by

Ulfatun Ni’mah*: Mengembalikan Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Utama Dalam Social Distancing

-Opini-71 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Semenjak munculnya Covid-19 dari negeri asalnya Wuhan hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia telah merenggut banyak nyawa. Apalagi sudah merambat ke Indonesia, dan hasil terakhir ditengarai jumlah penderita Corona semakin bertambah, beberapa daerah dinyatakan sudah zona merah sehingga beberapa kebijakan diambil guna menghambat laju penyebaran lebih meluas lagi dengan memberlakukan Social Distancing yaitu perintah untuk menjauhi tempat-tempat kerumunan.

Sejumlah pemerintah daerah maupun kota memberlakukan kebijakan pemindahan proses belajar anak -anak ke rumah. Pondok pesantren pun memulangkan para santri untuk sementara waktu hingga kondisi betul betul aman dari wabah yang kini menjadi perbincangan hangat di seantero jagat.

Proses belajar yang berpindah dari sekolah ke rumah berlangsung via online, daring, tentunya memerlukan pemantauan dan kerjasama pihak rumah yaitu orangtua, sehingga waktu tidak dihabiskan dengan bermain atau beralih kepada penggunaaan gadget semata. Tentunya sang Ibu harus memiliki kreativitas lebih untuk membuat suasana menjadi efektif dan menyenangkan bagi sang anak. Ini bukanlah pekerjaan mudah bagi sang Ibu, tersebab realitasnya Berarti bertambahlah peran Ibu menjadi pembimbing sekaligus memantau kegiatan belajar selama anak di rumah.

Di lain sisi, upaya Social Distancing ini masih setengah hati. Anak-anak diliburkan sekolahnya namun para ayah tetap bekerja di tempat kerjanya. Untuk beberapa wilayah belum berlaku Work from Home bagi para pekerja. Alhasil sang anak belajar hanya ditemani Ibu di rumah sementara sang ayah tetap bekerja, bisa dibayangkan kan bagaimana suasana dan kondisi rumah. Ibu berperan ganda mengurus segala pernak-pernik urusan rumah dari dapur hingga halaman rumah, bertambah pula menjadi pembimbing dalam pembelajaran daring di rumah.

Tiga hari pembelajaran daring di rumah, mengerjakan tugas tugas dari pihak sekolah, menyimak murojaah dan menemani anak berjibaku dengan pelajaran yang super padat kurikulumnya, rasanya sesuatu bagi Ibu.

Belum lagi, baru beberapa hari isolasi seluruh kebutuhan mengalami peningkatan drastis, keuangan minim semakin bertambahlah beban pikiran emak yang bertubi-tubi. Tingkat stres Ibu pun meningkat drastis.

Hal yang perlu dipahamkan bersama bahwa kondisi ini perlu kesadaran bersama. Sehingga tidak menganggap hal ini menjadi beban untuk keduanya.

Bagi sang ibu, situasi ini bisa dimanfaatkan sebagai media untuk membangun kedekatan dengan anak. Bagi sang anak memahami bahwa belajar sementara di rumah adalah yang terbaik untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri bersama. Bila kesadaran ini telah tercipta maka keduanya saling mendukung dan bersinergi bersama.

Dalam proses belajar di rumah, dan menciptakan suasana kondusif memang membutuhkan kerjasama. Belajar santai namun terarah, anak menikmati suasana dan materi sesuai target perlu adanya jadwal konsisten. Kapan anak belajar, bermain dan istirahat. Buatlah kesepakatan bersama anak dan semua anggota rumah sehingga waktu di rumah bermanfaat sebagaimana mestinya.

Aktifitas ibadah pun bisa digiatkan kembali bersama, dengan memahamkan kepada putra-putrinya bahwa hadirnya covid-19 adalah kehendak Allah SWT untuk menunjukkan bahwa Allah lah yang berkuasa atas apapun di dunia. Makhluk kecil yang tak terlihat tunduk dan patuh terhadap perintah Rabb-Nya untuk menaklukkan kesombongan manusia yang durjana.

