by

Siti Ningrum, M.Pd*: Perempuan Dalam Ilusi Pengentasan Kemiskinan

-Opini-72 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tahun 2020 adalah tahun yang sangat  cantik namun sayang tidak secantik angkanya. Tahun 2020 ini banyak kejadian menimpa umat muslim yang menetap dalam sebuah negeri sebagai minoritas.

Belum reda peristiwa menyayat hati  yang dialami muslim Uighur – dikurung di camp-camp rahasia oleh komunis China. Kemudian Negara tirai bambu itu terserang wabah virus corona yang menggemparkan dunia.

Saat manusia tertuju pada wabah Covid-19, ternyata ada pegiat dan aktivis yang menyuarakan Equitera yaitu negara Imajiner Un Women. Equitera hanyalah negara ilusi karena lahir dari kesetaraan gender yang ilusi juga.

Meskipun negara imajinasi ini lahir setelah penat menunggu 25 tahun berlalu pasca lahirnya Deklarasi Beijing (the Beijing Declaration and Platform for Action-BPfA).(MuslimahNews, 16-03-2020).

Mereka beranggapan bahwa kemiskinan yang melanda di berbagai negeri bisa dituntaskan melalui kesetaraan gender. Maka pemberdayaan perempuan menurut pemikiran mereka menjadi salah satu jalan keluar. Sebagai contoh adalah pemerintah provinsi Jawa Tengah yang  terus menekan penurunan angka kemiskinan dari berbagai sektor.

Mulai tahun 2019 pemberdayaan perempuan sebagai kepala keluarga menjadi salah satu pilihan. Diakui mereka bahwa perempuan menjadi kepala keluarga mempengaruhi kemiskinan hingga mencapai 40%.

Untuk itu pemerintah terus berusaha menghapuskan segala diskriminasi yang terjadi pada perempuan di tengah hangatnya isu gender. (jatengprov.go.id).

Benarkah kesetaraan gender mampu mengentaskan kemiskinan?

Kesetaraan gender bukanlah pintu keluar dan sebagai solusi mengentaskan kemiskinan melainkan memperburuk keadaan. Kasus perceraian yang meningkat dan anak-anak kurang kasih sayang pada akhirnya terjerat pergaulan bebas seperti narkoba, dugem dan sebagainya.

Dengan demikian, anggapan bahwa ketidaksetaraan gender mengakibatkan kemiskinan merupakan pendapat yang salah sebagaimana dikatakan menteri keuangan, Sri Mulyani seperti dikutip liputan 6, tertanggal  02-08-2018.

Ketidaksetaraan gender mengakibatkan dampak negatif dalam berbagai aspek pembangunan, mulai dari ekonomi, sosial, budaya hingga pertahanan dan keamanan.

Beberapa lembaga internasional melihat ketidaksetaraan gender memiliki hubungan kuat dengan kemiskinan, ketidaksetaraan pendidikan, layanan kesehatan, hingga akses keuangan.

Pendapat di atas kurang tepat dan harus ditepis karena yang menyebabkan kemiskinan bukanlah ketidaksetaraan gender namun tata kelola Sumber Daya Alam negara yang tidak sesuai dengan aturan perundangan apalagi Islam.

Sistem kapitalisme telah mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim dengan dalih investasi padahal tak ubahnya sebuah perampokan yang dengan kata lain kita sebut sebagai New Imperilasme, penjajahan gaya baru.

Imperialisme gaya baru ini sangat lembut sehingga tidak disadari oleh bangsa indonesia yang mayoritas muslim termasuk para perempuan. Mereka bahkan terjerat di dalamnya.

Hadirnya kesetaraan gender makin membuat kompleksitas masalah. Bukan mengentaskan kemiskinan seperti yang digaung-gaungkan oleh pegiat dan pendukungnya, feminisme justeru makin memprihatinkan.

Mari kita tarik angka partisipasi politik di Rwanda yang mencapai 60%, namun tingkat kemiskinan di negeri ini berada di angka 40 persen.

Di Meksiko dan Afrika Selatan, angka partisipasi politik perempuan sangat tinggi namun situasi ekonominya tetap mengerikan bahkan mengalami krisis. Sistem pendidikan dan kesehatan juga tergolong buruk (MusimahNews.com 18-03-2020).

Sistem Kapitalis-Sekuler telah merenggut hak dan kewajiban perempuan

Kejayaan Islam terakhir di Turki Ustmani, umat muslim berhasil mempersatukan wilayah-wilayah di berbagai negeri hingga mencapai 2/3 bagian dunia namun sejak keruntuhannya pada tahun 1924 negeri muslim terpecah kurang lebih menjadi 50 negara.

Sejak saat itulah, umat muslim terus diterpa fitnah dan mengalami penindasan di berbagai negeri. Umat muslim yang menjadi minoritas dalam sebuah negara selalu ditindas hingga kini. Umat islam selalu menjadi tertuduh atas kekacauan yang terjadi.

Kapitalisme telah merenggut sistem Islam yang mulia dan meluluhlantahkan semua harapan dan keinginan umat muslim. Kapitalisme juga telah menciptakan kekacauan di dunia.

Tahun demi tahun umat muslim hidup dalam tekanan dan belenggu kapitalisme sehingga hak hak perempuan pun terenggut.

Kapitalisme telah menciptakan sebuah kesengsaraan yang mengakibatkan strata sosial yang tidak terkontrol, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kekuasaan hanya milik mereka yang punya uang.

Sementara sistem ribawi penopang perekonomian kapitalis makin subur bak jamur dimusim hujan. Indonesia adalah salah satu negara penganut sistem kapitalisme. Segala sektor Sumber Daya Alam (SDA) telah dikuasai oleh asing dan aseng.

