by

Fetri Dian Lestari, S.Pd* : Peradaban Kapitalisme Gagal Selesaikan Wabah Covid-19

-Opini-72 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sejak kemunculannya pada akhir 2019 di kota Wuhan, China, Covid-19 telah menjangkiti kurang lebih 3,2 juta jiwa (Kompas.com, 30/4/20) yang mana tersebar di 152 negara diseluruh dunia (Tagar.id, 19/3/20). Sedang didalam negeri, jumlah positif Covid-19 sampai dengan tanggal 29 April 2020 adalah sebanyak 9771 dengan jumlah meninggal sebanyak 784 jiwa (CNNIndonesia.com, 29/4/20).

Sektor paling terdampak atas pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia adalah ekonomi. Tidak ada yang mampu memprediksi seberapa lama wabah ini akan berakhir dan seberapa banyak korban yang akan berjatuhan. Namun, kekhawatiran atas terus melambatnya perputaran ekonomi global berbanding lurus dengan terus menyebarnya virus ini.

Dampak penyebaran virus corona sangat terasa pada masyarakat. Lebih dari 1,9 juta pekerja di PHK atau dirumahkan oleh perusahaan-perusahaan yang mayoritas terdiri dari sektor informal atau unit usaha berskala kecil yang domainnya adalah mendistribusikan barang dan jasa (Tempo.co, 19/4/20).

Tak pelak, tingginya angka pengangguran menambah tingginya tingkat kriminalitas saat pandemi. Ditambah dilepasnya lebih dari 30.000 narapidana oleh Kemenkumham atas dalih pencegahan penyebaran Covid-19, yang beberapa kerap melakukkan kejahatan yang sama.

Di tengah polemik kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah adalah dirilisnya Kartu Prakerja untuk masyarakat yang ter-PHK akibat imbas Covid-19.

Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementrian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan setidaknya lebih dari 1000 program pelatihan seperti membuat kue, menggunting rambut, hingga pelatihan menjadi pembuat konten youtube yang dilaksanakan secara daring.

Salah satu netizen yang lolos tahapan Kartu Prakerja mengungkapkan bahwa saldo sebanyak Rp 1.000.000 yang ada dalam akun tidak bisa dicairkan namun dipergunakan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan hingga mendapatkan sertifikat.

Konten pelatihan tersebut ditonton dengan menggunakan kuota pribadi dari peserta Kartu Prakerja. Untuk mendapatkan insentif yang dijanjikan pemerintah sebanyak Rp 600.000 setelah menyelesaikan tahapan-tahapan yang panjang dan ribet.

Jika dicermati, solusi penerbitan Kartu Prakerja sama sekali tidak menyentuh kebutuhan hakiki rakyat di tengah kesulitan ekonomi di mana rakyat membutuhkan bantuan segera, bukan malah pelatihan.

Dalam ideologi kapitalis-sekuler, krisis ekonomi seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari. Krisis ekonomi, dapat terjadi di kala situasi normal, apalagi di situasi tidak normal seperti saat pandemi sekarang ini.

Catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa krisis ekonomi telah terjadi berulang kali, sebut saja krisis tahun 1998 yang minus 13,1%, tahun 2009 yang turun sebanyak 4,6 %, dan saat ini yang mana nilai tukar rupiah yang kerap naik turun dan sempat menyentuh nilai Rp 16.000.

Kesalahan ideologi kapitalis-sekuler dalam menghadapi krisis terletak pada buruknya tata kelola negara saat krisis. Pententuan skala prioritas dipertanyakan.

Sebagai contoh saja, di tengah pandemi pembangungan IKN baru yang sejatinya tidak terlalu mendesak terus digenjot yang mana mengucurkan dana kurang lebih Rp 500 Miliar. Padahal, di tengah kesulitan yang dihadapi masyarakat dana tersebut dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang tersendat akibat lesunya ekonomi karena Covid-19.

Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya ideologi kapitalisme tidak berpihak pada rakyat namun pada keuntungan para kapitalis atau pemilik modal.

Islam dapat mengatasi krisis ekonomi secara cepat, tepat, dan komprehensif. Sejarah menuliskan dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad ash-Shalabi, pada tahun 18H masa kepemimpinan Khalifah kedua, yakni Umar bin Khattab Ra terdapat tahun kelabu (masa krisis) yang mana kemarau menghebat dan jarang ada makanan.

Orang-orang pedalaman pergi ke perkotaan untuk mengadu kepada khalifah. Dan saat itu 1/3 dari 70.000 orang meninggal dunia dikarenakan krisis ekonomi yang terjadi.

Pada saat itu, khalifah Umar segera melalukan tindakan yang sigap. Mekanisme atau kebijakan yang diambil untuk berlepas dari krisis ekonomi pun mengakar. Pertama, beliau menjadi teladan terbaik bagi rakyat yang sadar akan tanggung jawab dan penderitaan rakyatnya.

Beliau tidak bergaya hidup mewah, berhemat, makan seadanya, selalu mendahulukan rakyat ketimbang dirinya. Bahkan dalam suatu riwayat menyatakan bahwa pada saat tahun kelabu Umar berkulit kelam, ia tadinya adalah orang Arab yang selalu makan mentega dan susu. Saat terjadi panceklik, Khalifah Umar mengharamkan keduanya dan hanya makan dengan minyak sampai warna kulitnya berubah.

Kedua, segera mengambil kebijakan yang mengerahkan seluruh struktur, perangkat negara, dan lembaga-lembaga penting untuk mengurusi kebutuhan rakyat seperti, membuat posko bantuan, mendata raykat yang terdampak krisis, memberikan bantuan yang bersifat penting seperti sandang, pangan, papan, obat-obatan.

Beliau tidak hanya memerintah namun turut terjun langsung dalam membantu melayani masyarakat.

Ketiga, mengutus delegasi negara untuk pergi ke wilayah kekhalifahan yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Dalam suatu riwayat, petugas Khalifah Umar mendatangi Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir untuk meminta pertolongan, dan beliau segera mengirimkan seribu unta yang membawa yang membawa tepung lewat jalur darat, dan dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta lima ribu pakaian.

Keempat, bertaubat dan mengadu kepada Allah SWT atas seluruh dosa dan maksiat yang diperbuat karena hal-hal tersebutlah yang dapat mengundang murkaNya.

Terakhir, menghentikan sementara hukuman bagi pencuri karena saat terjadi krisis banyak sekali kasus masyarakat yang memakan atau mengambil barang milik orang lain karena kelaparan serta menunda pemungutan zakat dan menunggu hingga tanah menjadi subur kembali.

Demikianlah prinsip negara Islam dalam menangani krisis, yang mana fokusnya adalah untuk mengurusi urusan umat. Dan tentunya kita sebagai masyarakat harus menetukan sikap bahwasanya wabah dan krisis yang menyertainya adalah teguran keras dari Allah SWT bagi kaum muslimin.

Allah SWT berfirman, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” TQS. Al-Anfal:25.

Dalam ayat tersebut Allah mengingatkan kaum muslimin akan fitnah (bencana) akibat perbuatan orang-orang zalim, namun musibah tersebut menimpa mereka secara keseluruhan akibat banyak kaum muslimin yang berdiam diri atas kedzaliman tersebut.

Maka, hendaklah kaum muslimin menghindar dari murka Allah dari bencana dan krisis dari segala bidang dengan menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh untuk berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” TQS. Ali Imran: 104. Wallahua’lam bisshawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita