by

Nafisah Asma Mumtazah*: Ulama Protes Ekonomi Diangkat Ibadah Dihambat

-Opini-82 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ulama (MUI, PA 212, Da’i) mempertanyakan ironi kebijakan pemerintah yang memihak kepentingan korporasi dan mengabaikan kepentingan rakyat serta menghambat kepentingan umat. Mestinya disadari kebijakan sejenis ini tidak menghantarkan pada solusi tapi malah melahirkan persoalan baru (gejolak rakyat).

Sebagaimana dilansir dari tribunnews.com, (14/5/2020), wacana relaksasi tempat ibadah yang digaungkan Menteri Agama Fachrul Razi didukung oleh Persaudaraan Alumni 212. Menurut mereka jangan sampai ada pemerintah membuka akses bandara tetapi rumah ibadah tidak dibuka.

“Sebab kalau tidak ini bisa jadi bom waktu pembangkangan massal umat Islam karena merasa ada diskriminasi kebijakan,” ujar Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif, Rabu(13/5/2020). Ia pun berharap wacana tersebut bisa cepat direalisasikan dan dikomunikasikan dengan pihak terkait termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Penerbangan buka, bandara buka, transportasi longgar, mal buka dan lainya sementara tempat ibadah masih tutup, ibadah diawasi, kacau ini. Hati-hati kalau menyangkut urusan agama ini sangat sensitif.” Ujar Slamet.

Hal ini pula yang mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta kejelasan dari pemerintah dalam menjalani kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal itu guna menindak lanjuti fatwah shalat Jumat yang juga akan ditetapkan bila ada kejelasan sikap.

“Pelonggaran PSBB ini yang terjadi perlu diperjelas, apakah penyebaran Covid-19 sudah terkendali atau belum? Karena hal itu sangat penting bagi MUI untuk dijadiakan dasar bagi menjelaskan dan menentukan sikap,” kata sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangan pers yang diterima Republika.co.id, Jumat, (8/5/2020).

Bagaimana jawaban pemerintah ? Hampir tak ada respon. Bisa dimaklumi, jika untuk kepentingan ekonomi,bisnis dan investasi ( yang tentunya lebih menguntungkan pengusaha dari pada kepentingan rakyat), maka ancaman bahaya virus bisa diupayakan untuk diminimalisasi. Itu sebabnya bandara dibuka dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

Sementara untuk kepentingan ibadah, bahkan yang wajib sekalipun ( seperti shalat Jumat), terpaksa umat Islam harus mengalah. Dengan alasan hifzhu nafs ( menjaga nyawa manusia), umat dilarang ke masjid.

Demikianlah semain tampak bagaimana rezim kapitalis sekuler hari ini memosisikan para ulama. Kedudukan ulama di hadapan negara hanya sekedar formalitas, jika dibutuhkan diminta fatwa untuk legalitas kebijakan negara, jika tidak dibutuhkan maka pendapatnya diabaikan.

Negara tak bersungguh_sungguh mendengarkan pendapat para ulama, menerima masukannya, apalagi menjalankannya. Bahkan sebagai ulama yang kritis dan menyampaikan nasehat dalam rangka amar makruf nahi mungkar, malah dianggap menentang pemerintah. Tentu ini membodohi dan sangat menyakitkan umat Islam.

Dari sini seharusnya ulama bersuara lantang untuk mengangkat setiap jenis aspirasi umat yang menjerit akibat kebijakan rezim kapitalis. Juga mengangkat kritik bahwa wabah covid selayaknya menyadarkan agar kembali pada solusi syariah.

Karena ulama adalah lambang iman dan harapan umat, mereka tak kenal lelah memberikan petunjuk dengan hanya berpegang pada Islam. Siang hari mereka habiskan untuk membina umat dan membentenginya dari kekufuran, kedzaliman, dan kefasikan.

Malam hari mereka duduk bersimpuh, juga sujud dan berdoa bagi kemuliaan umat Islam. Mereka adalah pewaris para nabi sebagaimana Rasulullah Saw bersabda :

“Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi.” ( HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi ).

Ilmu yang mereka miliki menghantarkan mereka pada kedudukan terbaik dan derajat muttaqin, yang dengannya tinggilah kedudukan derajat mereka. Sebagaimana firman Allah Swt :

“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kalian beberapa derajat, dan Dialah yang Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS Al Mujadilah : 11).

