by

Rahmawati, S. Pd: Pandemi Covid-19 Dan Perubahan Tatanan Dunia Baru 

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tragedi covid-19 masih melanda diberbagai negara dibelahan dunia, dan tak kunjung menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Sementara dampak negatif yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Membuat negara adidaya sekelas Amerika Serikat dan Cina kewalahan mengatasi wabah tersebut. Setiap orang mungkin bisa memprediksi, tetapi tak satupun manusia yang mampu memastikan kapan wabah ini berakhir.

Negara-negara Kapitalis raksasa nyaris tak berdaya dihadapan mahluk partikel renik berdiameter 50-200 nanometer ini.
Hampir 80.000 orang meninggal dunia dan pemerintah AS memastikan lebih dari 1,3 juta kasus, keduanya merupakan yang tertinggi didunia. Banyak negara bagian mulai menerapkan karantina wilayah atau lockdown pada maret lalu. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok turun tajam pada kuartal pertama tahun ini akibat pandemi virus corona. Menteri Keuangan, Sri mulyani mengatakan anjloknya perekonomian dua negara dengan ekonomi terbesar dunia ini akan berdampak signifikan pada indonesia.(katadata.co.id, 30/04/20).

Amerika Serikat baru saja merilis data pertumbuhan domestik bruto pada kuartal I 2020 minus 4,8 % dibanding periode yang sama ditahun yang lalu. Sementara Tiongkok sebelumnya mencatat perekonomian pada tiga bulan pertama tahun ini minus sebesar 6,8%. Melansir Reuters, Jumat, 08 Mei 2020 Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat Melaporkan tingkat pengangguran melonjak 14,7 %

Sementara di Indonesia, dalam kisaran tiga bulan terakhir berdasarkan hasil lembaga survei indikator, masyarakat menilai bahwa kondisi ekonomi nasional secara umum buruk (57,6 % responden) dan sangat buruk (23,4 % responden) sepanjang pandemi covid-19. (Bisnis.Com, 08/06/20). Per juni (9/6/2020), terjadi penambahan 1.403 kasus, menjadi 33.076, 1.923 meninggal dan 11.414 sembuh. Penanganan yang dilakukan pun sebagaimana negara kapitalis lainnya. Terkesan lebih mementingkan aspek ekonomi dan investasi, dibandingkan penyelamatan jiwa dan kesehatan mental rakyat.

Dahsyatnya dampak yang ditimbulkan dari wabah covid-19 ini, membuat negara adidaya timur dan barat mengalami kemunduran, tidak hanya dibidang politik dan ekonomi tetapi hampir dalam seluruh sendi kehidupan. Hal ini membuat sebagian pakar memprediksi, akibat ketidakmampuan negara adidaya mengatasi wabah covid-19 akan munculnya tatanan dunia baru pasca pandemi.

Perubahan Tatatanan Dunia

Abdurrahman Ibn Khaldum menulis sebuah buku tua yang terbit pada paruh akhir abad ke-14 atau sekitar 600 tahun lalu, didalam kutipan salah satu paragrafnya “Peradaban, baik di barat maupun di timur disambangi wabah mematikan. Menghancurkan bangsa-bangsa dan memangkas populasinya. Melahap dan menyapu bersih banyak kemewahan peradaban. Wabah itu menggulingkan kerajaan di penghujung umur, saat mereka mencapai batas tenggat mereka. Mengurangi daya dan membatasi pengaruh. Melemahkan kewenangan sementara situasi bangsa-bangsa itu mendekati titik kemusnahan dan tercerai-berai.”

Ibn Khaldun juga memandang bahwa kekuasaan kerajaan dan bangsa-bangsa semacamnya memiliki masa kejayaan dan kejatuhan. Dalam pandangannya , Ibn Khaldun menilai wabah adalah satu jalan pintas merombak tata dunia yang dideranya. Secara optimis, beliau menilai ketidakmampuan kekuatan-kekuatan di dunia dalam mengatasi kerusakan akibat wabah akan memunculkan tatana dunia baru.

