by

Siti Ningrum, M.Pd: Bulan Suci Dan Pandemi, Momentum Taubat Dan Ketaatan Sempurna

-Opini-23 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Bulan Ramadhan 1441H yang dinanti-nanti telah berada di tengah-tengah kita, umat muslim di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia sangat berbahagia menyambutnya.

Umat muslim selalu menantikannya, sebab di dalam bulan Ramadhan terselip malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, lailatul qodar.

Allah swt, berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Namun berbeda dengan sebelumnya, Ramadhan tahun 2020 ini, berbarengan dengan adanya pandemi wabah Covid-19 yang terjadi bulan Januari lalu dan masih berlangsung hingga kini, tentu semakin bertambah ujian bagi rakyat dan juga umat Islam

Sejak diberlakukannya lockdown di beberapa daerah dan social distancing PSBB demi mencegah penyebaran Covid-19, tempat-tempat keramaian banyak yang ditutup, seperti sekolah, mal-mal, pasar, resepsi pernikahan juga tidak ketinggalan tempat ibadah pun ikut ditutup.

Ketika tempat ibadah ditutup tentu menjadi kesedihan bagi kaum muslim khususnya.  Betapa tidak, momen bulan suci yang hanya satu kali dalam satu tahun biasanya ramai dengan orang tarawih, tadarus dan itikaf kini hal tersebut tidak bisa dilaksanakan secara bersama-sama.

Namun hal ini harus kita lalui demi menghindari wabah yang sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.

Keterlambatan dan ketidaktepatan para pemangku kebijakan bertindak, menjadikan wabah ini tidak berhenti dan entah kapan akan berakhir. Apa lagi dinyatakan bahwa penemuan vaksin untuk mengobati wabah covid-19 belum ditemukan.

Berdasar data yang dilansir www.covid19.go.id mengenai pandemi dan wabah ini, korban hingga 26 April 2020, 20:48 WIB adalah 8882+275 kasus; 7032 dirawat, meninggal 743 dan sembuh 1.107.

Belum sepekan saja korban meninggal bertambah ratusan. Seminggu sebelumnya masih di angka enam ratusan. Begitu banyak nyawa melayang dikarenakan wabah Covid-19 ini.

Sungguh hati pilu, momentum berkumpul bersama sanak saudara di bulan suci ini tidak bisa dirasakan oleh keluarga korban. Mereka harus rela kehilangan orang-orang terdekat mereka, belum lagi dari tim medis, para dokter dan perawat juga banyak yang meninggal dikarenakan APD yang kurang memadai.

Semoga para korban dan pahlawan yang berjuang di garda terdepan ini mendapatkan rahmat dan ampunanNya. Teriring doa dan bela sungkawa sedalam-dalamnya untuk para keluarga korban Covid-19.

Pandemi ini juga mendatangkan sisi buruk dengan terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di hampir setiap unsur perusahaan sehingga seluruh aktifitas ekonomi terhambat bahkan ada yang berhenti total.

Hal ini menimbulkan kecemasan di masyarakat. Apalagi jika bantuan yang digembar-gemborkan pemerintah belum terealisir secara maksimal.

Dilansir dari tirta.co.id, maraknya kejahatan yang makin meningkat tajam apalagi setelah kebijakan oleh Menkumham (Menteri Hukum dan HAM) Yasonna Laoly yang membebaskan 37.000 narapidana melalui program asimilasi dan integrasi.

Kebijakan yang dikeluarkan melalui permenkumham No. 10, tahun 2020 itu akhirnya digugat ke pengadilan oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Mega Bintang, Masyarakat Anti Ketidak-adilan Independen (MAKI) dan Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegak Hukum (LP3H).

Masyarakat dibuat resah dengan narapidana yang dibebaskan saat pandemi dan kembali membuat ulah khususnya di daerah Solo, Jawa Tengah. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin pribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.

Di bulan suci Ramadhan, semua amal diganjar dengan pahala berlipat, Allah memberikan ampunan kepada siapa saja yang segera bertaubat dari perbuatan maksiat. Maka sudah selayaknya kita sebagai manusia yang banyak berbuat dosa segera mengejar ampunan Allah swt seperti yang difirmankanNya dalam Q.S Ali Imran ayat 133 :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”.

