by

Cecep Y Pramana*: Sebuah Tangisan Saat Ramadhan Pergi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tak terasa, sesaat lagi Ramadhan meninggalkan kita dan tiap jiwa yang selalu mengharap ampunan dan keridhaan RabbNya merasa sedih, tetes air mata tak terasa membanjiri pipi.

Ramadhan bulan pembawa rahmat, lalu sudahkah rahmat Allah SWT yang sangat luas melapangkan rongga dada yang penuh dosa dan maksiat ini menjadi keimanan yang kuat.

Ramadhan bulan penuh ampunan, sudahkah cahaya kecil kesadaran dan tetesan air mata taubat karena takut, membasahi pipi dan merasakan kelembutan Ilahi. Ramadhan bulan Al Qur’an, adakah ayat-ayat Ilahi yang menggugah singgasana kesombongan dan kebekuan diri ini.

Ramadhan yang selalu di rindu sebentar lagi akan pergi meninggalkan, adakah kegelisahan dan keresahan hati karenanya. Hari-hari Ramadhan yang selalu mendekap kita dengan rasa syukur, sepenuh kelembutan dan kasih sayang selama sebulan penuh akan pergi jauh, entah kembali atau tidak memberi salam kepada orang-orang yang beriman, termasuk kita di dalamnya.

Ramadhan yang kirindu, sebuah tangisan selalu mampir dalam hati kecilku. Walau Ramadhan hanyalah sekumpulan hari-hari dari waktu yang tersedia, tapi merenungkah kita setiap kali matahari tenggelam, itu berarti separuh bagian dari diri telah sirna dan tak akan pernah kembali seperti sedia kala.

Orang-orang yang sadar dengan kedatangan Ramadhan, mereka pasti berlomba-lomba menghias hati dengan kesucian iman, keindahan akhlak dan kelezatan munajat mengharap ampunan dan keridhaan Rabbul Izzati. Lalu siapkah hati ini bila Ramadhan akan pergia jauh tanpa mengabarkan kepada kita kedatangannya lagi.

Hari-hari akhir Ramadhan semakin dekat, akankah senyum kebahagiaan kembali mewarnai di tahun mendatang, saat Ramadhan menyapa kita kembali. Ataukah tangis penyesalan yang mengiris hati berujung rahmat dan ampunan dari Allah SWT.

Saatnya tangisi diri sebelum ditangisi. Saatnya berpikir jernih untuk kembali mengetuk pintu Ilahi agar Ramadhan tahun ini, bukanlah Ramadhan terakhir kita. Cukup sudah perjalanan panjang menumpuk dosa dan maksiat. Jadilah manusia yang sesungguhnya, yang fitri karena penuh ampunan dan maghfirahNya.

Tengadahkan tangan kita kepada Yang Maha Kuasa, pandanglah kelangit di keheningan malam dan bayangkan ketika langit menyampaikan berita cintaNya kepada setiap pribadi muslim yang beriman.

Ya Allah bukalah untukku pintu ampunanMu, sapulah hatiku dengan kelembutan cintaMu. Terimalah diri yang hina ini untuk menggapai surgaMu. Aamiin.[]

Comment

Rekomendasi Berita