by

Sinta Mustika: Mahalnya Tes Corona, Salah Siapa?

-Opini-116 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemeriksaan uji tes covid-19 bagi mereka yang bekerja diluar wilayah tempat tinggal menjadi syarat penting.

Namun, pemeriksaan tes sendiri membutuhkan biaya yang sangat mahal. Untuk kalangan menengah ke bawah, tentu biayanya tidak terjangkau. Apalagi di masa sulit sejak era pandemi, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari pun amat sulit.

Sangat ironis, mahalnya tes corona telah menelan korban.

Dilansir Kompas.com – uji tes Covid-19 baik melalui rapid maupun swab test dituding telah “dikomersialisasikan”. Tingginya biaya tes disebut telah menelan korban di masyarakat.

Seorang ibu di Makassar, Sulawesi Selatan, dilaporkan kehilangan anak di dalam kandungannya setelah tidak mampu membayar biaya swab test sebesar Rp 2,4 juta. Padahal, kondisinya saat itu membutuhkan tindakan cepat untuk dilakukan operasi kehamilan.

Pengamat kebijakan publik mendorong pemerintah untuk menggratiskan biaya tes virus corona.

Kalaupun tidak memungkinkan, pemerintah dinilai perlu melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap harga tes Covid-19 sehingga terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Asosiasi Rumah Sakit Swasta menjelaskan bahwa adanya biaya tes virus corona karena pihak RS harus membeli alat uji dan reagen sendiri, dan membayar tenaga kesehatan yang terlibat dalam uji tersebut.

Biaya rapid test mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 500.000, sedangkan untuk swab test (alat PCR) antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta, belum termasuk biaya-biaya lain.

Kapitalisme adalah sistem yang dalam praktiknya memisahkan agama dari kehidupan, serta memisahkan peran negara dalam mengurusi rakyatnya.

Sejak awal, Pemerintah tidak maksimal mengurusi rakyat bukan hanya dalam bidang kesehatan saja, namun dalam hal pendidikan, perumahan, dan yang lainnya semua diserahkan kepengurusannya kepada swasta.

BPJS kesehatan menjadi bukti kurang seriusnya Pemerintah dalam mengemban tanggung jawab sebagai raa’in/ pemelihara urusan seluruh rakyatnya.

Rakyat harus bayar premi tiap bulannya yang tentu membebani. Tidak semua pengobatan ditanggung oleh BPJS. Termasuk uji tes swab Corona.

Terlebih di era pandemi, RS kebanjiran pasien covid-19. Hingga wajar jika biaya, mulai dari pemeriksaan tes hingga perawatan pun menjadi mahal.

Berbagai pihak pun membenarkan mahalnya biaya tes uji corona. YLKI dan Asosiasi RS menganggap komersialisasi terjadi karena Pemerintah tidak segera menetapkan harga standar (HET) atas tes yang dilakukan di luar RS rujukan.

Berbagai daerah pun beragam menentukan harga uji tes corona, tetapi semua berada dalam kisaran diatas satu juta lebih.

Berbeda dengan pelayanan Islam. Ia adalah pelayan kesehatan terbaik sepanjang masa, dilingkupi atmosfir kemanusiaan yang begitu sempurna.

Hal ini karena negara hadir sebagai penerap aturan Islam secara kaaffah, termasuk bertanggung jawab langsung dan sepenuhnya terhadap pemenuhan hajat pelayanan kesehatan gratis berkualitas terbaik.

Sebab Rasulallah saw telah menegaskan yang artinya ” Imam yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” ( HR. Al Bukhari).

Artinya, tidak boleh negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator, apapun alasannya.

Dalam hal ini, negara harus menerapkan konsep anggaran mutlak, berapapun biaya yang dibutuhkan harus dipenuhi.

Karena negara pihak yang berada di garda terdepan dalam pencegahan dan peniadaan penderitaan publik.

Hasilnya, rumah sakit, dokter dan para media tersedia secara memadai. Difasilitasi negara dengan berbagai aspek bagi terwujudnya standar pelayanan medis terbaik dan gratis.

Baik aspek penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian terkini, ketersediaan obat dan alat kedokteran terbaik hingga gaji dan beban kerja yang manusiawi.

Hingga menutup akses komersialisasi alat kesehatan.

Inilah fakta pelayanan kesehatan dalam negara Islam yang diukir oleh tinta emas sejarah peradaban Islam. Model pelayanan kesehatan terbaik nan gratis, buah penerapan sistem kehidupan Islam, penerapan Islam secara kaaffah dalam bingkai Khilafah. Tidak akan pernah ada yang menjadi korban selama pelayanan kesehatan Islam dijalankan. Wallahu’alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita