by

Novianti, M.Pdi*: Belajar Di Rumah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Rumah mendadak jadi sekolah mini tatkala pemberitahuan secara mendadak pemberlakuan Social Distancing. Menjaga jarak dengan orang lain, menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kebijakan yang harus dilakukan karena jumlah penderita meningkat dengan korban meninggal bertambah banyak. Sebagaimana dikutip cnni  per tanggal 25 Maret 2020, jumlah penderita sudah mencapai 790 kasus, 58 meninggal dan 31 sembuh.

Menghadapi situasi ini, para orang tua tidak punya pilihan demi keselamatan anak-anaknya. Rumah yang biasanya sepi di jam sekolah, berubah jadi 24 jam full penghuni. Seorang ibu yang biasa hari-hari mengatur pekerjaan domestik, harus jadi guru tahfizh, guru ngaji sekaligus guru mapel semua pelajaran. Tidak pernah belajar keterampilan mengajar tapi wajib dilakukan demi anak.

Semua tugas dilakukan pada saat yang bersamaan sehingga ibu benar benar harus mengatur waktu. Warga rumah tetap aman, nyaman dan terkendali.

Kita tidak tahu berapa lama kondisi ini berlangsung. Perkembangannya harus dicermati hari demi hari. Menghadapi mahluk kecil tak terlihat ibarat berperang tapi tidak tahu di mana keberadaan musuh. Karenanya, para orang tua, terutama ibu, harus mengambil napas panjang untuk melewati ini semua. Kita tidak sedang balap lari cepat, tapi lari marathon yang membutuhkan strategi, atur nafas, mental agar bisa sampai di finish.

Apapun kondisinya, tetap ajak semua anggota keluarga bersikap optimis dan melihat dari kaca mata positif. Inilah saat yang baik untuk meningkatkan kekompakkan keluarga, saling mendukung dan membantu.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua saat pemberlakuan home learning (belajar di rumah).

Pertama, ajaklah seluruh anggota keluarga berkumpul untuk memahami situasi yang terjadi. Jelaskan kondisinya sesuai kemampuan berfikir anak. Apa itu Social Distancing, mengapa harus dilakukan, bagaimana caranya dan berapa lama. Kuatkan keyakinan anak tentang takdir, kekuasaan Allah sehingga semua menjalaninya dengan ikhlas.

Memohon pada Allah agar memberikan kemudahan dalam menjalani keadaan genting dan mendadak ini. Meminta semua anggota keluarga diberi kesehatan, dicurahkan ilmu yang bermanfaat, semua aktivitas diberkahi.

Kedua, minta masing- masing membuat jadwalnya termasuk orang tua. Anak diharapkan memahami bahwa ada waktu mereka harus belajar mandiri ada saat orang tua mendampingi. Namun mereka tahu di waktu ketidakhadiran orang tua karena melakukan urusan lain yang sama pentingnya.

Ketiga, pastikan kesehatan dan kebersihan tetap terjaga. Imun tubuh yang baik akan membantu melindungi tubuh dari berbagai penyakit termasuk serangan virus. Kenalkan pada anak makanan halal dan thoyyib agar mereka mau belajar mengkonsumsinya meski mungkin tidak terlalu menyukai. Anak harus mulai membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Gaya hidup anak sekarang cenderung menyukai junk food atau makanan kemasan.

Dalam perut banyak mikrobiota yang memerlukan makanan bersumber dari buah dan sayur untuk meningkatan kekebalan tubuh.

Keempat, makanan sehat tidak harus selalu mewah. Makanan sehat tergantung jenis dan cara pengolahannya. Saat anak berada di rumah, seorang ibu bisa kerepotan jika harus mengolah makanan yang rumit serta membutuhkan waktu lama. Carilah menu sederhana dengan persiapan yang tidak menyita waktu. Jangan menghabiskan waktu terlalu banyak untuk memasak. Prioritaskan pada kecukupan gizi.

Kelima, libatkan anak membantu pekerjaan di rumah. Jika selama ini anak tahu beres karena berangkat pagi dan pulang sore dengan kondisi rumah sudah rapih.

Berikan tugas sesuai usia anak. Tidak semua pekerjaan rumah dikerjakan ibu seorang diri. Justru keberadaan anak di rumah menjadi kesempatan mereka belajar keterampilan hidup sehari hari seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, memasak.

Buat kesepakatan pembagian peran agar semua kegiatan berjalan sesuai jadwal. Jika ayah juga bekerja di rumah bisa dilibatkan untuk sama-sama menyelesaikan pekerjaan rumah.

Keenam, jaga komunikasi dengan guru di sekolah. Tetap usahakan agar komunikasi lancar. Pahami juga bahwa pada saat yang sama gurupun memiliki keluarga.

Di rumah mereka tidak hanya jadi guru anak sendiri tapi harus juga melaksanakan amanah sekolah.

Beberapa kondisi yang tidak ideal perlu saling dimengerti. Bagi siapapun, suasana ini menimbulkan ketidaknyamanan.

Namun, dengan melihat bahwa kita dan guru adalah satu keluarga besar yang berusaha memenuhi hak belajar anak, haruslah kompak dan bersinergi.

Ketujuh, kelola emosi. Menghadapi jadwal yang berderet bisa menimbulkan tekanan terutama bagi seorang ibu. Misalkan, ibu beranak tiga dengan usia TK-SD, harus menjadi guru dengan level berbeda.

Sebentar bermain terus menangis. Sebentar tenang tiba tiba ribut. Sebentar urus kakaknya, adiknya berteriak. Baru selesai merapihkan tak lama kembali berantakan.

Mendadak jadi guru borongan belum lagi membujuk anak untuk tetap mau hapalan dan setoran perlu kesabaran ekstra. Mencari Me Time susah karena bertemu dengan anak sepanjang waktu.

Perlu tarik nafas panjang lalu ingat bahwa proses ini adalah bagian dari ibadah. Jangan buat target terlalu tinggi tapi jangan juga anak dibiarkan. Berkomitmen terhadap semua yang disepakati sudah harus disyukuri.

Kita tidak tahu kapan kondisi darurat ini berakhir. Sehingga orang tua harus mulai membiasakan diri dengan kegiatan belajar di rumah. Ini saat yang baik untuk menguatkan fungsi orang tua sebagai pendidik utama dan pertama di rumah.

Karena kelak di yaumil akhir, perihal pendidikan anak adalah orang tua bukan guru atau ustadz di sekolah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Selamat menjalani peran guru sejati, wahai orang tua.

*Pengelola TK Anak Sholeh Makassar dan Bekasi, Mudirah Sekolah Tahfizh Iqro, Bekasi.

Comment

Rekomendasi Berita