by

Watini Alfadiyah, S. Pd*: Mengapa Pendidikan Dituntut Membaca Peluang Pasar?

-Opini-34 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pendidikan mempunyai peran penting dalam mewujudkan kemajuan sebuah bangsa. Di era industri 4.0 ini arah pendidikan kian dibidik untuk bisa sejalan dengan pemenuhan peluang pasar.

Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto PhD mengatakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan lembaga pelatihan keterampilan harus “menikah” dengan industri atau dunia kerja.

“Konsep ‘link and match’ sebenarnya sudah cukup lama dicetuskan dan diupayakan terwujud di Indonesia. Tidak sedikit SMK dan kampus vokasi yang sudah menerapkannya. Namun, jangan hanya selesai pada MoU. Prinsipnya, harus betul-betul dalam dan berkelanjutan, ‘pernikahan’ tersebut, dan menguntungkan seluruh pihak,” ujar Wikan. (Jumat,19/06/2020/ANTARA)

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto, mengibaratkan link and match antara pendidikan vokasi dengan industri dan dunia kerja, seperti perjodohan.

“Jika diibaratkan seperti suatu hubungan, bahkan bertemu saja belum. Kali ini kami akan lakukan link and match sampai menikah dan punya anak,” kata Wikan kepada Kompas.com, saat wawancara melalui video conference Zoom, Kamis (18/6/2020).

Untuk diketahui, pendidikan vokasi meliputi Pendidikan Tinggi Vokasi, Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK), serta Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Selain itu, ada juga direktorat yang khusus menangani kemitraan serta penyelarasan dengan dunia usaha dan dunia industri.

Dalam pelaksanaannya Wikan menekankan, link and match harus menjadi sebuah pernikahan erat dan mendalam, agar semua pihak mendapat manfaat yang signifikan dan berkelanjutan. Jadi tidak hanya sekadar Memorandum of Understanding (MoU) dan foto-foto.

Hal itu sesuai dengan arah kebijakan presiden dalam percepatan pembangunan SDM 2020-2024, yaitu pendidikan kejuruan dihubungkan dengan industri-industri agar lulusannya sesuai dengan kebutuhan.

Skema paket pernikahan

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) telah menyiapkan skema yang disebut “paket pernikahan”. Ada sembilan skema yang dirancang dalam paket pernikahan massal ini.

Pertama, industri turut serta menyusun kurikulum pendidikan sehingga materi training dan sertifikasi turut diajarkan.

Tak hanya turut serta menyusun kurikulum, pada skema ke-2, pihak industri juga akan rutin mengirim dosen tamu untuk mengajar.

Skema ke-3, program magang dibuat lebih terstruktur dan dikelola bersama dengan baik. Lanjut skema ke-4, pihak industri diharapkan berkomitmen menyerap lulusan vokasi. Untuk itu, program magang diharapkan menjadi salah satu caranya.

Program beasiswa dan ikatan dinas bagi mahasiswa menjadi skema ke-5 dalam pernikanan massal ini. Tidak hanya siswa, dalam skema ke-6, pihak industri juga akan men-training para pengajar.
Skema ke-7, pihak industri men-training lulusan, dan memberi sertifikasi kompetensi. Ke-8, pihak industri memberi bantuan peralatan kepada laboratorium kampus sehingga skill siswa makin terasah, dan skema ke-9 atau yang terakhir, dosen dan industri melakukan join research terkait kasus nyata di industri.

“Paket pernikahan nomor 1 sampai 6 adalah paket pernikahan minimum. Paket nomor 7 sangat diharapkan terwujud. Sedangkan paket nomor 8 dan 9 sangat baik bila terwujud,” kata Wikan.

Jika skema tersebut terwujud, harapannya SDM vokasi akan siap pakai dan industri tidak perlu menghabiskan biaya serta waktu untuk melakukan training kembali.

Wikan mengatakan, sejauh ini pihak industri mendukung Program Link and Match. Bahkan sudah ada beberapa kerja sama yang mencapai ‘paket pernikahan’ lengkap.

Sementara itu, paket pernikahan lengkap pada SMK contohnya antara SMK Perhotelan dengan Hotel Horison, SMK Tata Kecantikan dengan L’Oreal, SMK Ketenagalistrikan dengan PLN, SMK Teknologi Rekayasa dengan Komatsu, dan SMK dengan Astra Group.

“Intinya kami mendorong SMK-SMK, kampus-kampus vokasi, serta lembaga pelatihan keterampilan di Indonesia ‘menikah’ dengan industri atau dunia kerja,” kata Wikan.

Ke depannya, keberlangsungan kerja sama akan dibagi menjadi beberapa level. Bagi prodi yang belum melakukan ‘pernikahan’, didorong untuk melakukan pernikahan paket minimum.

Bagi prodi yang baru melakukan pernikahan paket minimum, didorong menghasilkan paket pernikahan lengkap. Begitu pula dengan prodi yang sudah melakukan pernikahan tetapi belum mencapai paket lengkap.

Sementara itu, untuk prodi yang sudah melakukan pernikahan paket lengkap, didorong meningkatkan kualitas kerja sama, dan menambah industri mitra.

Menurut Wikan seperti dilansir Kompas.com, Ahad (21/6/2020), kondisi pandemi Covid-19 tidak menghentikan pelaksanaan Program Link and Match. Justru pada kondisi ini, pihak sekolah dan insdustri harus memperkuat kerja sama.

Wacana tuntutan akan ikut sertanya dunia pendidikan dalam ranah industri telah menyatu dalam kurikulum. Dengan begitu, tampak target dari output pendidikan yakni agar bisa diserap pasar sebagai tenaga kerja industri untuk kemajuan ekonomi.

Pada dasarnya kemajuan suatu bangsa tidaklah dimulai dari perekonomian, tetapi berawal dari pemikiran. Pemikiran yang dimaksudkan disini adalah pemikiran tentang realitas kehidupan yang mereka hadapi.

Terselesaikannya permasalahan yang mendasar yaitu hidup ini darimana, untuk apa, dan hendak kemana akan menghadirkan metode berfikir produktif.

Dengan begitu, tatkala negara ingin maju seharusnya bukan perekonomian yang dikejar. Pemikiran yang mendasar nan cemerlang hingga mewarnai kepribadian tentu harus diutamakan. Dan untuk meraih yang demikian tidak ada jalan kecuali melalui kurikulum pendidikan.

Sehingga kurikulum merupakan hal penting yang akan menentukan keberhasilan pendidikan. Dalam sistem Islam, kurikulum pendidikan wajib berdasarkan pada aqidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan keterampilan).

Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.

Rasulullah saw. bersabda,

«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dana, Sarana, dan Prasarana

Setiap kegiatan pendidikan harus dilengkapi dengan sarana-sarana fisik yang mendorong terlaksananya program dan kegiatan tersebut sesuai dengan kreativitas, daya cipta, dan kebutuhan. Yang kesemuanya dalam sistem Islam dijamin oleh negara.

Sekolah tidak dihimbau untuk kerjasama dengan pemilik modal atau pengusaha sebagaimana di sistem kapitalis. Sehingga menjadi tutuntan bagi dunia pendidikan untuk bisa membaca peluang pasar perindustrian seperti saat ini. Tetapi justru dalam sistem Islam semuanya akan difasilitasi oleh negara. Wallahu’alam bi-ashowab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita