by

Siti Ningrum, M.Pd: Lockdown Sebuah Kebijakan Rasulullah Hindari Wabah

-Opini-23 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Lockdown di Indonesia dimulai pekan ke 2 bulan Maret 2020, langkah itu pun diinstruksikan oleh Kepala Daerah,  tidak dalam satu komando Pemerintah Pusat.  Diawali oleh Bapak Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan diikuti wilayah-wilayah lain.

Beberapa langkah telah dilakukan baik oleh Pemerintah Daerah maupun rakyat dengan inisiatif sendiri seperti membagikan masker gratis dan handsanitizer bahkan memberikan sembako untuk masyarakat yang kurang mampu.

Namun masyarakat belum sepenuhnya paham tentang bahaya Covid -19 ini. Mereka tetap dan masih saja berkeliaran di tempat-tempat kerumunan massa seperti bioskop, mall dsb.

Salah seorang Ustadz asal Bandung, Aa Gym berkeliling untuk menghimbau masyarakat agar berdiam diri di rumah mengingat Virus Corona ini sudah makin masif tingkat penyebarannya.

Bahkan beredar himbauan dan ajakan para medis kepada masyarakat untuk melakukan lockdown dan aksi social distancing.

Penyebaran virus (spreading) ini begitu cepat sehingga dalam kurun waktu yang belum 30 hari pasien terpapar makin meningkat diangka yang fantastis, yaitu berjumlah 450 dan 48 dinyatakan meninggal,  3 di antaranya adalah dokter dan ditambah lagi 1 orang perawat.

Sungguh mencengangkan bahwa data di lapangan akibat virus ini, Indonesia berada di tingkat tertinggi dengan angka kematian sebesar 8, 37 % jika dibanding dengan negara-negara lain di dunia. (detiknews.com18-03-2020)

Dengan menganalisa hal tersebut Gubernur DKI mengeluarkan kebijakan lockdown di berbagai sektor dengan menambah rentang waktu satu pekan ke depan.

Selain itu, dalam kebijakan tersebut Gubernur juga akan memberikan bantuan kepada buruh harian sebesar 1,1 juta selama lockdown dilakukan. Memang harus mengambil sebuah kebijakan yang berani, cepat dan tepat. (Berita satu.com, 21 Maret 2020)

Negara-negara yang telah lebih dulu terjangkit virus ini sesegera mungkin mengambil kebijakan lockdown serempak dari pusat hingga daerah agar angka kematian oleh virus bisa diminimalisir.

Di samping itu, peralatan medis yang tersedia, seperti APD (Alat Pelindung Diri) dan peralatan lain yang menunjang. APD buat Tim medis adalah modal utama.

Merekalah yang langsung berinteraksi dengan para pasien. Mereka adalah para pahlawan pejuang yang berada di garis terdepan untuk mengobati para pasien. Mereka tidak memikirkan diri dan keluarganya, matipun mereka siap.

Maka hanya dalam rentang waktu beberapa bulan saja penyebaran Covid-19 ini telah menurun, seperti halnya Tiongkok.

Lain halnya di indonesia. Sejak ramai di medsos tentang virus dari Wuhan- Cina ini. Masyarakat memburu APD bahkan menimbunnya yang menyebabkan harga melonjak berkali lipat.

Meski WHO meragukan, pemerintah sempat mengklaim bahwa Indonesia zero dari virus ini.

Belakangan, pemerintah mengumumkan keberadaan virus ini telah menyebar di Indonesia. Namun sangat disayangkan kebijakan-kebijakan yang diambil berbeda dengan negara-negara lainnya di dunia. Negara lain sudah menutup akses dari luar negerinya. Sementara Indonesia belum berani secara total.

