by

Sherly Agustina, M.Ag*:  Satu Abad Dunia Tanpa Khilafah

-Opini-237 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Yahya al Laytsi menceritakan kepadaku dari Maalik, bahwasanya sampai kepadanya, sesungguhnya Rasulullah-shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” Sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh dengan keduanya kamu sekalian tidak akan sesat (yaitu) Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya”. (HR. Muslim).

Sejak runtuhnya khilafah 3 Maret 1924, kaum muslim tidak lagi memiliki induk  yang mengurus segala keperluan dengan baik. Bagai anak yang kehilangan induknya, tak tahu arah hendak ke mana.

Sementara para penjahat yang telah menghancurkan khilafah, bermuka dua- mereka bermanis muka di hadapan kaum muslim seolah sebagai penolong, padahal pedang mereka masih berlumur darah.

Hingga saat ini 3 Maret 2020, tepat 96 tahun kaum muslimin tanpa khilafah. Kondisi kaum muslim luka parah berdarah-darah, ditambah virus yang terus menyerang. Entah sampai kapan semua berakhir. Umat Islam banyak tapi tidak ada yang menyatukan mereka, seperti yang digambarkan oleh Baginda nabi Saw:

“Diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda,“Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya, “apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit”. Rasulullah menjawab, “jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulallah?” Beliau bersabda,“ Cinta dunia dan takut mati!”. (Silsilah hadist shahih no.958).

Umat Islam tidak hanya berhadapan dengan musuh-musuh Allah Swt dari kalangam orang kafir tapi juga kaum munafik di kalangan kaum muslim.

Mereka berselingkuh begitu mesra mengkhianati umat dengan kaum kafir penjajah.

Kezhaliman tiada henti, ajaran Islam yaitu khilafah dikriminalisasi, ulama dan para pejuang dipersekusi, agama dianggap musuh, ayat suci Alquran di tempatkan di bawah konstitusi, Assalamu alaikum diganti dengan salam Pancasila.

Begitu pula dalam masalah ekonomi, kapitalisme merongrong tiada henti, SDA dikuasai dan diprivatisasi, jebakan hutang yang membunuh atas nama investasi, kebijakan kebijakan lain yang menggerogoti tubuh umat yang mematikan secara perlahan.

Pengangguran dan PHK di depan mata. Kemiskinan merajalela, harga-harga kebutuhan dasar melambung tinggi. Dalam kondisi menyedihkan seperti ini, kemana rakyat hendak mengadu?

Umat Islam tercerai-berai oleh virus nation state dan disibukkan dengan urusan negara masing-masing.

Masih segar dalam ingatan bagaimana kaum muslim Xinjiang, Uighur, Palestina dan negara lain ditindas dan didzalimi. Kondisi terkini adalah kaum Muslim di India.

Kaum radikal Hindu India membakar Alquran,  rumah kaum muslim, Masjid, menzhalimi warga muslim dengan kekerasan dan penyiksaan tanpa perikemanusiaan  hingga jatuh korban jiwa. Dalam Islam,  membunuh satu nyawa seorang manusia sama dengan membunuh seluruh umat manusia.

Umat Islam dalam sejarah keemasannya dahulu, sangat terlindungi dengan payung khilafah yang mengayomi mereka bahkan umat lain mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Ingat kasus Khilafah Ali yang diputus bersalah oleh Qodi karena tuntutan oleh seorang Yahudi?

Pengadilan memenangkan si Yahudi atas perkara yang diajukan ke meja hijau saat itu. Sayyidina Ali, RA yang saat itu merupakan seorang khalifah (presiden, red) menerima putusan salah dan kalah oleh seorang yahudi dari kalangan rakyat biasa.

Khilafah menegakkan keadilan bagi semua dalam konteks ketaatan kepada Allah semata bukan untuk kepentingan penguasa.

Imam Qarafi menyinggung masalah tanggung jawab negara  terhadap ahlu dzimmah.

Ia menyatakan, “Kaum Muslim memiliki tanggung jawab terhadap para ahlu dzimmah untuk menyantuni, memenuhi kebutuhan kaum miskin mereka, memberi makan mereka yang kelaparan, menyediakan pakaian, memperlakukan mereka dengan baik, bahkan memaafkan kesalahan mereka dalam kehidupan bertetangga.

Umat Islam juga harus memberikan masukan-masukan pada mereka berkenaan dengan masalah yang mereka hadapi dan melindungi mereka dari siapa pun yang bermaksud menyakiti mereka, mencuri harta mereka atau merampas hak-hak mereka.

Di masa Ibnu Qasim yang berkuasa begitu singkat, hanya empat tahun, umat agama-agama lokal (Hindu dan Budha) dilindungi haknya untuk tinggal dan beribadah (90-96 H).

Begitupun dengan umat Kristiani, mereka diperlakukan dengan baik. Seorang orientalis dan sejarawan Kristen,  T.W. Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam, A History of Propagation Of The Muslim Faith, membeberkan fakta-fakta kehidupan dalam negara Khilafah.

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani–selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani–telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa

Khilafah bukan kebutuhan umat Islam belaka tetapi kebutuhan manusia di muka bumi ini secara keseluruhan, yang membawa misi semata-mata untuk menebar Rahmat ke seluruh alam sebagaimana firmanNya:

“Dan tidaklah kami mengutusmu (wahai Muhammad Saw) kecuali Rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al Ambiya: 107).

Khilafah tak lagi ada dan dunia dikuasai kapitalisme. Kapitalisme dengan wajah aslinya yang begitu bengis, berpura-pura bermanis muka padahal dengan kekuatan modal yang mereka miliki, mereka berkeinginan untuk menguasai seluruh milik kaum muslim di dunia ini.

Tapi ingatlah, sebagaimana yang disinyalir Nabi Muhammad SAW bahwa akan lahir setiap abad umat yang peduli dengan kondisi saat ini. Umat yang sangat mencintai Allah dan Allah juga mencintai mereka.

Kelompok ini yakin akan pertolongan dan janji Allah Swt, mereka terus berdakwah dan berjuang tanpa henti meski nyawa sebagai taruhannya. Hanya dua pilihan buat mereka, hidup mulia atau mati syahid., Isy Kariiman Aw Mut Syahiidan. Allahu A’lam bi Ash shawab.[]

*Anggota Komunitas Revowriter Waringin Kurung

Comment

Rekomendasi Berita