by

Laela Komalasari*: Perkara Hati, Kita Hanya Perlu Mengandalkan

-Opini-23 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA – Kecewa. Makna kecewa di KBBI adalah: kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dsb). Banyak sebab yang membuat seseorang kecewa, tapi sebenarnya sebab itu dibuat oleh dirinya sendiri, bukan orang lain. Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain atau mendapatkan sesuatu sesuai apa yang kita ingin. Kita hanya perlu mengendalikan hati kita.

Kecewa terjadi saat seseorang mengaharapkan sesuatu yang sudah dibayangkan ekspetasinya sesuai yang diinginkan. Namun, realita tidak semanis dikira.

Harapan tak seindah kenyataan. Kecewa akan dirasakan juga saat yang kita tunggu, yang kita harapkan tak kunjung terkabul.

Tapi sekali lagi, itu bukan salah orang lain. Sadar dirilah, bahwa itu semua sebab diri sendiri.

Banyak orang marah jika harapannya tidak terealisasi. Mencari tau alasan kenapa, mengapa kepada Allah. Seolah-olah menuntut bahwa keinginannya harus tercapai.

Tanpa kita tahu, Allah punya cara lain mengabulkan keinginan kita. Allah memiliki rencana yang akan kita dapatkan tanpa kita duga. Allah lebih tahu apa yang benar-benar kita butuhkan.

Saat harapan tak jua didapatkan coba intropeksi diri. Apakah harapan itu hanya tentang duniawi? Hanya tentang kepentingan pribadi. Atau harapan yang dapat bermanfaat bagi seluruh umat?J

ika harapan kita hanya sebatas materi dan duniawi sungguh rugi, sahabat. Sebab apa yang kita dapatkan, apa yang kita capai di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Saat harapan masih tak kunjung terkabul. Allah sedang menggantinya dengan yang lebih baik bahkan yang terbaik. Atau bisa jadi Allah menangguhkan terkabulnya harapan kita hingga nanti di akhirat harapan kita tercapai.

Terus berprasangka baik kepada-Nya. Sebab Allah sesuai prasangka hambanya. Tidak perlu bertanya, kenapa, mengapa. Tapi, berdoa memohon kepada-Nya berikan yang terbaik.

Menyesal bukan menjadi pilihan saat kenyataan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Selalu berandai-andai, selalu mengungkit-ungkit “coba saja dulu saya tidak bla bla bla”.

Bukan, bukan dengan itu kita menanggapinya. Manusia hanya bisa berencana, ranah Allah yang menentukan jalannya. Dan pahami juga konsep Qodho dan Qodhar agar tidak akan pernah ada penyesalan.

Seperti Firman Allah didalam Al-Qur’an: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (TQS. Albaqarah : 216).

Segala sesuatu mesti atas kehendak-Nya, tidak mungkin semua terjadi begitu saja. Misalnya, ada ibu-ibu yang dijambret dijalanan, si penjambret ini berhasil kabur membawa tas beserta isi tas si Ibu tersebut.

Nah, kejadian itu bukan kebetulan semata. Allah menghendaki si Ibu itu dijambret, dan Allah pun menghendaki si penjambret itu berhasil kabur.

Yang perlu digaris bawahi, dibold dan dihuruf kapitalkan adalah Allah Berkehendak tetapi belum tentu Allah ridho.

Jika si Ibu menghadapi musibah tersebut dengan sabar, tawakal dan tetap berprasangka baik kepada Allah, maka Allah ridho dan pasti akan dibalas dengan yang lebih dari itu. Namun, jika si Ibu tersebut berprasangka buruk, rugilah ia. Sudahlah dijambret, tidak diridhoi Allah pula.

Apalagi jika sampai si Ibu itu berkata “coba aja saya ga lewat sini” “andai aja saya ga bawa tas” dan seterusnya begitu sama saja ia menampikan kehendak Allah dan belum memahami konsep Qodho dan Qodhar.

Banyak kejadian-kejadian semacam itu di sekeliling kita, atau mungkin pernah dialami oleh kita sendiri. Tinggal menetapkan hati untuk tidak kecewa berlebihan. Untuk tidak menyesal kemudian.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ujian terbesar manusia ada pada hati. Jika hati dengki sedikit saja akan mempengaruhi pola pikir dan pola sikap kita. Jika ada kecewa dirasa, akan terus menyalahi diri sendiri, menyalahi takdir.

Bukti lemahnya manusia karena melawan nafsu dirinya sendiri pun tak mampu. Maka dari itu senantiasalah kita menyocoki hati dan pemikiran kita dengan ilmu-ilmu Islam.

Sering-seringlah bermuhasabah, bermunajat kepada Allah. Sadar diri lah bahwa kita ini lemah, terbatas dan kecil hingga butuh sesuatu yang Khaliq yaitu Allah.

Sirami hati kita dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dengan kajian-kajian, dengan mengingat kematian yang senantiasa hati ini akan merendah. Hati hanya segumpal daging yang Allah selipkan nafsu didalamnya. Jangan sampai nafsu menguasai hati dan diri kita. Wallahu’alam bishawab.[]

*Guru

Comment

Rekomendasi Berita