Maka angka kemiskinan tak bisa dielakan lagi. Lapangan pekerjaan sulit didapat, penguasa dan pengusaha semakin tidak berpihak pada rakyat. Salah satunya dengan adanya Undang-Undang Omnibus law yang jelas-jelas merugikan para buruh. Belum lagi hutang negara Indonesia yang makin membengkak sehingga subsidi dicabut, dan tidak bisa dipungkiri masyarakat Indonesia pun masih banyak yang hidup dalam kemiskinan.

“Menteri PPN/ kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro memaparkan jumlah masyarakat Indonesia yang miskin kronis atau sangat miskin 9,4 juta jiwa. (tirto.co.id 16-01-2019).

Kehidupan rakyat kian hari kian terhimpit. Para lelaki pun susah mencari pekerjaan sehingga dibukalah pintu untuk para perempuan yaitu melalui pemberdayaan perempuan demi membantu perekonomian suami.

Dengan kondisi ini perempuan mempunyai peran ganda, sebagai kepala keluarga sekaligus seorang ibu untuk anak-anaknya. Kondisi paling menyedihan adalah ketika perempuan harus pergi keluar negeri demi memenuhi kebutuhan keluarga yang dicintainya.

Satu Desa TKI, di Lombok, NTB terdapat 350 anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka berdasarkan penelitan Yayasan Tunas Alam Indonesia ( santai) tahun 2015.

Di desa tersebut terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh Ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Honkong dan negara-negara Timur Tengah. (BBC news.5-3-17).

Perempuan yang selayaknya mendapatkan hak nafkah dari suami harus menjadi tumpuan dan tulang punggung keluarga.

Perempuan berhak mendampingi buah hati dan membesarkannya dalam pengasuhan penuh cinta serta pelukan kasih harus rela merantau ke negeri seberang demi menafkahi keluarga.

Sistem kapitalis telah merenggut hak-hak seorang perempuan. Perempuan berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya. Perempuan berkewajiban mengurus rumah tangga bukan mencari nafkah di luar rumah.

Meskipun hukum bekerja itu boleh dari segi hukum syara, seharusnya mereka menjalankan fungsinya secara baik dan menjadi ibu yang mencerdaskan generasi di masa yang akan datang.

Kapitalisme telah merenggut paksa mereka dan meninggalkan kewajiban-kewajibannya. Perempuan-perempuan pun larut dan terjebak dalam situasi seperti ini.

Jika perempuan tidak berada pada posisi yang seharusnya, maka tunggulah kehancuran sebuah generasi bahkan kehancuran sebuah negeri.

Islam menempatkan perempuan dan laki-laki sesuai fitrahnya

Bagi laki-laki Allah telah membebankan syariatnya di antaranya hukum tentang mencari nafkah.

Allah (swt) berfirman dalam Al -Quran surat Albaqarah : 233 yang artinya: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”.

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesufah kesempitan.” (Ath-Thalaq:7).

Demikianlah Allah yang Maha Pencipta dan Pengatur telah menentukan kewajiban seorang laki-laki terhadap istri dan keluarganya.

Bagi seorang perempuan Allah pun telah memberikan syariatnya agar perempuan-perempuan muslim terjaga kehormatannya dan juga agar menjadi ibu yang bisa mencetak generasi soleh dan cerdas.

Tugas seorang ibu dalam Alquran selain mengandung dan melahirkan yaitu menyusui. Allah berfirman dalam alquran surat Albaqarah 233:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya.

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamukerjakan.

Jadi sangat jelas sekali posisi laki-laki dan perempuan dalam islam. Satu sama lain telah Allah lebihkan dan tentu saja tujuannya adalah saling melengkapi satu sama lain.

 

Islam adalah Solusi

Islam datang bukan untuk mendeskreditkan laki-laki ataupun perempuan. Justru Islam datang untuk memberikan rahmat dan karuniaNya. Islam datang untuk memanusiakan manusia, Islam pun memiliki peradaban yang agung yang tiada tandinganya.

Islam bukan hanya mengatur urusan ibadah ritual semata namun juga mengatur seluruh urusan kaum muslimin, termasuk perempuan di dalamnya. Terbukti ketika islam diterapkan dalam kurun waktu 14 abad lamanya, Islam telah memuliakan perempuan dan telah terbukti melahirkan generasi-generasi terbaik di masanya.

Perempuan diciptakan dari tulang rusuk bukan sebagai tulang punggung keluarga juga bukan untuk menjadi pesaing satu di antara lainnya. Islam menjaga kemuliaan seorang perempuan bukan untuk mengekang kebebasan perempuan.

Allah Sang Pencipta manusia telah mengaturnya dengan sempurna, Allah yang Maha adil telah menciptakan Hawa sebagai teman Adam agar tercipta kenyamanan dan ketentraman.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-rum: 21).

Saatnya mencampakan sebuah pemikiran dari barat yaitu Kapitalis-Sekuler. Pemahaman yang keliru jika kesetaraan diartikan kesamaan.

Kesetaraan gender bukan solusi namun hakikatnya adalah sebuah ilusi. Solusi yang hakiki tidak akan pernah didapatkan jika kaum muslimin masih berpijak pada sistem buatan manusia.

Kapitalis-Sekuler akan segera berakhir sebagaimana tumbangnya Sosialis-Komunis. Sebab kedua ideologi tersebut tidak mampu mengentaskan kemiskinan juga gagal melindungi hak-hak perempuan di belahan bumi manapun. Hanya dengan diterapkannya sistem Islam secara Kaffah pengentasan kemiskinan bisa teratasi. Juga kemuliaan perempuan akan terjaga dan terlindungi.Wallohu’alam Bishowab.[]

*Pemerhati remaja

Comment

Rekomendasi Berita