Majalah Amerika Foreign Policy merangkum beberapa pendapat pakar diseluruh dunia tentang munculnya tatanan dunia baru pasca pandemi covid, salah satunya Kishore Mahbubani, seorang akademisi dan mantan menteri luar negeri Singapura, mengatakan bahwa virus itu akan mengubah globalisasi yang berpusat di Amerika menjadi globalisasi yang berpusat di China, dengan mengatakan: “Orang-orang Amerika telah kehilangan kepercayaan mereka pada globalisasi dan perdagangan internasional dengan atau tanpa Presiden Trump.

Sementara itu orang-orang China tidak demikian. Jadi saya melihat bahwa China telah menang.”

The New York Times (NYT) melansir, pandemi kali ini adalah krisis global pertama dalam seratus tahun terakhir dimana “tak ada satupun yang menengok ke Washington sebagai pemimpin”. Segala sistem yang dijalankan AS secara mapan ternyata rapuh di masa pandemi.

Pertanyaannya kemudian, tata dunia baru seperti apa yang akan dimunculkan pandemi Covid-19 saat ini?

Menyambut Tatanan Dunia Baru

Secara realitas, akibat kegagalan mengatasi wabah pandemi covid-19, kini kapitalisme global berada diujung tanduk. Sekalipun peradaban kapitalisme masih merasa mampu bertahan ditengah pandemi ini, namun kegagalan kapitalisme mengatasi wabah ini sejak pertama kali muncul, telah mengakibatkan krisis kepercayaan masyarakat pada umumnya terhadap ideologi ini.

Jika hal ini terjadi, maka kepercayaan rakyat terhadap penguasa kapitalis dan sistem kapitalisme akan kian menurun, dan mempengaruhi tingkat kepatuhan rakyat terhadap keduanya. Bahkan rakyat akan menghendaki terjadinya perubahan sistem hidup.

Bersamaan dengan dengan detik-detik keruntuhan kapitalisme, China yang dikendalikan oleh Partai komunis china juga bergerak bangkit. Mega proyek Obor ala cina telah menjaring negeri-negeri berkembang dengan menjaring isu “pembangunan infrastruktur”. China menggelontorkan dana pinjaman yang besar untuk mengikat negeri-negeri berkembang yang menjadi pasar china.

Selain itu, salah satu isu yang cukup kontroversial adalah kemunculan kembali khilafah Islam. Isu seperti ini sangat jarang diungkap dalam berbagai analisis dunia internasional. Bahkan banyak diantara umat muslim sendiri menganggap berdirinya khilafah Islam adalah utopis dan mustahil. Namun hari ini dunia sudah berbeda. Pandemi Covid-19 telah mengguncang tatanan dunia.

Kita masih ingat peristiwa penaklukan Konstantinopel terjadi pada fajar hari Selasa 20 Jumadil Ula 857 H. Itu adalah bukti dari bisyarah Rasulullah SAW: “Sungguh Konstantinopel pasti ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”

Saat penaklukan itu, Eropa baru kena wabah Maut Hitam atau Black Death. Maut Hitam, juga disebut sebagai Pestilence atau Wabah Bubonic Besar adalah salah satu pandemi yang paling menghancurkan dalam sejarah manusia, mengakibatkan kematian diperkirakan 75 hingga 200 juta orang di Eurasia. (kiblat.net, 22/03/2020).

Sekarang, setelah janji Rasulullah direalisasikan oleh Muhammad Al Fatih. Masih ada tiga kabar gembira Rasulullah Saw yang akan terealisasi, sebagaimana yang pertama. Setelah penaklukan Konstantinopel, Roma pun akan ditaklukkan, kemudian kembalinya al-Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, perang terhadap Yahudi dan kekalahan mereka secara telak. Rasulullah SAW tidak berbicara dari hawanafsunya, melainkan dari wahyu yang datang kepada beliau. Tiga kabar gembira yang tersisa akan terealisasi atas izin Allah, SWT, In syaa Allah.

Walhasil, didunia ini ada tiga ideologi, yaitu kapitalisme, sosialisme dan Islam. Sosialisme dengan ikon adidayanya Uni soviet telah lama runtuh. Kapitalisme dengan Ikon negara adidaya Amerika Serikat dan sekutunya sudah menunjukan keambrukkannya. Sekarang tinggal bagaimana peluang Islam menunjukkan kedigdayaannya kembali. Saatnya umat bersiap diri menyambut tatanan dunia baru. Wallahu’alam bish shawaab.[]

Comment

Rekomendasi Berita