by

Siti Masliha, S.Pd: TKA Disayang, Rakyat Sendiri Dibuang

-Opini-12 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pandemi Corona yang terjadi saat ini belum menunjukkan adanya penurunan. Pandemi ini berimbas hampir di seluruh sektor, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, rumah tangga, perekonomian dan lain sebagainya.

Sektor perekonomian yang di rasa paling mendapatkan pukulan dari pendemi ini. Rakyat banyak yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan banyak yang gulung tikar. Akibatnya terjadi penumpukan pengangguran.

Ditengah angka pengangguran yang cukup tinggi lagi-lagi pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kontroversi. Pemerintah menerima ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) dari negeri tirai bambu (China).

Tepat pukul 20.30 Wita, gelombang pertama tenaga kerja asing (TKA) asal China tiba di Bandara Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Mereka tiba dengan menggunakan pesawat sewaan “Ini baru sampai, gunakan pesawat carter Lion,” kata Kepala Bandara Halu Oleo, Safruddin, kepada wartawan di lokasi, Selasa (23/6/2020). Dia mengatakan pesawat carteran yang membawa gelombang pertama itu sempat transit di Kota Manado sebelum tiba di Kendari. Dikatakannya, protokol kesehatan juga tetap dilakukan kepada TKA ini.

Belum diketahui pasti jumlah TKA gelombang pertama ini dari total keseluruhan sebanyak 500 TKA. “Belum pegang manifes jadi belum tahu pasti jumlahnya,” ujarnya. (Detiknews, selasa 23/06/2020)

Kedatangan TKA ini disambut dengan demo besar-besaran oleh warga setempat. Namun hal ini tidak menyurutkan niat pemerintah untuk tetap manerima kedatangan TKA tersebut. Ratusan TKA tetap dipersilahkan masuk dengan pengontrolan yang ketat.
Massa yang menolak kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China bentrok dengan aparat kepolisian di pintu masuk Bandara Haluole Kendari, Sulawesi Tenggara, sekitar pukul 23.10 Wita, Selasa (23/6).

Massa yang memadati simpang empat Desa Ambeipua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan sejak pagi itu awalnya membakar ban sekitar pukul 21.45 Wita. Mereka juga terus berorasi menolak kedatangan TKA China. Gelagat ricuh mulai terlihat setelah beberapa truk Brimob Polda Sultra yang membawa pasukan melintas di hadapan massa aksi. Polisi juga sempat mengingatkan massa agar meninggalkan lokasi karena sudah larut malam. (Cnnindonesia, rabu 23/06/2020)

Kedatangan TKA ini sangatlah kontra produktif dengan keadaan. Pasalnya di tengah pandemi corona yang masih tinggi pemerintah mengambil resiko mendatangkan TKA dari China. Sudah menjadi hal yang umum China adalah sumber dari virus corona. Di China keberadaan virus ini belum dapat diatasi dengan baik. Bahkan penyebarannya masih cukup tinggi. Sampai hari ini pemerintah China belum dapat memutus penyebaran virus corona di negaranya.

Namun pemerintah dengan gagah berani mendatangkan TKA dari China. Meskipun pemerintah berkilah mendatangkan ratusan TKA dengan protokoler kesehatan namun hal ini tidak menjamin terputusnya virus corona. Banyak orang yang positif corona tanpa gejala, hal ini justru yang lebih membahayakan. Jangan sampai kedatangan TKA dari China menambah jumlah korban virus corona di negeri kita.

Selain beresiko menyebarkan virus corona, kedatangan TKA justru menyakiti hati rakyat. Di tengah pandemi yang melanda negara kita banyak rakyat yang kehilangan pekerjaan. Akibatnya terjadi penumpukan pengangguran yang angkanya cukup tinggi. Rakyat sangat membutuhkan pekerjaan. Bahkan tak sedikit rakyat yang dilanda kelaparan.

Pemerintah seharusnya membuka lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Namun hal ini kondisinya berbanding terbalik, pemerintah justru membuka lapangan pekerjaan untuk warga negara asing.

Sebelum pandemi terjadi masalah pengangguran menjadi masalah yang pelik di negeri ini. Pemerintah seolah tak berdaya menghadapinya. Banyak tenaga ahli yang menganggur. Tak sedikit sarjana yang tak punya pekerjaan. Padahal untuk menjadi tenaga ahli dan mengejar gelar sarjana membutuhkan biaya yang sangat mahal dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Banyak rakyat yang menjadi buruh di negeri sendiri.

Inilah yang terjadi di negeri kita saat ini. Faktanya TKA di sayang, namun rakyat sendiri di buang. Hal ini sebagaimana akibat penguasa kita berlepas tangan atas urusan rakyatnya. Sejatinya penguasa adalah pengurus urusan rakyat. Akibatnya rakyat tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari dikarenakan lapangan pekerjaan sudah dipenuhi oleh warga asing. Akibatnya rakyat menjadi kuli di negeri sendiri. Selain itu rakyat mengais rezeki di tumpukan sisa jerami. Akibatnya kemiskinan tak terelakkan melanda negeri ini.

Kasus ini seharusnya membuka mata hati penguasa agar berpihak kepada rakyat sendiri bukan rakyat asing. Hari ini rakyat butuh pemimpin yang mengurus urusannya, bukan yang menyianyiakannya. Pemimpin yang mempersulit urusan rakyatnya maka Allah akan mempersulit urusanya di akhirat. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadits nabi SAW: “Ya Allah, siapa yang di beri tanggung jawab untuk mengurusi umatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang di beri tanggung jawab untuk mengurusi umatku lalu berusaha menolong mereka, maka tolonglah pula dia” (HR. Muslim 3407).

Itulah gambaran pemimpin yang mempersulit urusan rakyatnya. Seharusnya yang dilakukan pemimpin adalah mempermudah urusan umatnya. Hal itu hanya kita dapati dalam sistem Islam

Selain itu hal yang terpenting dalam Islam adalah menjamin kebutuhan pokok warganya. Kebutuhan pokok tersebut antara lain sandang, pangan, papan dan pekerjaan. Dalam Islam laki-laki wajib berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, keluarga serta anak dan istrinya. Allah berfirman: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 233)

Jika laki-laki tersebut tidak mampu berkerja karena alasan tertentu maka kebutuhannya ditanggung oleh sanak kerabatnya. Jika sanak kerabatnya juga tidak mampu maka negara yang akan menanggungnya. Negara dengan Baitul Maalnya akan menanggung nafkah bagi orang-orang yang tidak mampu bekerja dan berusaha.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Negara selayaknya juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Agar rakyat bisa bekerja dan berusaha. Rasulullah pernah memberi dua dirham kepada seseorang dan bersabda: “Makanlah dengan satu dirham dan sisanya berikanlah kapak, lalu gunakanlah untuk bekerja”.

Negara juga harus mendorong rakyatnya agar giat bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan mereha sehari-hari. Jika negara tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya, maka seluruh kaum muslimin wajib menanggungnya. Ini direfleksikan dengan penarikan pajak oleh negara kepada orang-orang yang mampu. Setelah itu didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Comment

Rekomendasi Berita