by

Lailla Rahmadani*: Istiqomah Taqwa Pasca Puasa

-Opini-41 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA – Bulan Ramadhan telah usai. Bulan dimana Allah men”training” umat muslim selama satu bulan penuh untuk terbiasa melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Maka idealnya setelah melewati ”training” ini, setiap muslim akan menjadi “sosok baru”. Berbeda antara sebelum bulan Ramadhan dan setelah bulan Ramadhan.

Setelah bulan Ramadhan, idealnya setiap muslim semakin rajin beribadah (melakukan banyak shalat sunnah, shaum sunnah, berzikir dan ber-taqarrub kepada Allah, dll); semakin banyak bersedekah; semakin berakhlakul karimah; semakin rajin menuntut ilmu; semakin terikat dengan syariah; semakin giat berdakwah dan beramal makruf nahi mungkar; dan seterusnya.

Sebaliknya, ia pun semakin jauh dari perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah. Singkatnya, ia akan menjadi sosok yang semakin bertambah ketaqwaanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Taqwa inilah yang menjadi “buah” dari puasa yang ia jalani selama sebulan penuh di bulan Ramadhan (QS al-Baqarah [2]: 183).

Jika taqwa berhasil ia raih, berarti ia telah melakukan puasa dengan benar. Sebaliknya, jika tidak, berarti puasanya selama bulan Ramadhan hanyalah sekadar menahan rasa lapar/haus semata. Demikian sebagaimana yang diisyaratkan oleh Baginda Nabi saw. (HR Ahmad dan ad-Darimi).

Terkait dengan taqwa, Baginda Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra. saat beliau mengutus dia ke Yaman:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun kamu berada …” (HR at-Tirmidzi).

Terkait frasa haytsuma kunta, dapat dijelaskan bahwa kata haytsu bisa merujuk pada tempat (makan), waktu (zaman) dan keadaan (hal). Karena itu sabda Baginda Rasul ﷺ kepada Muadz tersebut sebagai isyarat agar ia bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya di Madinah saja, yakni saat turunnya wahyu-Nya, saat ada bersama beliau, juga saat dekat dengan Masjid Nabi ﷺ. Namun, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimana pun (Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh al-Arbain an-Nawawiyyah, 42/4-8).

Dengan demikian setiap muslim pun seharusnya bertaqwa tidak hanya saat berada pada bulan Ramadan saja, akan tetapi juga di luar Ramadhan yakni selama sebelas bulan berikutnya.
Sayangnya, meski telah dipupuk dan dipelihara selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Namun mempertahankan keistiqomahan dalam ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala pada umumnya sulit dilakukan oleh kaum muslim.
Betapa banyak Muslim yang selama bulan Ramadhan berusaha shalat tepat waktu, dan khusyuk di dalamnya, bahkan senantiasa berjamaah di masjid. Banyak membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran.

Berusaha menutup aurat dan berjilbab syari (bagi Muslimah). Banyak melakukan shalat malam dan zikir. Banyak bersedekah. Berhenti dari banyak dosa dan maksiat. Demikian seterusnya.

Namun, selepas bulan Ramadhan, kadar keimanannya seolah berkurang. Tingkat ketaqwaannya seolah menurun. Ibadah shalatnya kembali bolong-bolong. Membaca Alquran kembali jarang-jarang. Auratnya kembali terbuka. Dosa dan maksiat kembali dilakoni. Demikian seterusnya.

Seolah “training” sebulan penuh tak berbekas pada diri kaum muslim. Bulan Ramadhan seolah hanya ritualitas tahunan tak berefek apapun bagi kehidupan kaum muslim.
Hal ini wajar terjadi sebab keistiqomahan dalam menjalankan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala memerlukan komunitas masyarakat yang juga bertaqwa. Sedang saat ini kaum muslim hidup di tengah-tengah masyarakat yang diliputi dosa dan kemaksiatan akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekuler. Maka inilah pentingnya ketaqwaan kolektif, yakni ketaqwaan yang tidak hanya ada dalam ranah individu muslim semata tapi juga ranah masyarakat dan Negara.

Ketaqwaan semacam ini hanya mungkin terwujud saat kita selalu hidup di tengah-tengah masyarakat yang menerapkan syariah Islam secara kaffah (totalitas).

Saat ini sebagian dari hukum/syariat Islam memang bisa dilaksanakan, terutama dalam ranah pribadi seperti hukum-hukum Islam di seputar ibadah, makanan, pakaian, minuman, akhlak, keluarga dan sebagian muamalah.

Namun, masih banyak hukum syariah lainnya yang belum bisa dilaksanakan saat ini. Terutama terkait pemerintahan, politik dalam negeri, politik luar negeri, ekonomi, tata pergaulan, pidana dan hukum-hukum syariah tentang pengaturan masalah publik.

Padahal semua hukum itu adalah sama, yaitu hukum syariah yang bersumber dari wahyu Allah subhanahu wata’ala yang tidak boleh dibeda-bedakan.

Hukum syariah bukanlah makanan prasmanan yang boleh dipilah-pilih sesuka hati, diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian yang lain. Hukum syariah, semuanya harus dilaksanakan sebagai wujud ketaqwaan yang sudah ditempa selama bulan Ramadhan.
Tidak biasa terwujudnya pelaksanaan syariah secara totalitas dikarenakan prasyarat pelaksanaannya belum terwujud. Prasyarat itu adalah adanya lembaga kekuasaan (sistem pemerintahan) yang menerapkan syariah secara keseluruhan.

Oleh karena itu, untuk menyempurnakan dan melanggengkan ketaqwaan yang sudah ditempa selama bulan Ramadhan, hendaklah setiap Muslim turut terlibat secara aktif dalam perjuangan mewujudkan penerapan syariah Islam secara kaffah.

Semua itu merupakan tuntutan dari keimanan sekaligus penyempurna perwujudan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.WalLâh alam bi ash-shawâb.[]

*Aktivis Muslimah Papua

Comment

Rekomendasi Berita