by

Santika*: Mati Di Lumbung Padi Saat Pandemi

-Opini-27 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia gemah ripah loh jinawi adalah salah satu jargon yang tidak asing lagi ditelinga kita, jargon tersebut dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung arti tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya.Tidak dapat dipungkiri, secara fakta memang benar kekayaan alam Indonesia amatlah berlimpah baik kekayaan hayati maupun non hayati.

Berbagai daerah di Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan tambang. Ditambah dengan kelebihan letak geografis Indonesia yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, yang membuat tanah di Indonesia menjadi subur.

Ibarat lagu yang dibawakan oleh grup music Koes Plus yang liriknya menggambarkan kekayaan Indonesia Bukan lautan hanya kolam susu kail dan jala cukup menghidupimu dst.

Muncullah pertanyaan dalam benak kita, apa timbal balik yang didapatkan dari kekayaan alam yang dimiliki buat rakyatnya?

Jika melihat fakta kekayaan alam yang ada seharusnya rakyat Indonesia yang berjumlah kurang lebih 267 juta berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) ditahun 2019, menjadi rakyat yang paling bahagia dengan tercukupinya semua kebutuhan sandang dan papan.Tidak ada lagi mendengar berita adanya rakyat yang meninggal karena kelaparan.

Jauh panggang dari api, cita dan harapan hanyalah angan belaka. International Food Policy Research Institute (IFPRI) pada tahun 2019 mengungkapkan 22 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan kronis.

Bagaimana keadaan rakyat di tengah pandemic saat ini? Tentunya sudah dapat diduga ancaman kelaparan makin jelas di depan mata. Bagaimana tidak dengan adanya pandemic Covid-19 mengakibatkan lumpuhnya berbagai sendi kehidupan. Salah satunya dibidang ekonomi. Secara otomatis rakyat makin terpuruk, rakyat pun makin berkondisi buruk. Hal ini mau tidak mau mengancam ketahanan pangan.

Sistem Kapitalis biang ancaman ketahanan pangan disaat pandemi.

Pandemi Covid-19 telah memporak porandakan ketahanan diberbagai sendi kehidupan salah satunya hancurnya ketahanan pangan.

Namun pada dasarnya ancaman kelaparan yang terjadi saat ini adalah akibat sistem yang digunakan adalah sistem kapitalis, yang memunculkan virus yang lebih mematikan yaitu “SEPILIS (Sekularis Kapitalis). Dimana dengan adanya “SEPILIS” menimbulkan ketimpangan sosial yang sangat signifikan. Orang kaya semakin kaya sementara orang miskin semakin miskin.

Agama dipisahkan dari lini kehidupan, sehingga semua kehidupan yang ada berasaskan kemanfaatan semata, bukan berdasarkan atas keridhoan Illahi Rabbi. Rakyat bukan lagi dipandang sebagai umat yang harus dipenuhi kebutuhannya melainkan sebagai sebuah objek bisnis semata.

Walhasil sistem ini telah gagal mengatasi krisis pangan, terbukti Indonesia pada tahun 2019 menempati posisi ke-70 dari 117 negara yang disurvei, skor Indonesia di angka 20,1. Skor indeks kelaparan Indonesia jauh lebih tinggi daripada Negara tetangga di kawasan, seperti Vietnam (15,3), Malaysia (3,1) dan Thailand (9,7), dikutip dari globalhungerindex.org.

Sistem Islam mengatasi krisis pangan saat pandemi.

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur semua lini kehidupan dimulai dari hal-hal kecil hingga hal yang sangat besar yaitu mengatur negara. Bagaimana islam mengatur ketahanan pangan pun sudah dicontohkan oleh Amirul mukminnin Umar bin Khatab r.a. Bagaimana beliau tidak mau melihat rakyatnya menangis karena kelaparan, sehingga beliau membagikan makanan dan mengeluarkan dana dari baitul mal ketika rakyatnya mengalami paceklik. Sehingga gudang makanan dan uang di baitul mal kosong.

Begitulah sejatinya gambaran seorang pemimpin ketika Islam diterapkan dalam kehidupan, karena sejatinya seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban.

Rasululloh SAW. Bersabda : Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (Waliyul Amri) yang memerintahkan manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya. ( HR. AL Bukhari No. 892 dan Muslim No. 4828).

Ketika kita sadar bahwa kapitalislah yang telah memporak porandakan ketahanan berbagai sendi kehidupan, maka kini saatnya kita kembali kepada aturan yang datangnya dari Allah illahi Rabbi. Kembali kepada sistem Islam yang hakiki. Wallohua’lam bishawab.[]

*Ibu Rumah Tangga

Comment

Rekomendasi Berita