Baru setelah wabah virus ini banyak memakan korban, diumumkanlah menutup akses dari dan ke luar negeri mulai tanggal 20-03-2020 oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi. [BBC News.com]

Indonesia sampai saat ini tetap tidak akan memberlakukan lockdown. Presiden Jokowi memastikan tidak akan mengambil langkah lockdown di tengah penyebaran virus Corona(COVID-19) yang semakin masif.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BNPB sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo. (detiknews.com 22-03-2020)

Seruan lockdown ramai diperbincangkan di medsos ketika seorang dr. Bernama Tifauzia Tyassuma mengungkapkan kekhawatirannya tentang Virus Covid-19 ini.  Dengan berani beliau membuat surat terbuka yang disampaikan kepada Presiden Jokowi Widodo isinya adalah mengajak lockdown secepat mungkin.

Berikut sebagian petikan isi suratnya: “Perjalanan di bulan Maret 2020 ini masih baru dimulai, sementara perjalanan mutasi dan evolusi COVID-19 ini di dunia masih sangat panjang. Lockdown membuat kita mundur 10 langkah. Tetapi kita akan menyelamatkan banyak nyawa. Rakyat hanya perlu ditata dan diajarkan untuk prihatin dan lapar sejenak, tetapi mereka akan terhindar dari banyak kasus kematian.Jangan lupakan juga kami para Dokter dan Praktisi kesehatan di lapangan. Sudah pasti kami akan jihad fi sabilillah di garis terdepan bertarung nyawa, kami siap syahid demi rakyat banyak. Jumlah kami hanya 80.000 tentu tidak cukup kuat melawan pandemi, tapi kami siap”.

Wabah dan penanggulangannya dalam Islam

Wabah ini telah dikabarkan oleh Baginda Rasulullah (saw) melalui lisannya yan mulia :

“Di akhir zaman nanti banyak wabah penyakit melanda manusia di dunia, hanya umatku yang terhindar karena mereka memelihara wudhunya,”(Hr Thabrani).

Bukan saat ini saja wabah virus terjadi namun pada zaman Nabi dan para sahabat juga pernah terjadi,  yang dilakukan saat itu adalah menjauh dari khalayak ramai. Sebagian pergi ke gunung, sebagian ke bukit untuk menghindari kontak dengan orang banyak dan mengisolasi diri.

Lockdown memiliki arti yang sama dengan isolasi. Isolasi terkait pencegahan suatu wabah juga pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Isolasi terhadap orang yang sedang menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah.

Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya agar tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Selain Rasulullah, di zaman khalifah Umar bin Khattab juga ada wabah penyakit. Dalam sebuah hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan ke Syam lalu ia mendapatkan kabar tentang wabah penyakit.

Hadist yang dinarasikan Abdullah bin ‘Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Sungguh Islam adalah agama yang sempurna, betapa tidak, 14 abad yang lalu, soal wabah dan penanggulangannya ini, telah disampaikan secara tepat.

Diperlukan tindakan berani dan cepat pihak pemerintah sendiri. Memang benar jika lockdown dilakukan serempak akan mempengaruhi perekonomian Negara Indonesia namun peristiwa itu tidak akan lama.

Jika pemerintah tidak berani mengambil langkah lockdown, maka dikhawatirkan rakyatlah yang akan menjadi korban. Mengapa pemerintah  tidak bisa mengeluarkan dana untuk menghadapi wabah virus ini.

Saat ini yang dibutuhkan masyarakat adalah kebijakan pemerintah menetapkan lockdown secara total dan mempersiapkan dana untuk peralatan medis yang memadai.

Kemudian memberikan santunan kepada masyarakat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari selama lockdown dilakukan, semisal buruh harian lepas, para pedagang keliling, pedagang kaki lima dan yang lainnya.

Disinilah perlunya perhatian khusus dan kewajiban pemerintah mengeluarkan dana bagi masyarakat dalam penanggulangan wabah ini. Wallohu’alam Bishowab.[]

*Praktisi pendidikan dan pemerhati  sosial

Comment

Rekomendasi Berita