by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd*:  Tepatkah Pariwisata Dibuka Saat Pandemi?

-Opini-24 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Masa pandemi masih melanda negeri ini. Banyak wilayah yang masih menyandang status zona red. Fasilitas umum masih banyak yang “buka-tutup” belum semuanya beroperasi normal. Layanan kesehatan, perkantoran bahkan sekolah masih belum jelas kapan dibuka kembali. Namun wacana dibukanya pariwisata nampaknya semakin serius.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio, mengunjungi kawasan International Tourism Development Center (ITDC) Nusa Dua, Badung, Bali menjelang persiapan Pulau Dewata menerapkan new normal di sektor pariwisata.

Saat tiba di objek wisata Waterblow ITDC, Selasa (16/6), Wishnutama menerapkan protokol kesehatan mencegah penyebaran virus corona, seperti pengecekan suhu tubuh dan membersihkan tangan dengan cairan antiseptik sebelum masuk kawasan wisata Waterblow. Selanjutnya, ia menikmati desiran ombak bersama sejumlah stafnya.

Menurut Wishnutama, ITDC sudah siap menerima kembali kunjungan wisatawan meski pandemi COVID-19 masih merebak. Namun, ia masih ingin mengadakan diskusi dengan pejabat daerah, memastikan Bali siap menjalankan new normal.

“Secara protokol sudah siap, tapi, kan, kondisi daerahnya gimana. Kami datang ke sini memastikan dulu persiapan. Kami ingin berkoordinasi dulu dengan pemda, dengan Gubernur. Kapan waktu yang tepat? Apakah masyarakat sudah siap? Kondisi COVID-nya sudah memungkinkan, lalu nantinya akan dibuka bertahap,” ujar Wishnutama.(Kumparan.com, 16/6)

Nusa Tenggara Timur wilayah Indonesia yang memiliki pesona wisata yang mempesona, rencananya akan dibuka 20 Juni mendatang. Sedangkan untuk Jawa timur yang saat ini masih banyak kabupaten dengan status zona merah pun akan membuka objek wisata pula dengan fokus kabupaten Banyuwangi sebagai percontohan pariwisata terbaik di Jatim.

Pariwisata sebenarnya hanyalah memberi pemasukan yang tak begitu banyak untuk APBN. Hanya saja seolah banyak sekali membuka lapangan kerja bagi wilayah sekitar. Namun faktanya tak demikian. Tak semua masyarakat di daerah wisata memiliki kesempatan untuk bekerja di tempat tersebut. Kebanyakan tempat wisata telah “diborong” atau dimiliki secara individu oleh para pengusaha baik lokal ataupun asing.

Alasan pemerintah membuka pariwisata di masa pandemi dalam rangka memperbaiki bidang ekonomi. Hal ini tak dapat dibenarkan karena akan sangat kesulitan memberlakukan sosial distance di tempat wisata dimana banyak orang berkumpul demi mengejar kesenangan. Sedangkan New Normal yang digadang-gadang sebagai solusi terkini pun masih belum terbukti hasilnya. Melihat banyak fakta negara-negara lain yang telah gagal menerapkan New Normal dan malah menjadi “pekerjaan berat” negara karena semakin banyaknya jumlah terinfeksi covid-19.

Pariwisata sebenarnya bukanlah kebutuhan pokok. Bahkan tak lebih penting dari masalah pendidikan yang seharusnya lebih diutamakan. Hanya karena faktor penyokong ekonomilah pemerintah membuka sektor pariwisata di tengah pendemi. Miris!

Tak diragukan lagi bahwa negeri ini sebenarnya sangat kaya akan sumber daya alam (SDM). Pemasukan negara akan melimpah jika pemerintah memanfaatkan dan mengelola SDM secara tepat. Bukan menyerahkan pada para kapital swasta ataupun asing.

Pengelolaan SDA oleh negara akan optimal jika negara memiliki visi misi yang jelas tentang kemandirian dalam menentukan segala kebijakan untuk rakyatnya. Seperti yang terjadi pada masa kejayaan Islam. Mampu menjadi negara pioner dalam mensejahterakan rakyatnya. Menjamin kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, keamanan dan sebagainya. Sehingga tak pernah ada alasan mempertaruhkan nyawa rakyat demi menstabilkan ekonomi negara.

Islam memandang pariwisata hanyalah kebutuhan tersier yang tak harus segera dipenuhi. Diantara tujuan berwisata misalnya saling mendekatkan antar anggota keluarga, meningkatkan kualitas keimanan dengan melihat keindahan alam ciptaan Allah dan sebagainya. Bukan menjadikannya sebagai sarana memuaskan kebutuhan jasadi semata.

Dahulu pada masa pandemi, Rosulullah SAW melarang rakyatnya keluar atau memasuki wilayah wabah. Meski alasan ekonomi (saat itu berdagang (di dalam ataupun luar wilayah) termasuk aktivitas sebagian besar rakyat. Negara menjamin kebutuhan rakyat di masa pandemi dengan menyuplai kebutuhan pokok sehingga rakyat tak kebingungan mencari nafkah.

Kebijakan pemerintah membuka pariwisata di masa pandemi selayaknya tidak dilakukan. Hal ini hanya memperlihatkan bahwa pengaruh para kapital di bidang pariwisata kian kentara. Sistem kapitalis yang diterapkan di negeri ini terbukti menjadikan manusia kian serakah tanpa memperhatikan berharganya nyawa manusia lain.[]

*Anggota Revowriter

Comment

Rekomendasi Berita