Sehingga sebagai manusia memang pantas tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya. Dengan demikian isolasi ini justru dimanfaatkan untuk meningkatkan keimanan kepada Allah sekaligus sebagai muhasabah makhluknya kepada Rabb-nya.

Hadirnya covid-19 juga mengajak manusia berfikir merenungkan kekuasaan Allah, sehingga dia bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Melakukan sesuatu berstandar halal dan haram serta selalu meningkatkan rasa syukur untuk senantiasa bertafakur.

Salah satunya mengadakan kegiatan kajian melingkar anggota keluarga tiap selesia sholat subuh berjamaah, dilakukan bisa sepekan sekali atau dua kali membahas keislaman dan Sang Ayah sebagai pemimpin rumah tangga berperan menjadi pengisi materi.

Kegiatan sholat berjamaah di giatkan kembali, setiap datangnya adzan panggilan sholat segera membiasakan berwudhu.

Bila anak laki laki kita telah baligh membiasakan melatihnya menjadi imam sholat di saat ayah masih bekerja di luar. Serta murojaah saling menyimak bacaan Al-Quran. Bila hal ini menjadi agenda rutin keluarga selama isolasi maka tiap anggota keluarga menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi situasi genting seperti saat ini.

Bila suasana berdiam diri di rumah dalam jangka yang cukup lama memunculkan kejenuhan. Maka untuk mengeliminir rasa jenuh yang melanda, sesekali waktu santai bisa diisi dengan bincang bersama, bercanda, membuat kreatifitas yang menantang seperti latihan menulis, menggambar, mewarnai dan hasil karya dikirimkan ke media ini bisa menjadi pilihan memacu daya kreativitas anak.

Selain itu ibu yang memiliki hobi memasak, bisa menularkan hobinya dengan mengajari anaknya supaya pandai memasak. Semua hal ini bisa diagendakan untuk meminimalkan rasa bosan sekaligus membuat suasana selalu ceria.

Dalam proses isolasi, adegan drama korea dan drama laga dari anak-anak juga kerap terjadi. Sang ibu pun harus mengantisipasi diri. Biasanya karena bosan, sang anak membuat ulah. Dari meminta sesuatu kepada sang Ibu, lanjut tingkah polah yang tak terarah. Belum lagi suasana bertengkar adik dan kakak gegara hal yang kita anggap kecil juga terjadi, bisa dikatakan suasana damai satu jam, pecah perang dua jam. Dan ini bisa berlangsung tiap hari.

Suasana demikian juga menjadi pemicu meningkatkan ketegangan dan tingkat stres anggota keluarga. Untuk itu, butuh peran kesadaran semua sehingga proses isolasi tidak berlangsung lama.

Agar isolasi diri berlangsung optimal, diperlukan peran negara juga maksimal dalam melindungi kesehatan warganya. Bila telah menegakkan kebijakan Social Distancing, negara juga harus memberhentikan arus masuk keluar orang ke dalam wilayah Indonesia.

Melakukan karantina dan pengobatan optimal kepada mereka yang telah positif atau terduga terinfeksi virus. Bukan membiarkan TKA dan warga asing tetap bersliweran mudah masuk ke Indonesia. Ini sama saja halnya terus mengimpor sumber virus Covid-19 masuk ke Indonesia. Bila hal ini terjadi, maka bisa jadi jangka waktu isolasi akan bertambah lama.

Nabi Saw menyatakan, ” Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya”.

Syariat Islam telah jelas mencontohkan ketika menghadapi wabah, untuk berdiam diri agar wabah tidak lebih meluas lagi. Dan bila hal ini ditangani lebih awal oleh pemerintah kita saat mendengar awal berita Corona, maka kerugian yang diderita tidaklah sedemikian besar seperti saat ini.[]

*Pengamat kebijakan publik

Comment

Rekomendasi Berita