by

Suhaeni, M.Si*: Love Yourself With Islam

-Opini-124 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa hari ini sedang rame kasus aktris yang sedang mengumbar aurat di medsos. Atas nama body positivity seseakrtis boleh berfoto tanpa busana. Atas nama seni seseorang boleh mengekspresikan diri meskipun harus tampil bugil. Inilah pemikiran sesat ala sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Tak ayal, unggahan artis cantik ini menuai pro dan kontra.

Berdalih bahwa unggahannya ini adalah bentuk ajakan untuk mencintai tubuh dan diri sendiri. “Let yourself bloom”. Sang aktris dengan bangga dan berani memperlihatkan bentuk tubuh apa adanya tanpa busana.

Apakah harus seperti ini untuk mencintai diri sendiri?

Sebagai seorang muslim kita punya aturan yang paripurna dalam hidup. Islam mengatur mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mengatur bagaimana hubungan dengan Sang Kholik, sesama dan diri sendiri. Termasuk dalam hal mencintai tubuh sendiri.

Jika kita telisik lebih dalam, hal ini tidak jauh dari kampanye kaum feminis yang terus menerus menggiring opini bahwa perempuan memiliki otoritas penuh atas dirinya. Termasuk menjadikan tubuhnya adalah miliknya secara mutlak. Sehingga sebagai pemilik dia merasa bebas menentukan apapun yang diinginkan. Padahal sejatinya Sang Pemilik tubuh adakah Allah SWT.

Dalam pandangan sistem liberalisme, definisi porno tidak jelas dan selalu menuai ambiguitas. Termasuk UU ITE yang mengaturnya. Menurut juru bicara Kemenkominfo Ferdinandus Setu, ia berpendapat bahwa unggaha foto tersebut ada unsur ketelanjangan dan berpotensi melanggar pasal tentang kesusilaan dalam UU ITE. Namun, pada Kamis (05/03), Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate menilai unggahan aktris ini sebagai bentuk seni dan tidak melangar pasal kesusilaan dalam UU ITE.

Pernyataan ini berbeda dengan jubir Kominfo sebelumnya yang berpendapat bahwa unggahan foto itu ada unsur pornografi dan berpotensi melanggar pasal kesusilaan dalam ITE.

Dalam pandangan Islam, persoalan pornografi erat kaitannya dengan persoalan aurat, tabarruj dan pakaian. Karena yang disebut aurat perempuan dalam Islam adalah bagian tubuh wanita yang tidak boleh diperlihatkan atau harus ditutupi karena dapat menimbulkan rasa malu (Q.S. Nur: 58).

Aurat perempuan menurut Imam Nawawi yaitu seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dikemukakan oleh Imam Nawawi ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Adapun aturan berpakaian bagi seorang perempuan ada dalam Q.S. Al-Ahzab:59 dan Q.S. An-Nur:31. Sedangkan tabarruj menggambarkan penampilan seseorang dalam berpakaian yang cenderung seronok atau mencirikan orang yang tidak terhormat.

Penampilan yang dimaksud merupakan gabungan dari pemahaman seseorang tentang batasan aurat dan cara berpakaian.

Dalam sudut pandang Islam, mencintai diri sendiri adalah dengan mencintai dan merawat semua titipan uang Mahapencipta. Termasuk tubuh perempuan. Bukan dengan diumbar atas nama seni atau body positivity. Tubuhku bukan milikku, tapi milik-Nya. Maka wajib tunduk atas segala perintah Pemiliknya.

Islam sangat memuliakan perempuan. Selain menjamin hak-hak perempuan, Islam pun menjaga kaum perempuan dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya.

Seperti layaknya mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan Allah SWT.

Cara terbaik mencintai diri sendiri adalah dengan senantiasa terkait dengan seluruh aturan Allah mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Sejatinya hanya lslam satu-satunya yang mampu memulaian perempuan bukan yang lain. Wallahu a’lam bishawab.[]

*Penulis adalah seorang dosen

Comment

Rekomendasi Berita