by

Desi Wulan Sari, S.E, M.Si*: Jeritan Rakyat Pada PLN Saat Pandemik

-Opini-13 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Siapa yang menyangka efek dari wabah pandemik Covid-19 sangat membuat rakyat semakin melemah kondisi perekonomiannya. Bahkan mencari makan dan minum untuk bertahan hidup menjadi sangat sulit bagi sebagian masyarakat.

Bantuan demi bantuan yang diharapkan dari pemerintah sangat lamban penanganannya. Berbagai keringanan fasilitas bagi yang berdampak juga sangat diharapkan di saat-saat seperti ini.

Dan kali ini kebijakan yang membuat rakyat menjerit kembali terulang. PLN melakukan keputusan sepihak tanpa mengumumkan ataupun memberi penjelasan mengapa listrik dinaikkan, terlebih disaat krisis pandemik seperti ini.

Kebijakan yang awalnya terasa membahagiakan seakan meringankan beban masyarakat yang terdampak Covid-19, pemerintah menggratiskan listrik selama 3 bulan untuk pelanggan 450 VA. Sementara untuk pelanggan 900 VA subsidi diberikan diskon 50%.

Namun, satu hal diluar dugaan membuat masyarakat bertanya-tanya, jika memang banyak keringanan yang diberikan di masa pandemik, lalu mengapa pelanggan dengan kapasitas di atas itu, justru tagihan listriknya malah naik?

Hal ini membuat masyarakat tidak tinggal diam, setelah terus didesak oleh masyarakat, barulah PLN mengaku bahwa mereka mengubah kebijakan tanpa memberitahukan konsumen. Tagihan di bulan Maret disesuaikan dengan rata-rata pemakaian 3 bulan sebelumnya. Artinya, bisa saja tagihan yang kamu bayar di bulan Maret lebih rendah dari seharusnya. Nah, selisih inilah yang kemudian ditambahkan di bulan April. Alhasil, tagihan pelanggan di bulan April naik drastis karena kamu membayarkan tagihan untuk bulan April, sekaligus sisa tagihan dari bulan Maret. (Theidndaily com, 8/5/2020).

Sungguh ironi kondisi saat ini. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah terpuruk kondisi ekonomi malah menaikkan tarif listrik. Rasanya apa yang dilakukan sungguh tidak bijaksana. Bukankah lebih bernilai, jika PLN menghilangkan kekurangan lebih bayar yang dianggap belum tertagih di bulan lalu sebagai bagian dari kontribusi pemerintah di masa wabah panjang ini. Melihat kondisi selerti ini semestinya menjadi agenda negara dengan BUMN nya.

Bahkan sebagian masyarakat mengungkapkan hal ini sebagai satu pemerasan global terhadap rakyat. Ungkapan ini sebagai ekspresi kekecewaan mereka kepada penguasa. Sebab hal tersebut dilakukan tanpa infornasi, tanpa sosialisasi, bahkan tanpa melihat kondisi, semua tetap berjalan sesuka hati mereka. Alih-alih membuat solusi justru malah “ngerjain rakyat” dengan teori subsidi silang yang ditanggung oleh rakyat sendiri.

Tak heran, bagaimana sistem kapitalis telah menujukkan wajah aslinya secara jelas. Untung rugi saja yang mereka pikirkan dengan mengabaikan kebutuhan dan kenampuan daya beli masyarakat dalam kondisi sulit saat ini.

Seorang pemimpin dalam sistem kapitalis akan selalu membuat kebijakan yang hanya melanggengkan posisi mereka, walau harus mengorbankan rakyatnya sendiri. Bukan lagi level pengusaha tetapi sudah Sampai pada level negara dalam menggerogoti isi negeri ini mulai dari SDA hingga SDM nya.

Siapakah yang mampu mendengar jeritan rakyat saat mereka membutuhkan perlindungan? Semestinya pemimpin negara yang melindungi dan nemberikan solusi atas kesulitan rakyat. Masihkah rakyat mengharapkan sistem kapitalis mengatur rakyat dan negara ini?

Menuju Cahaya Solusi Umat

Sejak masa Rasulullah saw membawa risalah kenabian, manusia semakin teratur karena Rasul membawa syariat melalui wahyu Allah swt. Islam hadir ditengah-tengah umat untuk memberikan solusi bagaimana cara menjalankan kehidupan ini secara menyeluruh.

Kita ketahui listrik adalah kebutuhan yang menguasai hajat hidup orang banyak sehingga harusnya pemerintah memberi gratis kebutuhan ini. Dalam Islam pun listrik termasuk kategori air, padang tumput dan api. Sebagaimana hadis yang disampaikan berikut:

Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadits tersebut menyatakan bahwa kaum Muslim (manusia) berserikat dalam air, padang rumput, dan api. Dan bahwa ketiganya tidak boleh dimiliki oleh individu.

Maka pemanfaatan listrik itu posisinya seperti pemanfaatan matahari dan udara di mana muslim maupun non muslim sama saja dalam hal ini. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi seseorang dari pemanfaatan itu. Ini seperti pemanfaatan jalan umum dari sisi berjalan di jalan itu.

Sehingga listrik sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak (komunitas) membuat kebutuhan pengadaan listrik ini menjadi satu kebutuhan rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara yang di fasilitasi oleh instansi terkait.

Itulah pentingnya Islam, bagaimana dia mengatur segala seauatu yang berkaitan dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak secara tepat. Maka siapapun tidak akan mampu menolak, bahwa kebenaran sistem Islam adalah solusi umat.

Sejatinya, sistem kapitalis telah usang dan hingga detik ini tidak mampu membawa solusi serta mewujudkan kemaslahatan umat. Fakta kenaikan PLN secara diam-diam yang dilakukan instansi negara ini membuat rakyat semakin tercekik. Apapun alasannya tentu bukan satu hal yang mesti dilakukan.

Terlebih di masa pandemik panjang seperti ini. Dimanakah hati nurani pemimpin negeri melihat kondisi rakyatnya sendiri terpuruk bahkan dibiarkan sendiri untuk bertahan hidup?

Saatnya Islam hadir menuntaskan problem umat, prroblem negara yang tengah terlilit dalam cengkraman sistem kufur kapitalisnya. Saatnya cahaya Islam kembali bersinar meraih kemaslahatan, kemakuran dan kejayaan umat di belahan dunia manapun, karena Islam satu-satunya solusi umat dunia. Karena Allah menurunkan agama Islam sebagai rahmatan lil alaamiiin. Wallahu’alam bishawab.[]

*Anggota Revowriter, Bogor

Comment

Rekomendasi Berita