by

Siti Mardhiyah, S.M*: Mencetak Generasi Berkualitas Dengan Pendidikan Berkelas

-Opini-79 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan mendasar demi keberlangsungan hidup manusia. Dari pendidikan pula manusia belajar untuk mengaplikasikan ilmu serta pengalaman dalam kehidupan.

Namun berbagai tragedi mewarnai wajah pendidikan, mulai dari meningginya pengangguran terdidik, perilaku negatif para siswa dan mahasiswa (pornograsi, freesex, narkoba, kriminal) sampai demontrasi para guru dan tenaga kependidikan lain yang menuntut kenaikkan tunjangan merupakan kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi.

Betapa pondasi dunia pendidikan yang dibalut dan direpresentasikan oleh sistem sekulerisme materialistik saat ini sangat rapuh.

Belum lagi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemangku kekuasaan yang tidak menyentuh persoalan. Baru-baru ini menteri pendidikan memutuskan untuk meniadakan Ujian Nasional dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas.

Dikutip dari www.kompas.com
Presiden Joko Widodo memutuskan meniadakan ujian nasional ( UN) untuk tahun 2020.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman melalui keterangan tertulis, Selasa (24/3/2020).

“Keputusan ini sebagai bagian dari sistem respons wabah Covid-19 yang salah satunya adalah pengutamaan keselamatan kesehatan rakyat. Seperti yang telah disampaikan bahwa sistem respons Covid-19 harus menyelamatkan kesehatan rakyat, daya tahan sosial, dan dunia usaha,” kata Fadjroel.

Hal ini menimbulkan banyak spekulasi dari para orang tua dan juga siswa.

Selain dari kebijakan yang membingungkan orang tua dan siswa, fenomena ini menimbulkan dampak di tengah masyarakat indonesia yang pmengalami krisis multidimensional dalam aspek kehidupan.

Sementara itu, sistem pendidikan sekuler materealistik ini terbukti tidak berhasil melahirkan generasi shaleh berkeprbadian mulia yang sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Secara formal kelembagaan, sekularisasi pendididkan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen yang berbeda, yakni Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan (IPTEK) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tak tersentuh standart nilai agama.

Pemisahan antara agama dan kehidupan terbaca jelas, yang secara kentara agama tidak boleh mencampuri urusan kehidupan dan pendidikan.

Agama diperbolehkan membahas kehidupan namun dengan ranah dan tempat yang terbatas di masjid dan majlis ilmu saja, sementara dalam ranah pendidikan umum, agama tidak boleh turut campur di dalamnya.

Sejarah menggambarkan para sahabat Rasulullah menguasai ilmu dalam usia yang masih belia. Salah satu tokoh sejarah yang terkenal di kerajaan Utsmani adalah sultan Al-fatih yang berhasil menaklukkan konstantinopel di usia 21 tahun dengan bekal keimanan dan ilmu yang sangat kuat.

Dunia mencatat sistem pendidikan islam mampu mencetak ilmuwan-ilmuwan muslim handal di berbagai bidang, Alkhawarizmi bapak matematika penemu angka, Ibnu Sina, bapak kedokteran, Ibnu Haitham, penemu optik, Jabir ibn Hayyan, bapak kimia, Ibnu Albaithar yang tekenal di bidang botani dan masih banyak ilmuwan muslim lain yang ilmunya sampai sekarang dipraktekkan dalam dunia pendidikan.

Bagian terpenting dalam sebuah konsep pendidikan islam adalah yang berkaitan dengan keimanan (aqidah), ketika pondasi keimanan itu sudah terbentuk kuat dalam benak maka akan mudah untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Selain itu pendidikan fisik juga sangat penting sebagaimana olahraga yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah seperti memanah, berkuda dan renang.

Tiga gambaran konsep pendidikan islam tersebut sejatinya dapat menjadi inspirasi pemerintah membenahi pendidikan nasional. Wallahua’lam bishawab.[]

* Pendidikdan pemerhati remaja

Comment

Rekomendasi Berita