Terkait dosa pribadi (ibadah mahdoh) bisa dengan segera bertaubat langsung kepada Allah swt. seperti dosa meninggalkan sholat, meninggalkan puasa wajib atau tidak berzakat di bulan suci ramadhan.

Namun bagaimana dengan dosa ghoiro mahdoh, dosa yang ditanggung bersama ketika ajaran islam yang belum bisa dijalankan oleh umat muslim seperti qishos, potong tangan, rajam, cambuk tata kelola negara serta pembebasan wilayah-wilayah muslim yang sampai saat ini masih terjajah seperti Palestina dan negeri-negeri muslim di belahan bumi yang lain?

Sejarah mencatat kemenangan Islam dalam melakukan berbagai futuhat dan penyebaran Islam ke berbagai wilayah di muka bumi ini terjadi di bulan suci Ramadhan.

Sungguh pribadi-pribadi yang mulia, terlatih dan hebat. Meskipun berpuasa kaum muslimin tetap memiliki semangat juang yang tinggi tidak tergoyahkan. Itu semua dikarenakan dorongan ketaatan kepada Robb semesta alam yang menjadi sumber kekuatan.

Pada zaman kenabian tampuk kepemimpinan dipegang oleh Rosulullah saw di kota Madinah dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Khulafa Rasyidin yaitu Abu Bakar as-sidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Di tangan merekalah semua syariat dijalankan dengan sempurna. Islam menjadi peradaban paling gemilang di masanya. Syariat islam menjadi tonggak kemajuan tekhnologi. Hukum-hukum Islam ada bukan untuk mengekang manusia namun sejatinya untuk memuliakan manusia dan mengangkat harkat martabat manusia seutuhnya.

Sehingga Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam bisa dirasakan oleh manusia tanpa terkecuali. Seperti firmanNya: “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).

Namun apa yang terjadi hari ini baik di Indonesia atau pun di belahan bumi lainnya, umat muslim menjadi bulan bulanan dengan fitnah keji. Fitnah sebagai teroris, radikalis, antipancasila dan intoleran menjadi santapan setiap saat.

Umat islam sudah jauh meninggalkan syariatNya. Pun dalam hal beribadah hanya dalam ruang lingkup ibadah mahdoh saja. Bagaikan buih di lautan, serta hanya menjadi bagian terkecil kue-kue yang selalu diperebutkan oleh kaum imperialisme.

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

14 abad kaum muslim bersatu mewujudkan sebuah adagium mulia, sebagai rahmatan lil alamin. Namun sejarah tersebut seolah hilang dari benak kaum muslimin, bahkan tidak sedikit yang merubah sejarah tersebut agar tidak diketahui oleh generasi muslim berikutnya. Namun kebenaran akan terungkap dan begitupun dengan sejarah, akan terus berulang.

Dahulu Islam menjadi bagian integral dalam kehidupan. Islam mengatur kehidupan sesuai dengan fitrah. Namun kini menjadi kehidupan yang jauh dari ajaran islam atau dengan kata lain pemikiran sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) telah merasuki kaum muslimin.

Maka Ramadhan ini menjadi momentum mewujudkan kembali Islam rahmatan lil alamin dan menjalankan syariat Islam secara kaffah agar Allah meridhoi dan segera mengangkat wabah Covid-19 ini.

Allah swt. berfirman dalam kalamNya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A’raf:96).

Semoga bulan suci Ramadhan ini bukan hanya dijadikan sebagai rutinitas dan seremonial tahunan belaka tetapi sebagai momentum berharga buat kaum muslimin di seluruh dunia untuk menengadahkan tangan agar diberikan ampunan juga rahmatNya untuk segera menghentikan wabah Covid-19 ini.

Hanya Dia yang memiliki kekuasaan atas apa pun yang terjadi dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. Hanya kasih sayangNya yang Mahaluas yang akan memberikan pertolongan dengan ijinNya.

Semoga bulan suci Ramadhan 1441 tahun 2020 ini menjadi titik tolak taubat kita semua kaum muslimin di dunia dari kemaksiatan yang telah hampir seabad lamanya tanpa ketaatan yang sempurna. Semoga kejayaan Islam kembali dalam pangkuan kaum muslimin. Semoga Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir tanpa pelaksaan Islam secara kaffah.

Allah telah berjanji bahwa kekuasaan akan dipergilirkan.

“Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf; 128).
Wallohu’alam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita