by

Risnawati*: Gurita Covid 19 Dan Derita Para Medis

-Opini-117 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kini pemerintah gagap dalam menghadapi penyebaran covid-19 yang masuk di negeri ini. Lebih krusial lagi nasib para pejuang medis covid-19 sebagai garda terdepan pun terabaikan oleh pemerintah.

Seperti dilansir Harianhaluan.Com – Dokter Pandu Riono dalam akun twitter resminya mengatakan meninggalnya dokter Djoko Judodjoko akibat terinveksinya corona atau COVID-19 karena sulitnya alat pelindung Diri (APD). Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor, mengakui kurangnya APD dalam tangani COVID-19.

“Sekarang mengenai APD tenaga medis, sebenarnya mau jujur sih kurang optimal ya, kalau kita lihat itu perlengkapan untuk alat perlindungan diri memang kurang memadai. Tapi kita bilang kekurangan tidak juga, maksudnya, mungkin faktor lain frekuensi kunjungan pasien, komplit lah masalah. Kalau dibilang kurang APD enggak juga,” kata Ketua IDI Kota Bogor dokter Zainal Arifin, seperti dilansir vivanews, Ahad (22 Maret 2020).

Lanjut Zainal menjelaskan, faktor lainnya saat ini tenaga medis sudah menerapkan prosedur ketat sejak berada di UGD. Mulai dari pasien yang masuk itu diperiksa seluruh tubuhnya.

“Tetapi kita tidak menutup kemungkinan bahwa memang kurang memadai ya,” katanya. Zainal mengungkapkan, semua orang tidak tahu terkait penyebaran COVID-19. Bahkan, menurut dia, penyebadan bisa melalui banyak tempat. Orang yang tertularpun kondisinya bisa terlihat sehat.

“Sebenernya kita tidak tahu penyebaran virus ini sudah tidak terkontrol di mana-mana, banyak tempat sebenarnya apakah itu di luar dilingkungan, apakah di rumah, bahkan yang terkena kondisinya sehat. Umumnya juga berdasarkan pengamatan kita yang berumur lansian 60-70 tahun dan komplikasi lain rentan perburukan kondisi klinis covid 19 ini dan berakhir pada kematian,” imbuh Zainal.

Dilansir juga dalam TEMPO.CO, Kendari – Penanganan wabah virus Corona di Kota Kendari bisa terganggu sebab dokter dan perawat di IGD RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara mogok kerja per hari ini, Jumat, 20 Maret 2020.

Mereka menilai manajemen rumah sakit pelat merah itu tidak maksimal menyediakan alat pelindung diri (APD) di rumah sakit rujukan perawatan pasien Corona tersebut.

Seorang perawat IGD yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan total terdapat 40 dokter dan perawat yang mogok kerja.

“Padahal kalau merawat pasien positif Corona APD seperti masker harus benar-benar aman,” ucapnya kepada Tempo pada Jumat sore, 20 Maret 2020.

Ironis, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang menjadi basic standar kerja para medis ini menjadi salah satu kendala utama. Padahal dari hari ke hari dan hari-hari mendatang mereka bakal berhadapan dengan kehadiran calon pasien yang melebihi kapasitas normal.

Mereka telah berjibaku di antara dua pilihan yakni antara upaya memberi pertolongan kepada orang lain dan keselamatan dirinya dengan APD yang terbatas.

Tidak sedikit mereka yang karena panggilan kemanusiaan, mereka rela kerja tanpa memperhitungkan waktu kerja normal. Belum lagi kadang mereka masih harus menghadapi ocehan-ocehan atau bahkan cacian-cacian dari keluarga pasien yang tidak mau tahu tentang kondisi kedaruratan.

Menjadi sebuah keniscayaan bagi pemerintah untuk segera mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan para medis ini, terutama dengan memenuhi kebutuhan APD, memberikan intensif yang memadai, memberikan jaminan asuransi bagi diri dan keluarganya.

Hanya Islam Solusinya

Dalam sejarah Islam, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita.

Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

“Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).

Olehnya itu, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar.

Sebagaimana Beliau bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).

Ditambah lagi, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk.

Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Penanganan Kesehatan Dalam Khilafah
Rasulullah saw telah menegaskan yang artinya,” “Imam(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari).

Oleh karena itu, Negara memiliki peran untuk senantiasa menjaga perilaku sehat warganya. Salah satunya menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan pelayanan dan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten.

Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboraturium medis, apotik, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis.

Negara juga wajib mengadakan pabrik pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, akupunkturis, penyuluh kesehatan dan lain sebagainya. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya ataupun miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya.

Pembiayaaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum. Dengan demikian, apabila terjadi kasus wabah penyakit menular dapat dipastikan negara dengan sigap akan membangun rumah sakit untuk mengkarantina penderita, atau membangun tempat karantina darurat. Serta mendatangkan bantuan tenaga medis yang handal dan profesional untuk membantu agar wabah segera teratasi.

Pelayanan kesehatan terbaik hanya ditemukan pada masa Khilafah. Hal ini karena negara hadir sebagai penerap syariat Islam secara kaaffah, termasuk yang bertanggung jawab langsung dan sepenuhnya terhadap pemenuhan hajat pelayanan kesehatan gratis berkualitas terbaik setup individu publik.

Kehadiran negara sebagai pelaksana syariah secara kaafah, khususnya dalam pengelolaan kekayaan negara menjadikan negara berkemampuan finansial yang memadai untuk menjalankan berbagai fungsi dan tanggungjwabnya. Tidak terkecuali tanggungjawab menjamin pemenuhan hajat setiap orang terhadap pelayanan kesehatan. Gratis, berkualitas terbaik serta terpenuhi aspek ketersediaan, kesinambungan dan ketercapaian.

Dalam hal ini negara harus menerapkan konsep anggaran mutlak, berapapun biaya yang dibutuhkan harus dipenuhi. Karena negara adalah pihak yang berada di garda terdepan dalam pencegahan dan peniadaan penderitaan publik. Demikianlah tuntunan ajaran Islam yang mulia.

Hasilnya, rumah sakit, dokter dan para medis tersedia secara memadai dengan sebaran yang memadai pula. Difasilitasi negara dengan berbagai aspek bagi terwujudnya standar pelayanan medis terbaik. Baik aspek penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian terkini, ketersediaan obat dan alat kedokteran terbaik hingga gaji dan beban kerja yang manusiawi.

Inilah model pelayanan kesehatan terbaik sepanjang sejarah manusia, buah penerapan sistem kehidupan Islam, penerapan Islam secara kaafah dalam bingkai Khilafah.

Maka, Rasulullah saw. Bersabda, “Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat) (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Wallahu A’lam.[]

*Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah

Comment

Rekomendasi Berita