by

Sidang BNB: Kuasa Hukum Kecewa

RADARINDONESIANEWS.COM, CIBINONG – Pengadilan Negeri Cibinong Kelas 1A kembali menggelar sidang lanjutan Perkara Nomor 70/pid.b/2020/pn.cbi dengan terdakwa Lala, Rabu ( 18/03/2020).

Sidang beragenda pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) tersebut menghadirkan, Rizal, Murdianto dan Dewi.

Dalam kesaksiannya, Rizal mengatakan bahwa terdakwa Lala telah melakukan order fiktif pada tahun 2016 dan tahun 2018. Salah satunya yakni orderan atas nama ibu Mimi dan Salman Wijaya.

Terdakwa Lala telah memanipulasi data dengan menuliskan alamat rumah ibu Mimi adalah tempat tinggal namun setelah di kroscek ternyata bukan.

“Setelah pihak kami (PT. BNB -red) mensurvey alamat tersebut, ternyata itu bukanlah tempat tinggal, melainkan rumah toko ( Ruko) “, tutur Rizal.

Selain itu, lanjutnya, orderan atas nama Salman Wijaya, setelah dimintai keterangan ternyata tidak pernah melakukan transaksi order.

“Salman Wijaya berkata kepada saya kalo dia hanyalah sebagai tukang pasang keramik dan juga tidak mempunyai kemampuan dalam finansial dalam pemesanan order”, ujar Rizal.

Rizal juga memberi kesaksian bahwa, meskipun belum adanya pembayaran dari pengorderan, tapi fee sudah bisa di keluarkan atau diambil oleh marketing setelah 3 bulan pengorderan.

Rizal mengakui hanya tahu fee sebesar Rp. 8 juta saja dan itu pun belum dikembalikan oleh terdakwa ke perusahaan setelah adanya pembatalan order.

Sebelumnya, terdakwa Lala(32) warga Citeureup, dilaporkan oleh PT. BNB, dengan laporan polisi No. LP/B462/IX/JBR/RES tanggal 6 September 2019 pasal 378 Dan 372 KUHAP.

Terdakwa Lala yang pada saat kejadian masih berkerja sebagai marketing di PT. BNB sejak tahun 2013-2017 didakwa oleh JPU telah melakukan order fiktif dan penggelapan fee sebesar Rp271.560.000,-

Sementara itu Murdianto selaku Direktur Operasional PT. BNB dalam kesaksiannya di depan Majelis Hakim mengatakan, orderan fiktif yang di lakukan terdakwa, diketahuinya, setelah adanya audit dari perusahaan dan juga dari data data yang tidak singkron.

Dari data tersebut ditemukan pembatalan pembatalan sales order ( SO) dengan nilai yang besar, yakni sebesar Rp 16 milyar, salah satunya yakni pembatalan SO atas nama Ibu Mimi dan Salman Wijaya, ujarnya.

Murdianto pun mengungkapkan bahwa SO atas nama Salman Wijaya sama sekali tidak pernah melakukan transaksi pengorderan, dan hal tersebut sudah ada pernyataan tertulis dari kuasa hukum nya.

“Salman Wijaya berkerja hanya sebagai tukang pasang keramik, dan tidak mempunyai kemampuan finansial dalam melakukan orderan “, ujar Murdianto.

Murdianto menambahkan bahwa, setelah kejadian tersebut, terdakwa Lala masih diberikan kesempatan berkerja di perusahaannya, yakni sebagai freelance.

Saksi Murdianto hanya mengetahui 14 orang yang telah melakukan pembatalan SO.

Sedangkan Dewi selaku staf Finance dalam kesaksiannya mengatakan tidak tahu apa apa soal pembatalan SO. Dirinya mengakui hanya mengetahui 2 orderan fiktif saja.

Usai persidangan Kakak terdakwa, Tina mengungkapkan rasa kekesalannya. Menurutnya, saksi Dewi mengetahui hal tersebut, karena itu adalah bidangnya. Dan saksi Murdianto pun harusnya sudah mengetahui karena SO berjalan hingga terbitnya faktur tagihan dan fee dikeluarkan setelah adanya tanda tangan dari Direktur (Murdianto-red).

“1Seharusnya Murdianto mengetahui itu semua, karena dia juga ikut menandatangani. Kalo di persidangan dia bilang tidak tahu, itu kan lucu banget”, ujar Tina.

Sementara itu Penasihat Hukum terdakwa, Fitriansjah Toisutta merasa kecewa.

“Perkara ini tidak harus sampai di P21kan, karena secara formil sudah cacat hukum. Dimana tidak ada kejelasaan yang pasti si Pelapor di beri kuasa atau hanya di beri tugas oleh Perusahaan. ” Imbuhnya. (Moer/Emy).

Comment

Rekomendasi Berita