Keberadaan ulama yang berada di barisan terdepan dalam membina umat akan menjadi penerang dan penunjuk arah, dan Rasulullah Saw. mengibaratkan mereka laksana bintang dalam sabdanya:

“Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang bintang yang ada di langit yang menerangi gelapnya bumi dan laut. Maka apabila hilang bintang gemintang itu hampir hampir tersesatlah yang tertunjuki itu”. (HR Ahmad)

Dan ulama adalah sosok yang harus dihormati dan dimuliakan. Perkataannya adalah nasihat yang seharusnya didengar, karena ia adalah guru bagi para penguasa sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali,

“Sultan atau penguasa tugasnya mengurusi rakyat. Sementara sultan sendiri untuk mengurusi rakyat membutuhkan sebuah undang-undang. Sedangkan ahli fikih atau ulama ialah orang yang tahu tentang undang-undang siyasah. Jadi, ahli fikih atau ulama itu posisinya adalah gurunya sultan atau penguasa dan tugas guru ialah menjelaskan atau meluruskan murid jika sang murid berjalan tidak sesuai materi undang-undang.” (Ihya Ulumuddin; Juz 1)

Keberadaan ulama sangatlah penting, sebagaimana pula keberadaan para penguasa (umara) karena agama dan kekuasaan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Imam al Ghazali mengibaratkannya sebagai saudara kembar.

“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; Agama merupakan fondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Ihya Ulumuddin; Juz 1)

Demikianlah Islam memosisikan para ulama. Sungguh sangat jauh berbeda dengan bagaimana sistem kapitalisme dengan rezim sekulernya memosisikan para ulama.

Dalam Islam, para ulama mendapatkan tempat terhormat sebagai penasihat yang menentukan kebijakan penguasa. Sementara dalam sistem kapitalisme, ulama justru dimanfaatkan hanya sebagai stempel legalitas kebijakan penguasa.

Di dalam Islam, ulama memiliki peran strategis yang akan memastikan penguasa selalu berada di jalan kebenaran dan hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini karena mereka benar benar melakukan amar makruf nahi mungkar dengan lisan-lisan mereka, hingga keluarlah nasihat dan kritik kepada para pemimpin tanpa memperhatikan apakah hal itu menyelamatkan ataukah membahayakan mereka.

Dalam Kitabnya Maqamat al-‘Ulama Bain Yaday al-Khulafa’ wal al-Umara’ Imam al-Ghazali mengisahkan bagaimana sikap dan pendirian ulama di hadapan kekuasaan, ketika mereka harus berinteraksi dengan elite pemimpin.

Beragam peristiwa yang dinukilkan al- Ghazali di kitabnya itu menunjukkan independensi, kredibilitas, integritas, dan kejernihan mereka di hadapan kekuasaan. Nasihat-nasihat yang mereka berikan tetap berbobot meski disampaikan di hadapan khalifah, elite tertinggi ketika itu.

Salah satu kisah yang dinukilkan Imam al- Ghazali adalah kisah integritas Syabib bin Syaibah di hadapan Khalifah al-Mahdi, putra al-Manshur. Syabib menyampaikan petuahnya, “Wahai pemimpin umat Islam. Sesungguhnya Allah SWT ketika membagi rezeki, Dia tidak ridha untukmu dari dunia kecuali yang terbaik dan tertinggi. Maka, janganlah engkau berpuas diri dari akhirat, kecuali persis seperti apa yang telah Allah karuniakan kepadamu dari dunia. Bertakwalah kepada Allah. Bukalah pintu maaf dalam kuasamu. Lawanlah hawa nafsu”.

Sungguh mulia apa yang disampaikannya. Mengingatkan penguasa untuk lebih memperhatikan akhiratnya. Dan sebaik baik akhirat itu akan didapatkan penguasa ketika ia benar benar menjalankan kepemimpinannya dengan amanah. Menjalankan fungsi raa’in (pengurus dan pengatur) dan junnah (penjaga dan pelindung) dengan sebaik baiknya.

Sungguh, hanya sistem Islam yang akan memuliakan para ulama. Menempatkan mereka pada posisi terhormat sebagaimana Allah telah tetapkan untuk mereka. Hanya dalam Daulah Khilafah, hubungan ulama dan penguasa (umara) menjadi hubungan yang diberkahi dan dirahmati Allah.

Penguasa menjalankan amanah mengatur dan mengurus rakyatnya dengan sebaik baiknya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sementara ulama menasihati penguasa, membimbingnya agar selalu berada di jalan kebenaran dan menerapkan hukum Allah secara keseluruhan bagi rakyatnya. Wallahu A’lam bisawab

*Kelompok Penulis Ideologis, Gresik, Jawa Timur,

Comment

Rekomendasi Berita