by

Siti Ningrum,  M.Pd*: Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Mengambil Kebijakan Yang Tepat

-Opini-45 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — New normal life telah diberlakukan sejak awal Juni 2020. Namun yang terjadi adalah makin bertambah terus angka penyebaran covid-19 diberbagai wilayah. Bahkan Surabaya termasuk zona merah tua (liputan6.com 1/6/2020).

Korban terus berjatuhan hingga menembus angka 2500 pada tanggal 23 Juni 2020 selang 2 hari pertambahan orang meninggal mencapai 120 orang. Sungguh angka yang sangat fantastis sekaligus makin khawatir tentang paparan virus covid-19.

Berikut update terakhir data penyebaran covid-19 pada tanggal 25/6/2020, 15:50 WIB, yang terkonfirmasi sampai saat ini adalah 59.187+1.178 kasus dengan rincian 27.118 dirawat, meninggal 2.620 dan sembuh 20.449 (sumber: www.covid19.go.id)

Sampai saat ini pemerintah belum mengevaluasi kebijakan PSBB dan new normal. Padahal korban berjatuhan bertambah setiap harinya.

Padahal Epidemiologi serta IDI (Ikatan Dokter Indonesia) telah mewanti-wanti bahwa memasuki bulan Juni-Juli adalah masa puncak pandemi di Indonesia, dan kebijakan new normal life ini kuranglah tepat. Pemerintah tetap saja memberlakukan kebijakan tersebut.

Setelah diberlakukan new normal serta pelonggaran PSBB, tempat-tempat umum dibuka kembali. Padahal hal ini menjadi klaster-klaster baru penyebaran wabah dengan cepat. Salahsatunya adalah pasar, sampai saat ini, ada 529 pedagang pasar seluruh Indonesia terpapar corona. Dengan 29 di antaranya meninggal, (okezone, 13/6/2020).

Belum lagi perilaku masyarakat yang tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, ketika pelonggaran PSBB dan new normal life diberlakukan. Masyarakat merasa sudah terbebas dari penyebaran virus, sehingga dalam beraktivitas sudah tidak mengindahkam protokol kesehatan.

Ini menambah daftar keputusasaan terhadap nakes (tenaga kesehatan) yang berjuang digarda terdepan dalam menangani korban wabah. Seharusnya masyarakat sadar diri dan tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.

Semestinya, pemerintah sebelum memberlakukan kebijakan yang akan ditempuh alangkah baiknya meminta saran dari para pakar kesehatan. Bukan mengikuti tren global dalam memberlakukan new normal.

Tidak tepatnya dalam penanganan wabah, kurangnya edukasi serta minimnya proteksi mengakibatkan masalah baru, yang terjadi adalah semakin sulit menurunkan angka yang terpapar wabah pandemi. Alhasil dengan diterapkannya kebijakan new normal malah memicu gelombang kedua wabah pandemi.

Inilah yang terjadi ketika sistem kapitalisme masih mengatur berbagai kebijakan. Maka pengambilan sebuah kebijakan selalu ditunggangi kepentingan tertentu, bukan dari hasil analisis yang mendalam. Bukan juga untuk kepentingan rakyat.

Penanganan wabah pandemi dalam sistem kapitalisme dan sistem Islam

Kebijakan menangani wabah pandemi sedari awal memang tidak tepat. Lockdown untuk zona yang terpapar wabah tidak bersegera. Memenuhi kebutuhan pokok masyarakat pun tidak tepat sasaran. Jadi wajar jika masyarakat lebih memilih keluar rumah dan tidak takut terpapar daripada menahan lapar.

Padahal lockdown atau karantina wilayah sudah ada dalam Undang-Undang. Ketentuan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (UU Kekarantinaan Kesehatan).

Pasal 55 menyatakan bahwa selama dalam karantina wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Tanggung jawab pemerintah pusat dalam penyelenggaraan karantina wilayah sebagaimana dimaksud tersebut dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah dan pihak yang terkait.

Namun tetap saja hal tersebut tidak dilaksanakan. Sistem kapitalisme selalu memperhitungkan untung dan rugi, dan yang menjadi pertimbangan bukan lagi sebuah kemaslahatan.

Ini sangat bertentangan dengan kebijakan Islam dalam menangani wabah pandemi. Islam dalam menangani wabah pandemi segera melakukan lockdown juga memenuhi kebutuhan pokok masyarakat yang berada pada daerah lockdown. Sedangkan daerah-daerah lainnya tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa, dan perekonomian negara tidak akan lumpuh.

Pemerintah harusnya bersegera mengevaluasi semua kebijakan dalam menangani wabah pandemi. Jika dirasa kebijakan yang diambil tidak ada maslahatnya melainkan hanya mengorbankan rakyat. Tidak ada kata terlambat untuk segera mengambil kebijakan yang tepat apabila menginginkan seluruh rakyat selamat dari wabah pandemi. Sebab seorang pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah, SAW telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin(pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimpinnya.

Jika new normal dirasa hanya akan menambah hanyak korban, maka harus segera mengganti kebijakan yang tepat. Karena jangan sampai dengan new normal korban lebih banyak lagi dan Indonesia mengalami beberapa gelombang puncak wabah pandemi.

Saatnya megambil setiap kebijakan pada sumber yang sahih. Yakni sumber yang berasal dari dzat yang menciptakan manusia juga yang menciptakan virus yang tidak terlihat.

Dalam Islam, penanganan wabah tidak akan dibiarkan berlarut-larut. Sebab Khalifah akan memikirkan bagaimana mencari solusi yang tepat.

Di saat lockdown wilayah yang terpapar, dengan saat bersamaan pula akan mencari cara bagaimana membuat vaksin untuk mengatasi virus wabah.

Dalam hal bantuan kepada masyarakat yang terkena lockdown, negara tidak akan memilah-milah status sosial dananya akan diambil dari kas negara yang disebut baitul mal.

Apabila kas negara tidak mencukupi maka akann dilakukan subtitusi dana dari wilayah yang tidak terkena lockdown. Dan negara tidak akan mengandalkan berhutang.

Kebijakan pun akan satu komando antara pusat dan daerah. Seorang Khalifah akan mencurahkan segala upayanya untuk mengatasi wabah pandemi. Hasilnya sungguh menakjubkan. Hanya dalam kurun waktu yang singkat wabah pandemi bisa teratasi dengan baik.

Untuk itu penanganan wabah pandemi dalam Islam wajib dicontoh oleh para pemimpin saat ini. Bukan malah mengambil kebijakan yang kurang tepat yaitu new normal disaat pandemi masih meninggi hanya karena mengikuti tren global ala kapitalisme.

Islam selalu memberikan solusi terbaiknya dalam menangani segala urusan termasuk wabah. Rosulullah saw. Pun telah mencontohkannya yang kemudian diikuti oleh para Khalifah setelahnya. Maka tidak alasan apapun untuk tidak mengambil solusi dari Islam. Sebab Allah swt.telah berfirman dalam Q.S Al-Ahzab: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”Wallohualam bishowab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita