by

Iim Muslimah, S.Pd*: Covid-19 Meningkat KarenaTes Massif Atau Penerapan New Normal?

-Opini-24 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA – Sejumlah wilayah di Indonesia mulai melonggarkan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan memasuki masa transisi menuju tatanan kehidupan baru (new normal) saat pandemi virus corona (Covid-19).

Beberapa daerah telah membuat aturan terkait penerapan new normal sambil terus melakukan upaya pencegahan COVID-19. Masyarakat diharapkan mengikuti aturan tersebut dengan selalu menerapkan protokol kesehatan.

Seiring dengan pemberlakuan new normal pemerintah juga melakukan tes masif sampai ke pelosok daerah. Tes ini dilakukan untuk mengetahui yang tergejala sejak dini.

Namun kenyataan berbeda dengan harapan. Virus bukannya semakin menurun justru meningkat.
Terbukti dari banyak pasar-pasar yang akhirnya terpaksa ditutup karena penularan virus covid-19.

Dikutip dari AntaraNews.com. Sebanyak tiga pasar tradisional di Kecamatan Pulo Gadung, ditutup selama tiga hari pada 25-27 Juni 2020 menyusul temuan puluhan pedagang positif COVID-19 dari hasil tes.

Karena Tes atau New Normal?

Sejak PSBB dilonggarkan penambahan kasus covid-19 semakin signifikan. Setiap hari penambahannya mencapai seribu lebih kasus. Meskipun pemerintah berdalih penambahan yang signifikan ini karena tes masif, namun nyatanya sejak pemberlakuan new normal masyarakat banyak yang masih abai terhadap protokol kesehatan. Ditambah tes tidak dilakukan secara merata.

Akhirnya alih-alih tertekan justru virus semakin masif berkeliaran. Seperti di tempat-tempat wisata atau di pasar masih sedikit sekali masyarakat yang menggunakan masker atau sadar terhadap protokol kesehatan.

Ini menandakan masyarakat belum siap diberlakukan new normal.

Dikutip dari Bisnis.com. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menuturkan sikap gegabah pemerintah dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat ihwal pencegahan penyebaran transmisi lokal virus corona.
Hermawan berpendapat sejumlah masyarakat pada akhirnya menganggap langkah itu menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

“Inilah risiko pembukaan sektor-sektor tersebut, kita sekarnag mengalami kenaikan kasus secara konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan,” kata Hermawan melalui pesan suara kepada Bisnis, Jakarta, pada Minggu (21/6/2020).

Seharusnya kesehatan masyarakat menjadi perioritas utama bukan ekonomi. Karena meskipun ekonomi berjalan, jika masyarakatnya sakit justru akan semakin menambah buruk keadaan. Ekonomi semakin terperosok, kesehatan masyarakat semakin memburuk.

Seperti yang kita tahu sejak pandemi hampir semua negara mengalami krisis ekonomi, termasuk Indonesia. Maka pemberlakuan new normal ini diharapkan bisa mengembalikan ekonomi meski nyawa rakyat menjadi taruhannya.

Padahal negara yang sudah berhasil menekan virus Corona saja seperti Korea, tidak berhasil melakukan new normal.

Tes massif pun seperti hanya sia-sia, karena tes hanya dilakukan oleh segelintir orang saja dengan biaya yang cukup tinggi.

Padahal krisis ekonomi seharusnya menjadi tanggung jawab negara dan memenuhi kebutuhan rakyat pun juga tanggung jawab negara. Nyawa rakyat tidak boleh jadi tumbah keberlangsungan ekonomi yang bukan menguntungkan rakyat tapi para kapitalis.

Ketika Pemimpin Islam Menghadapi Krisis

Daulah Islam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat.

Walhasil, krisis ekonomi ini, sungguh adalah sunnatullah. Bisa dialami oleh sebuah negara. Termasuk Daulah Islam. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana Khalifah peduli dan memikirkan jalan keluar yang tepat dan cepat dalam mengatasi krisis ekonomi ini.

Pada masa krisis ekonomi itu, Khalifah Umar ikut menderita hingga diceritakan warna kulitnya berubah.

Ini adalah sebuah sikap kepedulian yang luar biasa dari seorang kepala negara terhadap penderitaan rakyatnya. Khalifah Umar tahu bahwa tanggung jawab seorang kepala negara sangatlah besar kelak di Hari Kiamat.

Berbeda dengan pemimpin di era kapitalis. Jangankan ikut merasakan penderitaan rakyat justru rakyat dibiarkan berjuang sendirian menghadapi ganasnya covid-19.

Padahal ekonomi seharusnya tidak menjadi alasan diberlakukan new normal. Karena Indonesia dengan potensi alam yang melimpah sudah seharusnya cukup untuk menghadapi krisis ekonomi saat pandemi.

Namun ternyata kekayaan alam yang melimpah ruah tidak mampu menjadi penopang ekonomi saat pandemi. Mengapa? Karena kekayaan alam yang ada dikelola oleh asing dan Aseng sedangkan Indonesia hanya mendapat ampasnya saja.

Sumber Daya Alam (SDA) merupakan faktor penting bagi kehidupan umat manusia, yang saat ini dikuasai oleh negara-negara penjajah baik secara langsung maupun melalui korporasi-korporasi mereka. Karena itu untuk mengembalikan kedaulatan umat atas kekayaan SDA yang mereka miliki harus ditempuh dengan menegakkan kembali Negara Islam.

Karena itu pula, kalau saat ini ada penolakan terhadap Islam dan kriminalisasi yang dilakukan oleh rezim-rezim negeri negeri Islam, bisa diduga kuat bahwa di belakang mereka adalah para kapitalis dan negara-negara penjajaha. Wallahu a’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita