi apresiasi terbaik kepada guru dengan memberikan ganjaran emas seberat karya tulis mereka yang berjilid-jilid.

Dengan demikian, peran mereka semua sangat berharga untuk dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dan terbentuknya kepribadian Islam pada generasi di kala itu.

Harapan yang sama kepada para ibu saat ini agar merujuk pada ibu-ibu mulia di masa Islam sehingga mampu mengambil pelajaran dan dapat menjalankan amanahnya sebagai ibu pendidik generasi demi mewujudkan peradaban Islam.

Untuk membantu para ibu masa kini agar berperan lebih maksimal dibutuhkan dukungan yang dapat mewujudkan tujuan pendidikan itu sendiri. Dukungan tersebut adalah peran pasangannya (suami), masyarakat juga Negara.

Ketiganya memiliki peran besar agar beban ibu atau orangtua tidak menjadi lebih berat. Setiap pembelajaran yang diberikan di rumah harus didukung oleh masyarakat yang memiliki pemahaman yang sama dalam mendidik anak-anak di lingkungan mereka.

Begitu juga negara, harus hadir untuk menunjang pendidikan orangtua pada anak menjadi lebih mudah dengan ragam kebijakan yang produktif.

Misalnya, membina anak jauh dari pergaulan bebas. Maka orangtua tentu saja membekali anak dengan pemahaman pergaulan yang baik sesuai Islam dan etika sosial.

Hal ini perlu didukung masyarakat di mana anak itu tinggal untuk secara bersama memberikan perhatian pada anak-anak di sekitarnya

Maysarakat bergerak dengan menegur dan mengontrol anak-anak di lingkungannya agar tidak bergaul secara bebas.

Sealin itu, negara juga terlibat dalam kebijakan dan peraturan untuk menindak tegas apabila ada masyarakatnya (anak-anak) yang melakukan pelanggaran (gaul bebas).

Dengan bergeraknya tiga komponen itu, maka diharapkan pembentukan kepribadian anak-anak akan terjaga, karena penjagaannya tidak saja diserahkan pada keluarga (orangtua), namun sama-sama dilakukan antara keluarga, masyarakat juga Negara, sehingga beban pendidikan terhadap anak menjadi lebih mudah, terarah dan satu tujuan.

Disinilah pentingnya visi pendidikan berbasis Islam, dan juga misi untuk mewujudkan dengan melibatkan seluruh komponen untuk bisa mewujudkan pendidikan yang baik untuk generasi.

*Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Palangka Raya

Comment

Rekomendasi Berita