by

Yuli Umu Fatih*: Jejak Rasisme Dalam Sistem Kapitalisme, Bagaimana Pandangan Islam?

-Opini-17 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Saat ini sedang terjadi aksi kekerasan dan aksi protes besar terjadi di kota-kota di Amerika Serikat menyusul kematian warga kulit hitam George Floyd, setelah ia ditahan oleh polisi di Minneapolis.

Menurut berita yang beredar adalah adanya perlakuan tidak adil terhadap warga Afrika-Amerika secara kelembagaan, dan bukan semata karena oknum polisi. Menurut Wikipedia, etnis Afrika – Amerika, atau Afro- Amerika, adalah sebuah kelompok etnis di Amerika serikat yang nenek moyangnya banyak berasal dari Afrika di bagian Sub- Sahara dan Barat. Mayoritas dari rakyat etnis Afrika-Amerika berdarah Afrika, Eropa, dan Amerika asli.

Dilansir dari media BBC, BBC memeriksa data terkait hukum dan kriminalitas di Amerika Serikat untuk melihat pengalaman warga Afrika-Amerika di negeri itu, terkait keadilan, hukum dan ketertiban umum.

1. Warga kulit hitam lebih sering menjadi korban tembak hingga tewas
Fakta pada tahun 2019, sekalipun persentase warga Afrika-Amerika merupakan 14% dari keseluruhan populasi (menurut sensus resmi), jumlah mereka yang mati ditembak polisi lebih dari 23% dari 1.000 kematian yang disebabkan oleh tembakan polisi.
Dan angka ini relatif konsisten sejak tahun 2017, sedangkan angkanya pada populasi kulit putih justru menurun.

2. Warga kulit hitam lebih sering ditangkap untuk penyalahgunaan narkoba

Warga kulit hitam lebih sering ditangkap karena penyalahgunaan narkoba daripada warga kulit putih, meskipun survei menunjukkan penggunaan narkoba pada tingkat yang sama.

3. Lebih banyak warga kulit hitam dipenjara

Warga Afrika-Amerika ditahan lima kali lebih banyak daripada warga kulit putih dan dua kali lebih banyak daripada warga Hispanik-Amerika, menurut data paling baru.

Melihat fakta diatas ternyata warna kulit menjadi sebab diskriminasi, perbuatan rasisme tentu tidak sesuai dengan fitrah manusia manapun. Meremehkan, merendahkan dan menghina orang lain hanya karena berbeda suku, berbeda warna kulit, berbeda bangsa atau negara. Islam agama yang mulia telah menghapus dan mengharamkan rasisme tersebut di muka bumi ini.

Semua orang pada asalnya sama kedudukannya dan memiliki hak-hak dasar kemanusiaan yang sama serta tidak boleh dibedakan.

Mari menengok sejarah bagaimana Bilal bin Rabah, seorang sahabat yang mulia. Beliau adalah mantan budak dan berkulit hitam legam, tetapi kedudukan beliau mulia di antara para sahabat. Beliau telah dipersaksikan masuk surga secara khusus yang belum tentu ada pada semua sahabat lainnya. Beliau juga adalah sayyid para muadzzin dan pengumandang adzan pertama umat Islam.

Allah menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lainnya. Yang membedakan di sisi Allah hanyalah ketakwaannya. Perhatikan ayat berikut:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Al-Hujurat: 13)

Jadi kita diciptakan berbeda-beda suku, ras dan bangsa agar kita saling mengenal. Allah menegaskan setelah ayat ini bahwa yang paling mulia adalah yang paling taqwa.

Alhamdulillah, kita diberi anugrah Islam, walaupun berbeda-beda suku, ras dan bangsa kita semua bersaudara dan disatukan dalam agama Islam. Allah berfirman:

“Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103).

*Ibu Rumah Tangga. Tinggal di Bandung

Comment

Rekomendasi Berita