by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd: Mengabadikan Amal Melalui Pena

-Opini-15 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA — Perkembangan teknologi terkini menjadikan tren media sosial sebagai sarana komunikasi tercepat dan terpesat. Namun di satu sisi dampak negatif pun tak bisa terbendung. Munculnya beragam berita hoax yang tak jelas sumbernya serta opini buruk pengaruh sistemik kapitalis.

Dunia literasi kini pun mulai banyak digandrungi semua lini. Apalagi masa pandemi saat ini dimana ruang gerak di dunia nyata dibatasi. Hampir sebagian besar penduduk dunia memantau media sosial yang berisi beragam tulisan baik yang berhaluan sekuler, sosialis ataupun Islam.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kaum muslim di tengah derasnya arus literasi.

Menulis sebagai salah satu cara menyampaikan kebenaran, membongkar makar, serta menyampaikan ilmu. Seharusnya menjadi perhatian penting kaum muslim di tengah semakin rusaknya pemikiran umat.

“Barang siapa yang tidak menuliskan suatu ilmu, maka ilmu yang ia miliki tidak dianggap sebagai suatu ilmu” (Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni)

Membaca dan tulis-menulis sebenarnya telah menjadi tradisi Islam dan ulamanya, bahkan sejak turunnya ayat pertama “Bacalah dengan (menyebut) nama Robb-mu Yang menciptakan”(QS Al-‘Alaq [96]: 1).

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw menegaskan bahwa membaca adalah suatu perintah. Dan untuk melakukan proses membaca, pastinya terdapat sesuatu yang dijadikan bacaan. Sehingga perintah membaca sebenarnya mengandung perintah untuk mengadakan suatu bacaan sekaligus perintah untuk menulis.

Kemudian tidak lama setelah ayat ini dan surat-surat lainnya turun, malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu surat Al Qalam ayat 1 “Nuun. Demi pena (qalam) dan apa yang mereka tulis”. Nabi saw juga menegaskan bahwa makhluk pertama yang diciptakan sebelum 50.000 tahun penciptaan langit dan bumi adalah pena (qalam).

Dahulu tradisi tulis-menulis sangat pesat di kalangan para sahabat di Madinah, namun kebanyakan mereka hanya menulis al-Quran yang mereka dengar dari Rasulullah saw.

Keinginan mereka untuk menulis sabda Rasulullah saw mereka urungkan sebab adanya perintah beliau untuk menghapus tulisan dan catatan mereka selain al-Quran.

Ini tidak berarti Rasulullah saw melarang penulisan selain al-Quran secara mutlak.

Rasulullah saw memberikan izin bahkan menyuruh salah seorang sahabat menuliskan khutbah beliau untuk Abi Syah. Al-Khathib al-Baghdadi (392-463 H) dalam Taqyiid al-‘Ilmmenyebutkan bahwa paling tidak ada tiga alasan para ulama lebih fokus pada penulisan al-Quran dan hafalan ilmu dibanding dengan menuliskannya pada masa itu.

Pada abad kedua Hijriyah masa Kekhilafahan Bani Umayyah dikenal dengan era tadwin tradisi menulis sangat gemilang yang melahirkan nama-nama ulama-ulama dengan karya besar seperti Imam Malik dengan kitab Al Muwatta, Imam Syafi’i dengan Al Umm dan Ar Risalah, Imam Ahmad bin Hambal dengan kitab Musnadnya, Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan kitab Shahih mereka dan sebagainya.

Lahirnya karya-karya para ulama yang begitu fenomental pastinya diperlukan kerja keras dan kesungguhan yang kontinu dengan disertai dorongan untuk menyampaikan kebenaran dan mengagungkan Allah di muka bumi ini. Imam Adz-Dzahabi menuturkan dalam Siyar A’lam An-Nubala’bahwa untuk menyelesaikan tafsirnya, Imam Ath-Thabari senantiasa ber-istikharah dan memohon pertolongan Allah selama hampir tiga tahun. Sebelumnya, hal yang sama juga dilakukan oleh Al-Bukhari sebelum menuliskan sebuah hadits. Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa selama rentang waktu 40 tahun Imam Ath-Thabari tidak pernah berhenti menulis dan dalam setiap harinya ia mampu menulis sebanyak 40 halaman (jld. 14, hal. 272). Mungkin karena kesungguhan mereka menegakkan kalimatullah inilah tinta para ulama di akherat nanti akan disejajarkan dengan darah para syuhada. Dan benarlah pepatah yang mengatakan, “sejarah umat Islam hanya diwarnai oleh dua warna: hitam pena ulama dan merah darah syuhada.”

Sinkronisasi ulama, tinta dan pena sangatlah penting layaknya pedang dan tameng bagi para syuhada di medan perang. Apalagi di masa perang pemikiran saat ini. Tulisan yang di dalamnya mengandung pemikiran Islam akan mampu memusnahkan pemikiran kufur di tengah-tengah umat.

Bagaimana agar mampu menulis secara produktif?

1. Luruskan niat
Niatkan bahwa kita menulis hanya karena Allah dalam rangka mengikat ilmu atau menyampaikan kebenaran.

2. Tentukan tujuan kita menulis
Setiap aktivitas seorang muslim pastinya memiliki tujuan karena setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Pikirkan apa tujuan dan manfaat tulisan kita bagi dan umat.

3. Carilah waktu terbaik untuk menulis
Menulis pastinya memerlukan fokus dalam berpikir sehingga butuh waktu yang tepat dimana kita bisa fokus. Meski tak semua orang sama dalam hal kemampuan fokus. Jadi hanya kita yang mengetahui kapan waktu terbaik untuk menulis.

4. Meminta pertolongan Allah
Menulis ataupun aktivitas lain pastinya tak akan lebih mudah saat kita dekat dengan Allah Yang Maha Pemberi Pertolongan. Mintalah dimampukan dalam menulis secara istiqamah.

Sehingga di setiap waktu dan kondisi apapun kita masih tetap mampu menulis.

5. Perbanyak membaca (kitab para ulama, tokoh dan sebagainya)
Banyak membaca akan memperkaya kata sehingga mempermudah dalam merangkai kalimat dan menderaskan ide. Tak ada lagi alasan kurang ide saat menulis.

6. Teruslah menulis, menulis dan menulis.

Tak ada kata lain selain menulis dan terus menulis hingga jiwa kita terpisah dari raga. Insya Allah tulisan akan menjadi pengabadi amal selama tulisan tersebut berupa kebenaran yang bersumber dari pemikiran Islam. Wallahu’alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita