by

Verry Mardiyanto*: Kegiatan Membaca sebagai Salah Satu Wujud Pengamalan Pancasila

-Opini-102 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hari Lahir Pancasila yang biasa diawali dengan upacara bendera serentak diseluruh pelosok negeri. Peserta upacara bendera baris berbaris mengikuti arahan komandan upacara.

Peserta upacara bendera yang dipenuhi dari berbagai kalangan masyarakat, baik itu siswa sekolah, mahasiswa, pekerja kantoran, pegawai pemerintah, pegawai bumn/bumd, pejabat pemerintah, politisi, tokoh daerah dan tokoh nasional serta masyarakat umum dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan Pendidikan yang ikut dalam upacara bendera tersebut.

Namun saat ini upacara bendera digantikan dengan upacara sercara virtual. Tidak apa dengan upacara bendera secara virtual, yang penting adalah makna dari hari kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni tersebut dapat tercapai dan diresapi oleh masyarakat indonesia.

Apa yang dapat dilakukan selain dari mengikuti kegiatan upacara bendera yang saat ini terkendala secara fisik maupun virtual?

Kegiatan lainnya yang lebih terasa bagi diri sendiri, keluarga ataupun orang lain adalah dengan kegiatan membaca. Membaca tidak lain adalah kegiatan untuk memperoleh pengetahuan yang kompleks dari bahan bacaan berupa buku, berita, jurnal, laporan penelitian, iklan atau apapun yang ada di depan mata untuk dapat diingat dalam ingatan manusia.

Membaca mempunyai simbol keyakinan untuk memperkuat diri sendiri dengan pengetahuan-pengetahuan yang diresapi dari bahan bacaan ataupun dari sumber informasi yang dimiliki.

Membaca dapat berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Membaca bagi diri sendiri bermanfaat untuk menyimpan informasi dalam ingatan yang nantinya dapat dikemukakan lewat tulisan dan lisan dalam kesempatan-kesempatan yang ada. Membaca bagi orang lain ini adalah membaca untuk melakukan tindakan nyata terhadap masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca untuk orang lain ini adalah sebuah implementasi dari wujud Pancasila sebagai upaya kegiatan gotong royong dalam memberikan solusi praktis bagi kehidupan masyarakat.

Bagaimana memaknai kegiatan membaca dalam sila-sila Pancasila? Dari kelima sila Pancasila, kegiatan membaca dapat diresapi dalam sila ke satu hingga sila ke lima. Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa dapat dimaknai dari sudut kegiatan membaca. Kegiatan membaca sebagai kebutuhan mutlak individu dengan maksud untuk dapat memberikan pemikiran-pemikiran yang luas dan toleransi terhadap sesama manusia.

Seperti dalam keadaan membaca lingkungan sekitar dengan sifat perilaku manusia yang saling menghargai dan menghormati keberagaman umat beragama. Kegiatan membaca dalam sila pertama ini adalah ditekankan pada membaca lingkungan sekitar yang berhubungan dengan toleransi antar umat beragama.

Pada sila ke dua yang berbunyi Kemanusian yang Adil dan Beradab. Kegiatan membaca dalam pemahaman sila ke dua ini mengarah kepada keadilan bagi setiap individu untuk mendapatkan pengetahuan dari membaca. Artinya masyarakat berhak untuk mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat. Pengetahuan tersebut digunakan untuk memperkuat literasi informasi dari bahan bacaan.

Memanusiakan manusia dengan membaca adalah salah satu usaha untuk memperkuat kemajuan sumber daya manusia yang nantinya dapat digunakan dalam bersaing di dunia global.

Sila ke tiga yang berbunyi Persatuan Indonesia. Kegiatan membaca sebagai tindakan nyata untuk memperkuat persatuan indonesia.

Membaca dengan media buku yang dituliskan dengan bahasa indonesia sebagai pengantar bahasa persatuan indonesia dapat dikatakan sebagai kegiatan membaca yang berprinsip pada kesamaan satu dengan yang lainnya, diberbagai daerah di Indonesia.

Membaca dengan tujuan persatuan indonesia ini adalah untuk memperkuat kemampuan kepekaan sosial, pelurusan informasi dan kegiatan persatuan dalam upaya menangkal berita-berita hoaxs.

Dalam sila ke tiga ini, kegiatan membaca dapat dipahami oleh masyarakat sebagai usaha untuk menjaga keteguhan persatuan indonesia dari segala berita-berita yang ingin merusak bangsa indonesia.

Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan adalah bunyi dari sila ke empat.

Sila ke empat ini dapat dimaknai dari sudut pandang kegiatan membaca sebagai usaha untuk menambahkan wawasan dalam demokrasi di Indonesia. Sila ke empat ini juga dapat dimaknai sebagai kegiatan untuk sadar dan berupaya membaca kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan hajat masyarakat banyak.

Pengetahuan dan membaca adalah salah satu komponen yang wajib dihadirkan oleh pemerintah di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sebagai tindakan nyata pemerintah dalam memberikan Pendidikan.

Selain itu juga, kegiatan membaca dalam sila ke empat ini diwujudkan dengan tidak acuh nya dalam memilih dalam pemilihan umum atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan permusyawaratan perwakilan.

Sila terakhir yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat diwijudkan dalam kegiatan membaca sebagai sebuah kegiatan gotong royong untuk cerdas secara sadar dan Bersama dalam membangun bangsa Indonesia. Adil dan MakFmur adalah kunci utama untuk mencapai kesejahteraan bangsa.

Kegiatan membaca sebagai sebuah upaya secara mandiri dan bersama-sama dalam memningkatkan kesadaran literasi informasi dalam sebuah masyarakat. Kegiatan membaca dalam sila ke lima ini juga dapat dimaknai sebagai kegiatan beramai-ramai yang menjunjung kekeluargaan dan kebersamaan dalam hal meningkatkan kepekaan sosial.

Akhir kata dalam kegiatan membaca sebagai salah satu wujud pengamalan Pancasila adalah sebuah upaya sadar dari diri sendiri dengan melakukan kegiatan membaca untuk meningkatkan indeks literasi informasi diri yang fungsinya sebagai peningkatan taraf hidup.. kegiatan membaca dalam skala lokal adalah sebagai upaya mempererat gotong royong dalam meningkatkan kecerdasan individu. Wujud-wujud lainnya dalam kegiatan membaca sebagai salah satu pengamalan Pancasila tersebut dapat dipahami dalam konteks masing-masing sila Pancasila baik secara individu, orang lain, masyarakat dan global.

Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020.

*Penulis adalah Dosen Ilmu Perpustakaan pada UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Comment

Rekomendasi Berita