by

Mamik laila: Kado Pahit Masa Pandemik, Listrik ku Naik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dahulu orang bersuka cita atas kabar listrik masuk desa. Seantero desa terang di malam hari. Yang semula aktifitas malam hanya menggunakan obor secukupnya, setelah Isya’ minyak tanahnya habis. Gelaplah dunia.
Namun seiring berlalunya waktu, listrik menjadi sangat fital dalam kehidupan. Hampir seluruh perabotan rumah tangga menggunakan listrik. See goodby minyak tanah, kami tak kan melirikmu lagi. Mulai lampu, seterika, penanak nasi, bahkan hingga hair dreyer semua menggunakan tenaga listrik. Tidak ada listrik, seolah semua aktifitas lumpuh. Hingga seluruh aktivitas rumah tangga bahkan disemua sektor bergantung padanya.

Di masa Pandemi ini, di saat seluruh rakyat membutuhkan tenaga listrik, kebijakan aneh bin nylenehpun dikethok. Pasalnya kebijakan menggratiskan pemakai listrik 450 Volt tidak berbanding lurus dengan kebijakan yang lain.

Para pelanggan listrik seolah ditipu dengan kebijakan yang seolah berpihak pada rakyat kecil. Pelanggan diatas 450 Volt, tidak semujur pelanggan 450 Volt. Pasalnya mereka mendapatkan kenaikan berkali lipat. Terbukti dengan banyaknya keluhan tagihan listrik (www.sindonews.com/7/6/2020).

Meski PLN menjelaskan adanya hitungan rerata tiga bulan kemarin. Namun masyarakat tidak puas dan protes  pembayaran yang abnormal itu.

Di masa Pandemi yang kian membuat berbagai masalah pada rakyat, justru pemerintah menambah maraknya persoalan yang dihadapi oleh rakyat. Tagihan listrik kian membengkak, rakyat kian tercekik.

Mendudukkan jargon penguasa adalah pelayan rakyat.

Harusnya slogan ini terus dibuat afirmasi oleh para pejabat, setiap pagi sebelum mereka bekerja dan setelah bekerja mereka mengucapkan dengan keras-keras. Bisa jadi mereka terlupa bahwa mereka adalah pelayan rakyat. Bahwa kedudukan yang mereka sandang adalah demi kepentingan rakyat. Bukan demi tuan korporat.

Sebagai pelayan harusnya mereka sadar, bahwa semua yang mereka kerjakan demi kemaslahatan rakyat. Rakyat sebagai raja, penguasa adalah pelayannya. Apa yang menjadi kebutuhan rakyat, hendaklah serta merta memiliki tanggung jawab besar. Sebagaimana disebutkan “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Islam mengatur kepemimpinan.

Jauh sebelum negara ini menggunakan sistem demokrasi sebagai sistem yang mengatur kemasyarakatan dan kenegaraan. Baginda nabi telah mengajarkan menjadi sosok pemimpin di Madinah dengan alquran tentunya sebagai standard nyata dalam kehidupan.

Beliau tidak pernah berpaling dengan aturan lain, meski sedikit. Beliau tidak pernah silau dengan aturan lain. Dan itu terus diikuti oleh para Khalifah selanjutnya.

Sistem kepemimpinan negara khilafah unik, berbeda dari sistem lain yang ada di dunia, baik itu kerajaan, republik maupun parlementer. Sistem yang disebut Imamah atau Khilafah, lahir dari hukum syara’, bukan lahir dari para pemikir di kalangan manusia. Dengan demikian kedudukannya lebih kuat karena yang menetapkannya adalah Sang Pencipta manusia.

Sistem Pemerintahan dalamislam memiliki perbedaan diametral dengan sistem demokrasi yang diterapkan dunia saat ini. Pemimpin dalam demokrasi hanya berfungsi sebagai lembaga eksekutif yang menjalankan amanat rakyat. Dalam praktiknya, yang disebut “rakyat” tersebut hanyalah sebatas pada para pemilik modal dan kekuatan.

Tak heran jika kemudian pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasai negara. Sementara dalam Islam, pemimpin memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in dan junnah bagi umat.

Pemimpin adalah raa’in, rasulullah saw memerintahkan mereka untuk memberi nasehat kepada setiap orang yang dipimpinnya dan memberi peringatan untuk tidak berkhianat. Imam Suyuthi mengatakan lafaz raa‘in (pemimpin) adalah setiap orang yang mengurusi kepemimpinannya.

Makna raa’in ini digambarkan dengan jelas oleh Umar bin Khaththab, ketika beliau memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada seorang ibu dan dua anaknya yang kelaparan sampai-sampai memasak batu. Atau ketika beliau di tengah malam membangunkan istrinya untuk menolong seorang perempuan yang hendak melahirkan.

Begitu juga yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang berusaha keras memakmurkan rakyat dalam 2,5 tahun pemerintahannya sampai-sampai tidak didapati seorangpun yang berhak menerima zakat.

Pemimpin sebagai junnah/perisai.

Perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Ini terlihat pada Al-Mu’tashim di era Khilafah ‘Abbasiyyah, beliau memenuhi jeritan wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi, melumat Amuriah, yang mengakibatkan 9000 tentara Romawi terbunuh, dan 9000 lainnya menjadi tawanan.

Tidakkah pemimpin-pemimpin negeri ini rindu dengan konsep kememimpinan luar biasa yang hanya mengagungkan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan?

Hanya menggunakan standar Islam yang bersumber dari Wahyu, bukan tambal sulam seperti sistem buatan manusia.[]

 

Comment

Rekomendasi Berita