by

Shafayasmin Salsabila*: Cinta Tertukar Di Atas Kepentingan

-Opini-50 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Apa jadinya jika seorang ibu lebih sayang kepada anak tetangga ketimbang anak kandungnya sendiri. Hanya karena si tetangga sering memberikan makanan kaleng yang sebenarnya kurang baik untuk kesehatan?

Kalau boleh mengutip diksi legend-nya Bang Roma, “Terlalu”. Ini adalah komentar paling masuk akal. Tidak seorang pun menyangkal, kecuali bagi yang pikirannya agak terganggu.

Sayangnya, analogi di atas terjadi di negeri +62 tercinta ini. Tatkala kabar akan kedatangan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina ke Sulawesi Tenggara, dibawa oleh burung-burung Camar. Sementara jutaan rakyat di tanah air, tengah diterpa badai Pemutusan Tenaga Kerja (PHK). Tidakkah ini ironis?

Padahal, Indonesia masih bergulat dan survive dari wabah Covid-19. Masih segar dalam ingatan, bahwa Cina adalah negara asal wabah yang kini menjangkiti ratusan negara di dunia.

Lantas, membentangkan karpet merah bagi pekerja asal pandemi, dikatakan sebagai sebuah kebijakan?

Apa kabarnya penguasa dan para pejabat elit negeri ini? Tidakkah terpikirkan kebahayaannya, yakni memicu masifnya wabah jilid dua.

Bukan tanpa alasan, kenapa harus ada pemerintahan di tengah kumpulan orang-orang dalam sebuah wilayah. Kisruh, tidak rapih dan amburadul, tanpa diangkatnya pemimpin. Oleh itulah negara didirikan, agar ada satu pihak yang diberikan kewenangan menertibkan dan mengurusi segala hiruk pikuk keseharian warga.

Namun bagaimana ujungnya, apabila kepercayaan ini disalahgunakan? Kekecewaan di hati warga akan menyembul, memantik rasa marah dan nyali untuk mengembalikan urusan, on the track-nya.

Maka wajar jika gelombang penolakan menyeruak. Dilansir dari Kompas (1/5), kalangan DPR dan Pemprov Sultra mempertanyakan niatan pemerintah tersebut. Pasalnya fokus pemerintah semestinya adalah bagaimana menekan penyebaran Covid-19. Bukan malah membuka pintu baru bagi penyebaran virus. Bahkan mencuatlah kecurigaan akan adanya dugaan keterlibatan menteri tersohor.

Cap ‘lembek” pun mendarat, Komisi IX DPR RI menilai Pemerintah mendadak redup nyali jika sudah berurusan dengan pemodal asing asal negeri “Kungfu Panda”.

Saleh Partaonan Daulay, seorang Anggota Komisi IX DPR, mengatakan pemerintah terkesan amat inferior dan terkadang nampak kurang berdaulat saat berhadapan dengan para investor Cina. (Kompas.com, Kamis (30/4/2020).

Bagai mengurai benang kusut jadinya. Urusan wabah belumlah usai, kini banyak hati resah akan ketidakjelasan kebijakan. Gerak manusia di dalam negeri di batasi, lantas pergerakan manusia dari luar malah longgar. Warga butuh angin segar. Maka tak ada salahnya sedikit meluaskan cakrawala berpikir agar terlepas dari sikap pragmatis apalagi apatis, pesimistis, ataupun hopeless menunggu kehancuran datang.

Jalan keluar itu sudah pasti ada. Dan sudah ada, hanya belum semua mata terbuka dan mampu mengenalinya. Cahaya mabda selama ini sengaja ditutupi agar manusia lari menjauh dari jati dirinya, sebagai makhluk. Jika saja kesadaran akan posisi ini menjadi kesadaran bersama, tidaklah ada satu jiwa pun kecuali berkenan untuk tunduk pada satu sumber jawaban, yakni Islam.

Bukan sekadar agama, Islam adalah sebuah jalan hidup bagi manusia, kepemimpinan berpikir, arah pandang, juga sebagai tuntunan keseharian, pun termasuk di dalamnya seputar tata kelola negara, ada dalam cakupannya.

Maka kesadaran ini akan membawa kepada kebutuhan atau lebih tepatnya, perasaan bergantung hanya kepada wahyu (kalam Allah Ta’ala). Inilah peranan Islam sebagai problem solver, yakni satu bagian yang mengukuhkannya sebagai sebuah jalan hidup (mabda).

Dalam konsepsi Islam mabda, asas ruhi menjadi nyawa bagi keberlangsungan pemerintahan. Asas ruhi yang membuat setiap individu memahami bahwa jabatan kepemimpinan semata dalam rangka “alat” demi terpenuhinya hak Allah, yakni diibadahi (diterapkan semua ketetapan aturanNya).

Bukan untuk menggapai kedigdayaan. Tatkala ditegaskan dwi fungsi pemimpin sebagai perisai dan pengatur urusan warga, maka tidaklah ada satu kebijakan pun yang lahir, kecuali membawa kebermanfaatan dan keselamatan bagi seluruh warga.

Di samping itu, asas ruhi membuat setiap jajaran pemimpin bersama para pejabat lainnya, berkomitmen untuk all out menjadikan warga sebagai prioritas, saking sadar akan adanya tanggung jawab baik di dunia dan akhirat.

Selalu ada balasan, baik siksa atau nikmat, dari setiap kebijakan yang digelontorkan. Apakah berkiblat pada dua rujukan utama yang diwariskan oleh Muhammad Saw, sebagai nabi terakhir bagi umat manusia, yakni Alquran dan Assunnah?

Jika sandarannya adalah ketauhidan, maka baik pada saat terjadi wabah atau pun tidak, negara akan memastikan kemaslahatan bagi warga. Tidak takut pada tekanan negara lain, pun tidak gentar tatkala mengambil keputusan tegas.

Dalam kasus TKA, tentu negara tidak akan membiarkan kedatangan mereka begitu saja.

Negara akan lebih dahulu memastikan kesejahteraan warganya. Termasuk memastikan agar jangan sampai ada warga yang kesulitan mencari nafkah.

Negara akan memberikan pelayanan terbaik agar warga mampu melaksanakan taklif hukum syara’ (perintah Allah), salah satunya adalah kewajiban penafkahan seorang lelaki kepada keluarganya.

Maka tidak akan ada ceritanya, saat negara malah berpindah ke lain hati hanya karena ada unsur kepentingan duniawi. Semenggiurkan apapun tawarannya, negara akan fokus pada dua tugas utamanya.

Jika melenceng dari syariat, level penguasa sekalipun akan dihadapkan pada persidangan di hadapan Qadi (hakim). Lalu akan diberikan keputusan hukum seadil-adilnya sesuai sistem persanksian dalam Islam.

Apalagi di masa wabah, kebijakan lockdown (karantina syar’i) akan segera diambil tanpa ragu dan tidak menunggu korban berjatuhan terlebih dulu. Orang asing, apapun statusnya tidak akan diijinkan untuk masuk, apalagi menyerobot jatah pekerjaan warga. Indahnya saat hidup diatur dalam sistem kenegaraan Islam.

Takaran cinta jelas. Juga kepada siapa kecenderungan harus diberikan. Warga tidak akan merasa diduakan atau dikhianati. Kecewa? Amat jauh panggang dari api. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

*Forum Muslimah Peduli Umat dari Indramayu)

 

Comment

Rekomendasi Berita